“Mas, saya mau foto.” suara seorang wanita itu mengagetkanku.
Heran, aku bahkan tak mendengar pintu studioku dibuka. Atau mungkin karena aku yang sedang asyik membaca novel yang berjudul “Aku Mencintai Pribumi” sehingga tak mendengarnya.
“Silakan, Bu.” kataku mempersilahkan perempuan cantik itu sambil mempersiapkan peralatan.
“Saya mau kirim foto-foto ini untuk suami saya. Jadi tolong usahakan yang bagus ya, Mas!” pintanya.
“Saya usahakan,” jawabku
Kemudian aku mengambil beberapa foto dengan gaya yang berbeda. Setelah selesai, kembali aku membereskan peralatan. Ketika aku berbalik ternyata perempuan cantik itu sudah tak ada.
“Lho, kok sudah pergi? Dicetak ukuran berapa ini? Kapan pula diambilnya? Ah, biar sajalah. Dia pasti kembali juga. Biasanya perempuan cantik selalu tak memperhatikan yang begini” kataku dalam hati tak jadi menulis pada nota yang sudah kusiapkan di atas meja. Akhirnya kuputuskan untuk mencetaknya dalam ukuran post card saja.
Seminggu kemudian, perempuan cantik itu datang lagi, setelah melihat hasil potretanku dia merasa puas dan meminta satu foto untuk dicetak ukuran besar.
“Berapa semuanya, Mas?” tanyanya.
“Enam puluh lima ribu rupiah, Bu.” Kataku menyebut jumlah yang harus ia bayar.
“Ini,” katanya sambil menyodorkan uang seratus ribuan. “Ndak usah pake kembalian. Tapi tolong setelah dicetak ukuran besar Anda pasang di depan studio Anda agar semua orang bisa melihatnya.” begitu katanya
“Baik. Terima kasih, Bu.” kataku. Aku langsung ingat pada Mira. Ya, hari ini aku janji akan membayar hutangku. Uang itu pun kumasukkan dalam saku baju. Ku tengok jam menunjukkan pukul sembilan malan. Sebentar lagi sepulang dari café tempatnya bekerja, Mira pasti mampir ke sini.
“Jaka!!!” suara diiringi bunyi derit pintu studio yang terbuka. Ku lempar senyum pada perempuan chubby itu.
“Sudah ada?” tanyanya yang kubalas dengan anggukan sambil merogoh kantung bajuku. Astaga!!! kemana uang tadi. aku yakin tadi kukantongi di saku baju. Ndak mungkin aku lupa pada kejadian yang hanya beberapa menit yang lalu.
“Kenapa?” tanya Mira saat melihatku. “Kalau belum ada, besok-besok saja.” katanya.
“Ada… ada, kok. Tunggu!” akhirnya aku mengambil uang dari laci dan diterima oleh Mira.
Sambil mengunci studo, aku masih tak habis pikir kemana lenyapnya uang itu?
Keesokan harinya, sesuai permintaan perempuan itu fotonya yang ukuran besar kupajang di etalase studio. Wah, cantik sekali. Sebetulnya dia sangat cocok untuk jadi seorang model. Sungguh beruntung suami perempuan ini.
Berhari-hari aku menunggu perempuan cantik itu untuk mengambil fotonya, namun dia tak juga datang. Tapi studioku jadi agak ramai dengan adanya Foto perempuan cantik yang ku pajang di etalase. Ada yang ingin di foto dengan gaya seperti perempuan itu, ada juga yang sekedar menikmati keindahan makhluk ciptaan Tuhan ini.
Tiba-tiba datang seorang pria dengan wajah pucat dan agak gemetar memasuki studioku.
“Permisi, Mas! Saya mau tanya, perempuan yang di foto itu siapa?” tanyanya.
“Maaf, Pak. Saya sendiri juga tidak kenal. Hanya saja beberapa minggu yang lalu dia datang minta difoto. Katanya sih mau dikirim kepada suaminya. Namun sampai sekarang kok belum diambil juga.” kataku menjelaskan.
“Itu foto isteri saya. Beberapa malam dia hadir dalam mimpi saya, meminta saya datang ke studio Anda untuk mengambil fotonya agar kerinduan saya terobati. Ragu-ragu saya melakukannya. namun saya sangat terkejut begitu melihat fotonya terpasang di studio Anda ini.” cerita pria yang mengaku suami perempuan cantik itu.
“O, begitu?! Kalau begitu silakan diambil, pak!” kataku sambil menuju etalase dan menurunkan foto perempuan cantik itu.
“Berapa, Mas?” tanyanya.
“Sudah dibayar, kok.” kataku sambil mengingat bahwa uang foto itu lenyap tanpa ku ketahui kemana.
“Siapa yang membayar?” tanya pria itu heran.
“Ya, istri bapak itu!” jawabku.
“Mas, isteri saya ini sudah meninggal lima tahun yang lalu. Mana mungkin dia membayar Anda.” ucapannya kali ini membuat bulu tengkukku berdiri. Mungkin aku terbelalak saat itu, yang jelas aku shock.
“Isteri saya meninggal saat rumah kami kebakaran tengah malam. Saya sedang tak ada di rumah saat itu. Ketika saya pulang, saya hanya temui puing-puing rumah yang nyaris rata dengan tanah. Jasad isteri saya hangus. Saya menyesal, harusnya saya pulang saja malam itu.” lelak itu terdiam sejenak sambil menarik napas dalam-dalam, terlihat sekali dia sangat menderita.
“Saya terus membayangkan istri saya, saya berharap ini mimpi atau jasad yang ditemukan di rumah itu bukan dia. Saya membayangkan suatu saat dia datang lagi…” pria itu tak meneruskan kalimatnya. Tangannya bergetar saat meraba wajah perempuan di foto itu.
Mana mungkin aku memotret roh? Tapi, mengingat uang itu juga lenyap begitu saja. Dan beberapa foto ukuran post card yang ia lihat sebelum memesan ukuran besar ini ditingalnya begitu saja. Serta kedatangan dan kepergian perempuan itu yang seolah tak pernah ku sadari. Ini gila! Aku berbicara dengan roh? Ah, pria ini mungkin mengada-ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar