Minggu, 28 Juli 2013

Surat Dewi Uma Kepada Manikmaya

Suamiku Manikmaya, alias Betara Guru, sang penguasa Kahyangan.

Semua orang tahu kamu tak hanya tampan,
kesaktianmu pun tak ada tandingan.
Musuh-musuhmu selalu dengan mudah kau kalahkan.
Karenanya kau pun jadi pujaan setiap perempuan.

Tapi sungguh, kamu keterlaluan.
Hampir setiap pekan selalu saja punya selingkuhan.
Kau telah membuat hidupku penuh penderitaan.

Wanita manapun tak akan tahan,
punya suami di luar sana hobinya cari selingan.
Berkali-kali ketahuan, dan tak kurang-kurang aku memaafkan.

Saat kau sakit, kau memintaku mencari susu dari seekor lembu hitam.
Aku pun keliling jagat berusaha menemukan.
Sebagai bukti bahwa cintaku tak perlu kau ragukan.

Siang malam tak lelah aku berjalan.
Hingga dalam keputusasaan, kutemukan juga pengembala lembu hitam.
Lembu itu bernama Lembu Andini.
Kepada pengembala itu, perihal sakitmu pun kuceritakan.
Dia pun mau memberikan susu lembu hitam, tapi sayang tidak gratisan.
Tak masalah bagiku, berapapun uang yang harus kubayarkan.
Tapi dia tak minta uang, melainkan minta dibayar badan.
Aku pun nyaris pingsan

Aku sungguh berada dalam dilema.
Jika tak kubayar badan, susu tak kuperoleh, dan kau akan mati.
Jika aku ingin kau tetap hidup, artinya aku akan ternoda.
Ini membuatku perang batin, perang pikiran.

Sebagai keinginanku adalah melihatmu tetap hidup,
dan akhirnya kuserahkan diriku penuh pengorbanan.
Demi mendapatkan susu dari seekor lembu hitam.
Bagaimana mungkin kau sebut ini sebagai penghianatan?

Kau pun lupa daratan.
Tak ingat dari mana kau minum susu lembu hitam
sehingga penyakitmu hilang.
Namun dengan marah kau putuskan aku tanpa ampunan.
Dengan mengasingkanku dalam sebuah hutan Setra Gandamayit,
sebagai hukuman.

Betapa murkanya aku,
ketika kutahu penyakit dan susu lembu hitam itu hanya rekayasamu belaka.
Kau jebak aku, dalam dua pilihan yang membuatku bingung luar biasa.
Pengembala lembu Andini itu ternyata dirimu sendiri.
Itu berarti, anak yang ada dalam kandunganku saat ini adalah anakmu sendiri.
Namun kau bilang ini buah perselingkuhan.

Aku pun terpuruk dalam kesedihan.
Sehingga tak hiraukan anak yang berada dalam kandungan.
Hatiku hancur berantakan.
Bercampur amarah dan dendam.
Berjuta racun dalam dada ini ingin segera kumuntahkan.

Dan kini, aku Dewi Uma yang dulu kau puja-puja,
sekarang telah menjadi Betari Durga.

Fiksi Surat Cinta Kompasiana 13 Agustus 2011 by Hilda W

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate