Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 5) : Diajak Berjilbab

Sejak itu, aku makin akrab dengan Lusi. Hampir setiap pulang sekolah aku mampir ke rumahnya. Aku pun selalu setia menantinya di depan pagar sekolah, jika dia belum keluar kelas.

Suatu hari sepulang dari majelis taklim Lusi berkata, “Her, kamu cantik dengan kerudungmu.”

“Ah, gombal.” kataku. “Kamu malah, lebih cantik kalau ndak pakai jilbab.” Lusi tak bereaksi.

“Sejak kapan kamu berjilbab, Lus?” tanyaku kemudian.

“Sejak kecil aku biasa pakai jilbab, tapi kalau pergi jalan saja. Namun saat aku mendapat haid pertamaku, ayahku menyuruhku memakai jilbab sebagaimana seorang wanita yang sudah saatnya menutup aurat.” jawabnya.

“Nanti, ah! Kalau sudah lulus aku pakai jilbab juga,”kataku kemudian.

“Kenapa menunggu lulus?” tanya Lusi lagi.

“Belum banyak jilbabku, Lus. Belum banyak pula baju panjangku.” Lusi tersenyum mendengar alasanku.

“Kalau begitu, berhentilah kamu membeli baju dan celana yang tidak mendukung jilbabmu.” katanya lagi. Aku cuma tersenyum kecut. Bagikku, masih sulit untuk menghentikan keinginanku mengikuti mode-mode di televisi.

“Emang, kamu ndak pernah nonton TiVi, Lus? Kamu nggak pengen bergaya seperti anak-anak muda jaman sekarang?” tanyaku ingin tahu.

“Kamu tahu di rumahku tidak ada televisi, kan?” tanya Lusi seolah mengingatkanku.
Aku memanggutkan kepala. “Memangnya kamu nggak kesepian, Lus?” tanyaku lagi. Lusi menggeleng.

“Aku sudah terbiasa tanpa tivi sejak kecil.” katanya.

“Sama sekali kamu tidak pernah menonton film?” tanyaku ingin tahu.

“Pernah,” jawabnya. “Waktu itu, aku kelas tiga SMP. Aku nonton film Barat. Mungkin karena merasa bersalah, habis nonton aku bermimpi ketemu ibuku. Dalam mimpi itu, ibuku menangis sedih. Akhirnya aku pun terbangun dan terus menangis sampai pagi. Sejak itu aku tak pernah lagi.”

Jumat, 04 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 4) : Allah Menguji Kesabaran Setiap Manusia

“Siapa dia, Lus?” tanyaku berbisik.

Lusi tak menjawabku, malah ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.

“Rin, kenalkan. Ini ada Hera, temanku.”kata Lusi padanya.

Perempuan yang dipanggil Rin itu menggerakkan bola matanya ke arahku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumya.

“Maaf, Her. Rina tak bisa banyak bicara. Tubuhnya terlalu lemah.” Lusi menjelaskan.

“Ya,” jawabku mengerti.

Kulihat sekali lagi Rina tersenyum. Sekali lagi aku pun mengangguk ramah.

“Kita ngobrol di luar saja, kalau begitu.” ajakku pada Lusi.

Ketika kami hendak beranjak pergi, tangan Lusi ditarik Rina.

“Kamu tak terganggu kalau kami ngobrol di sini, Rin?” tanya Lusi seperti mengerti maksud Rina. Rina mengangguk.

“Sepertinya kita ngobrol di sini saja.” kata Lusi selanjutnya.

Lusi duduk di pinggir ranjang, dekat kaki Rina. dan aku mengambil kursi, duduk dekat meja yang hampir berdempet dengan ranjang. Kami ngobrol banyak siang itu. Rina tak banyak bicara, kalau pun bicara suaranya lemah sekali. Sedang aku dan Lusi bergantian bicara.

Menurut diagnosa dokter, Rina sedang menderita kanker usus. Usianya baru dua puluh tahun. Dia seorang mahasiswa. Empat hari yang lalu ia keluar dari Rumah Sakit. Dokter angkat tangan terhadap penyakitnya. Saat ini, Rina sedang menunggu orang tuanya yang akan menjemputnya pulang ke Sumatra, kampung halamannya. Sekitar pukul sebelas siang, akhirnya aku pamit.

“Jadi, besok kamu belum turun?” tanyaku pada Lusi.

“Sepertinya belum. Karena besok tanteku baru tiba. Tak mungkin aku meninggalkan mereka.” jawab Lusi.

“Aku akan sempatkan mampir lagi,”kataku.

“Lho, kamu bilang ndak suka maem pir.” balas Lusi.

“Oh, ya. Kalau begitu sediakan bakso untukku besok, ya?!” kataku tak mau kalah.

Sepanjang perjalanan pulang aku pun berfikir bahwa masih banyak orang yang sebetulnya mendapat cobaan lebih berat dariku. Masa, aku yang hanya dihina karena tompel besar ini, harus murung? Marah pada Tuhan? Habis kesabaran? Ah, sempit sekali pikiranku selama ini.

Terngiang ucapan Lusi tadi, “Pastilah Tuhan memberiku kebaikan dengan cacat di tanganku ini. Tapi aku belum menyadarinya saat ini. Begitu pun Rani, diberi sakit berat. Allah sedang menguji kesabarannya. Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka Allah akan mengujinya.” 

Lusi pun bercerita bahwa ia pernah mendengar ceramah seorang Ustadzah yang mengisi taklim hari Minggu di Mushola Khadijah, dikisahkan tentang seorang pemuda yang buta, dia menyesali nasibnya yang dilahirkan sebagai orang buta. Hingga suatu saat ia tertangkap pasukan raja kanibal yang mecari pemuda di setiap desa untuk dijadikan santapannya. Saat eksekusi tiba, Raja memeriksa kesehatan setiap pemuda yang akan menjadi korbannya. Akhirnya raja kanibal itu melepaskan pemuda buta itu karena dianggap cacat. Maka selamatlah ia, dan akhirnya pemuda itu pun berbalik mensyukuri kebutaannya. Karena buta, ia terhindar dari raja kanibal. (BERSAMBUNG)

Kamis, 03 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 3) : Merindukan Lusi

Sudah tiga hari aku pulang sekolah tanpa Lusi. Entah kemana anak itu, kok tiba-tiba saja hilang tak ada kabarnya. Ingin rasanya aku bertanya pada salah seorang temannya, namun aku enggan melakukannya.

 LUSI. Tiba-tiba saja aku merindukannya.

Seharian aku memikirkannya, kenapa Lusi tak masuk sekolah? Hari itu hari Rabu, kebetulan kami pulang lebih awal karena ada rapat guru. Aku berencana ke rumah Lusi hari ini.

Rupanya tak terlalu sulit mencari rumah Lusi. Karena, begitu aku tanya pada seorang anak kecil hampir semua orang berebut memberitahuku. Rumah Lusi terlihat teduh. Dindingnya bercat kuning gading, dengan kusen warna coklat tua, tanpa halaman, dengan teras yang hampir rapat dengan jalan umum. Sampai di depan pintu rumahnya kuucap salam. Dari dalam terdengar suara Lusi membalas salamku.

“Akhirnya kamu kesini juga, Her.” sambut Lusi begitu membuka pintu dan melihatku. “Ayo masuk,” lanjutnya.

Di rumah pun Lusi masih mengenakan jilbab panjang sesikunya. dengan baju kurung panjang model sederhana.

“Kenapa kamu nggak sekolah, Lus?” tanyaku setelah kami duduk di ruang tamu.

“Biar kamu mampir,”jawabnya asal.

“Ah, aku ndak suka maem pir, apa lagi baut, paku… aku lebih suka maem bakso, Lus.” jawabku bercanda.
Lusi tertawa.

“Rupanya kamu bisa melucu juga, Her. Kukira kamu itu pemurung,”katanya.

“Begitukah? Kalau begitu tunggu saja, aku akan melamar jadi anggota pelawak.” jawabku.

“Aku senang kamu datang, Her. Aku merasa, kamulah sahabatku yang terbaik.” katanya, sejenak setelah ia berhenti tertawa.

“Orang lain selalu memandang kasihan terhadapku, karena tanganku yang cacat sejak lahir ini. Setiap aku akrab dengan seseorang, biasanya orang itu merasa lebih sempurna dariku sehingga meremehkan kemampuanku. Atau merasa kasihan dengan cacat tubuhku, dan itu membuatku merasa tak berguna.Kamu lain, Her. Kamu kadang tak peduli dengan keadaanku. Tapi, kamu juga menghawatirkan aku. Seperti saat ini, setelah tiga hari aku tak pergi sekolah, kau datang memastikan keberadaanku. Padahal kau belum pernah ke rumahku.” Ucapnya.

“Aku kehilangan kamu, Lus. Habis seminggu ini ndak ada tukang jemputku.” kataku, seketika cubitan kecil mendarat di lenganku.

“Serius, Lus. Kenapa kamu bolos sekolah?” tanyaku serius.
Lusi tersenyum.

“Ada sepupuku, dia datang empat hari yang lalu. Ayo, kukenalkan.” kata lusi sambil mengajakku masuk ke sebuah kamar.

Aku merasa yakin, bahwa ini adalah kamar Lusi. Di dinding kamar itu ada foto Lusi seukuran A3. Kamar yang rapi, ada sebuah meja belajar di pojok tepat di bawah jendela kamar, ada lap top yang sedang menyala diatasnya. Sebelah kiri meja belajar terdapat sebuah tempat tidur, di atasnya seorang wanita bersandar lemah diatas tumpukan bantal. Wanita itu, tubuhnya sangat kurus tertutup selimut, kulitnya pucat, kepalanya ditutup kerudung, matanya cekung. Mirip sebuah tengkorak hidup. Astaghfirullah.

“Siapa dia, Lus?” tanyaku berbisik.

Lusi tak menjawabku, malah ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.
(BERSAMBUNG)


Rabu, 02 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 2) :Lusi

Begitulah hari-hariku, hingga ketika menjelang berakhirnya masa sekolahku di SMA, aku bertemu Lusi. Dia bukan gadis beruntung, dia cacat sejak lahir. Jari-jari tangan kirinya nyaris tidak ada. Dia sekolah di sebuah sekolah swasta bersebelahan dengan sekolahku. Tadinya aku tak mengetahui kalau tangannya cacat. Karena ia selalu sembunyikan di balik kerudung panjangnya.

Pertama kali kami berbincang, berawal saat dia mengejarku, mengambilkan bolpoinku yang terjatuh. Sejak itu kami biasa pulang sama-sama. Kebetulan jalan pulang ke rumah kami searah. Saat pulang sekolah dia selalu menantiku di depan pagar sekolah. Kalau aku pulang duluan, tak pernah aku menunggunya. Kadang keesokan harinya dia akan protes, seperti saat itu.
 

 “Assalamualaikum, Her!” sapanya begitu melihatku.
 

"Wa’alaikum salam,” aku menjawab salamnya.
 

Lusi selalu mengawali dan mengakhiri pertemuan kami dengan mengucap salam. Saat kutanya, kenapa. Dia bilang bahwa salam itu do’a. Kalau dua orang bertemu, yang pertama mengucap assalamu’alaikum, artinya dia berdo’a dengan tulus agar orang yang diberi salam itu selalu dalam keadaan selamat. Begitu pula orang yang menjawab wa’alaikumsalam, artinya dia pun berdo’a agar yang memberinya salam itu selalu dalam keadaan selamat juga.
 

“Kamu kalau pulang duluan ndak pernah nungguin aku, lho.”tegurnya begitu kami berjalan beriringan.
 

Aku tersenyum. “Maaf! Aku harus buru-buru,” alasanku.
 

“Kamu selalu rindu rumah, ya?” candanya.
 

“He-eh,” kataku pula.
 

“Kalau hari Minggu kamu sibuk, Her?” tanyanya.
 

“Kadang-kadang,” kataku.
 

“Kalau tidak sibuk, maukah kau ikut pengajian pagi di Mushola Khadijah?” tanyanya lagi.
 

“Lihat saja nanti,” jawabku tak tertarik.
 

Kulihat Lusi menundukkan kepalanya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya.
 

“Her, maukah kau mampir ke rumahku?” tanyanya lagi.
 

“Kayaknya, lain kali aja deh!” lagi-lagi aku menolak.
 

“Kuharap, lain kali kamu benar-benar akan ke rumahku.” katanya saat hampir sampai gang kecil jalan masuk ke rumah Lusi.
 

“Assalamu’alaikum,” pamitnya
 

“Wa’alaikum salam,” jawabku. 

Sebentar kuhentikan langkah, biasanya sebelum berbelok dia akan membalik badan dan melambaikan tangannya dan kubalas dengan lambaian pula. Begitulah kami hampir setiap hari.
*** 

(BERSAMBUNG)

Selasa, 01 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 1) :Tompel

Aku percaya, bahwa semua yang diluar kuasa manusia adalah dari Tuhan. Kita semua tak pernah bisa memilih siapa orang tua kita, sebagai mana kita tak bisa memilih jasad yang ditempati oleh ruh kita saat ini. Semua itu dari Allah. Semua adalah takdir.

Begitu pun aku. Aku tak pernah meminta Tuhan untuk menempatkan ruhku pada jasadku saat ini. Kulit hitam, rambut keriting, tubuh kurus, ditambah tompel besar warna hitam selebar kepalan tangan di wajahku. Tepatnya dipipi sebelah kiri.

Waktu kecil, aku tumbuh penuh percaya diri. Aku tak pernah menyadari bahwa tanda di muka ini akan membuatku jadi bahan olok-olok diantara teman-teman sebayaku atau pun setiap orang yang tak senang melihatku.

Sebelumnya semua orang tak terlalu memperhatikan tompel dimukaku ini. Namun, saat aku masuk SMP, seorang teman bernama Tina, entah apa masalahnya denganku, hampir setiap bertemu dibuatnya aku malu. Kalau memang dia bermaksud bercanda, pastilah dia melihat reaksiku saat dia mencandai aku. Aku tidak suka. Tapi rupanya, dia mendapat kesenangan tersendiri saat melihat reaksiku menyembunyikan kemarahan.

Jika di sekolah ada Tina, maka di kampung tempat tinggalku ada Yayu. Gadis ini cantik, sangat cantik bahkan. Mudah bergaul, banyak sekali temannya. Namun suatu kebiasaanya jika ia sedang berkumpul dengan teman-temannya, ia akan menjadikan salah seorang sebagai bulan-bulanan. Termasuk aku salah satu yang paling sering menjadi korbannya.

Aku pun mulai menarik diri dari pergaulan. Agar aku tak terlalu banyak sakit hati dengan tingkah laku teman-temanku itu. Pergi ke sekolah, aku sengaja berlambat-lambat, agar aku tiba tepat saat jam pelajaran di mulai. Waktu istirahat, aku lebih banyak bersembunyi di perpustakaan. Saat pulang sekolah, aku berusaha sesegera mungkin sampai ke rumah.  (BERSAMBUNG)

Jumat, 19 Agustus 2011

Perempuan di Studio Foto

“Mas, saya mau foto.” suara seorang wanita itu mengagetkanku.

Heran, aku bahkan tak mendengar pintu studioku dibuka. Atau mungkin karena aku yang sedang asyik membaca novel yang berjudul “Aku Mencintai Pribumi” sehingga tak mendengarnya.

“Silakan, Bu.” kataku mempersilahkan perempuan cantik itu sambil mempersiapkan peralatan.

“Saya mau kirim foto-foto ini untuk suami saya. Jadi tolong usahakan yang bagus ya, Mas!” pintanya.

“Saya usahakan,” jawabku

Kemudian aku mengambil beberapa foto dengan gaya yang berbeda. Setelah selesai, kembali aku membereskan peralatan. Ketika aku berbalik ternyata perempuan cantik itu sudah tak ada.

“Lho, kok sudah pergi? Dicetak ukuran berapa ini? Kapan pula diambilnya? Ah, biar sajalah. Dia pasti kembali juga. Biasanya perempuan cantik selalu tak memperhatikan yang begini” kataku dalam hati tak jadi menulis pada nota yang sudah kusiapkan di atas meja. Akhirnya kuputuskan untuk mencetaknya dalam ukuran post card saja.

Seminggu kemudian, perempuan cantik itu datang lagi, setelah melihat hasil potretanku dia merasa puas dan meminta satu foto untuk dicetak ukuran besar.

“Berapa semuanya, Mas?” tanyanya.

“Enam puluh lima ribu rupiah, Bu.” Kataku menyebut jumlah yang harus ia bayar.

“Ini,” katanya sambil menyodorkan uang seratus ribuan. “Ndak usah pake kembalian. Tapi tolong setelah dicetak ukuran besar Anda pasang di depan studio Anda agar semua orang bisa melihatnya.” begitu katanya

“Baik. Terima kasih, Bu.” kataku. Aku langsung ingat pada Mira. Ya, hari ini aku janji akan membayar hutangku. Uang itu pun kumasukkan dalam saku baju. Ku tengok jam menunjukkan pukul sembilan malan. Sebentar lagi sepulang dari cafĂ© tempatnya bekerja, Mira pasti mampir ke sini.

“Jaka!!!” suara diiringi bunyi derit pintu studio yang terbuka. Ku lempar senyum pada perempuan chubby itu.

“Sudah ada?” tanyanya yang kubalas dengan anggukan sambil merogoh kantung bajuku. Astaga!!! kemana uang tadi. aku yakin tadi kukantongi di saku baju. Ndak mungkin aku lupa pada kejadian yang hanya beberapa menit yang lalu.

“Kenapa?” tanya Mira saat melihatku. “Kalau belum ada, besok-besok saja.” katanya.

“Ada… ada, kok. Tunggu!” akhirnya aku mengambil uang dari laci dan diterima oleh Mira.

Sambil mengunci studo, aku masih tak habis pikir kemana lenyapnya uang itu?

Keesokan harinya, sesuai permintaan perempuan itu fotonya yang ukuran besar kupajang di etalase studio. Wah, cantik sekali. Sebetulnya dia sangat cocok untuk jadi seorang model. Sungguh beruntung suami perempuan ini.

Berhari-hari aku menunggu perempuan cantik itu untuk mengambil fotonya, namun dia tak juga datang. Tapi studioku jadi agak ramai dengan adanya Foto perempuan cantik yang ku pajang di etalase. Ada yang ingin di foto dengan gaya seperti perempuan itu, ada juga yang sekedar menikmati keindahan makhluk ciptaan Tuhan ini.

Tiba-tiba datang seorang pria dengan wajah pucat dan agak gemetar memasuki studioku.

“Permisi, Mas! Saya mau tanya, perempuan yang di foto itu siapa?” tanyanya.

“Maaf, Pak. Saya sendiri juga tidak kenal. Hanya saja beberapa minggu yang lalu dia datang minta difoto. Katanya sih mau dikirim kepada suaminya. Namun sampai sekarang kok belum diambil juga.” kataku menjelaskan.

“Itu foto isteri saya. Beberapa malam dia hadir dalam mimpi saya, meminta saya datang ke studio Anda untuk mengambil fotonya agar kerinduan saya terobati. Ragu-ragu saya melakukannya. namun saya sangat terkejut begitu melihat fotonya terpasang di studio Anda ini.” cerita pria yang mengaku suami perempuan cantik itu.

“O, begitu?! Kalau begitu silakan diambil, pak!” kataku sambil menuju etalase dan menurunkan foto perempuan cantik itu.

“Berapa, Mas?” tanyanya.

“Sudah dibayar, kok.” kataku sambil mengingat bahwa uang foto itu lenyap tanpa ku ketahui kemana.

“Siapa yang membayar?” tanya pria itu heran.

“Ya, istri bapak itu!” jawabku.

“Mas, isteri saya ini sudah meninggal lima tahun yang lalu. Mana mungkin dia membayar Anda.” ucapannya kali ini membuat bulu tengkukku berdiri. Mungkin aku terbelalak saat itu, yang jelas aku shock.

“Isteri saya meninggal saat rumah kami kebakaran tengah malam. Saya sedang tak ada di rumah saat itu. Ketika saya pulang, saya hanya temui puing-puing rumah yang nyaris rata dengan tanah. Jasad isteri saya hangus. Saya menyesal, harusnya saya pulang saja malam itu.” lelak itu terdiam sejenak sambil menarik napas dalam-dalam, terlihat sekali dia sangat menderita.

“Saya terus membayangkan istri saya, saya berharap ini mimpi atau jasad yang ditemukan di rumah itu bukan dia. Saya membayangkan suatu saat dia datang lagi…” pria itu tak meneruskan kalimatnya. Tangannya bergetar saat meraba wajah perempuan di foto itu.

Mana mungkin aku memotret roh? Tapi, mengingat uang itu juga lenyap begitu saja. Dan beberapa foto ukuran post card yang ia lihat sebelum memesan ukuran besar ini ditingalnya begitu saja. Serta kedatangan dan kepergian perempuan itu yang seolah tak pernah ku sadari. Ini gila! Aku berbicara dengan roh? Ah, pria ini mungkin mengada-ada.

Senin, 15 Agustus 2011

Kisah Poligami Sukses

Pada akhirnya Seruni jatuh cinta kepada Karim, lelaki flamboyan keturunan Arab Mataram. Meski ia tahu, hal itu tak seharusnya terjadi.

Karim yang nama lengkapnya Abdul Karim, sudah beristri. Namanya Siti Karimah. Oleh karenanya, ibu mertuanya pernah bilang bahwa Karim dan Karimah (begitu mereka biasa dipanggil) telah dijodohkan terlebih dahulu oleh nama mereka. Seruni menghafal mati kalimat itu karena demikianlah mertuanya sering mengulang-ulang.
Seruni sendiri tak tahu, lebih memihak ke mana mertuanyaitu. Dirinya atau Siti Karimah? Karena, biar begitu seringnya ucapan-ucapan mertuanya itu menyakiti hatinya, namun tak jarang juga ia mendengar mertuanya mengais-ngais kekurangan Karimah.

Sebetulnya, dulu Seruni sempat menolak dan membatalkan pernikahannya dengan Karim. Namun, situasinya saat itu sangat mendesak. Bapak dan adik lelakinya mengusirnya secara halus agar tak lagi tinggal di rumah mereka yang sempit. Toh, Seruni sudah bekerja. Punya penghasilan. Jadi Seruni bisa kost atau kontrak, semacam itulah.
Namun Seruni sudah telanjur merasa diusir. Dibuang atau dicampakkan. Maka, diterimalah pinangan Karim. Lalu mereka dinikahkan oleh seorang Kiyai muda di mesjid sebuah Pondok Pesantren tradisional.

Awal pernikahan mereka disambut baik oleh keluarga Karim. Karimah, isteri Karim, pun wanita yang sangat baik. Super Woman, begitulah Seruni memberi gelar. Karena ia bersedia berbagi suami dengan perempuan lain. Mana ada perempuan di muka bumi ini yang mau dimadu? Mungkin mereka bahkan lebih memilih diracun atau diceraikan dengan hormat.

“Kenapa mbak Karimah mau berbagi suami dengan saya?” suatu ketika pernah Seruni bertanya pada madunya itu. “Apa mbak Karimah sudah ndak cinta sama mas Karim?”
Karimah tersenyum mendengar pertanyaan Seruni. Namun senyum itu kemudian berubah menjadi mendung. Mendung yang Seruni tak pernah tahu apa maknanya.

“Sudahlah dik Seruni, ndak usah dipertanyakan yang seperti itu. Ini semua sudah takdir. Mungkin kita berdua memang sudah dijodohkan sama Yang di Atas untuk saling berbagi.”

“Mbak Karimah, saya minta maaf.” Begitu ucap Seruni.

“Lalu, kamu sendiri kenapa mau dimadu? Kenapa kamu mau menikah dengan pria yang sudah menikah?” pertanyaan Karimah seperti menusuk balik hati Seruni, walau Seruni tahu Karimah tidak bermaksud demikian.

“Entahlah, Mbak. Yang jelas aku tidak tahu harus berlindung pada siapa, saat bapak dan adik lelakiku memintaku untuk meninggalkan rumah. Kalau aku harus kost, aku ndak yakin bakal tahan dengan godaan dalam pergaulan.” Seruni sendiri ragu-ragu dengan alasannya untuk mau dimadu.

“Begitu pun aku, dik. Aku tak tahu apakah Mas Karim bisa menahan godaan di luar sana ketika ia bosan denganku. Makanya, ketika ia meminta ijin untuk menikah denganmu rasanya aku tak perlu berfikir panjang. Daripada dia selingkuh atau menikah diam-diam. Itu akan sangat menyakitkan.” Ucap Karimah selanjutnya.

Jadilah kedua isteri Karim itu bersahabat, saling baku baik.
Dari awal Seruni berjanji akan menjaga perasaan Karimah. Maka, setiap mereka bertemu dan berkumpul bertiga, Seruni lebih memilih menempatkan diri sebagai adik Karim dan menganggap Karimah sebagai Kakak iparnya. Tak pernah ia berusaha menguasai waktu maupun kasih sayang Karim. Melihat sikap Seruni yang tak berusaha menguasai suaminya, Karimah pun berusaha mengimbanginya dengan menganggapnya sebagai adik.

Lain, Seruni, lain Karimah, lain lagi Karim. Dalam usahanya memperlanggeng rumah tangga poligaminya, ia harus jitu membuat berbagai strategi sehingga kedua isterinya merasa paling diutamakan. Merasa paling dicintai. Ia memanggil kedua isterinya dengan panggilan ‘Sayang’, karena kalau dipanggil cinta kok terkesan lebay. Rajin browsing di internet, mencari cara jitu menggombali perempuan. Wal hasil sih emang dapat dibuktikan. Baik Seruni maupun Karimah sama-sama merasa tersanjung bila berdekatan dengan Karim.

Namanya rumah tangga, baik yang monogami maupun yang poligami ya tetep aja ada kerikil-kerikil yang menyertainya. Hal ini juga yang jadi salah satu pedoman Karim bahwa punya isteri dua ada masalahnya, punya istri satu pun juga pasti ada masalah. Kenapa gak sekalian aja punya dua, kalau resikonya sama-sama ada masalah.
Pernah suatu ketika, Karim datang ke rumah Seruni dengan membawa buah durian. Padahal, Seruni tak terlalu suka durian. Namun yang namanya rejeki, pantang ditolak. Setelah habis buah durian mereka lahap, tak lama masuk SMS dari Karimah agar Karim tak lupa membelikan buah duren untuknya. Beruntung bagi Karim tidak tertelan biji duren demi ingat akan kelinglungannya.
Atau pernah suatu kali, sepulang dari kantor Karim bertanya pada karimah apakah ia tak mual-mual lagi?

Karimah yang sudah punya tiga anak jelas menjawabnya dengan mata membesar “Emang, Mas Karim mau aku hamil lagi?!”

Ups!!! Karim menyadari bahwa pertanyaannya salah alamat, harusnya pertanyaan itu untuk Seruni. Mungkin gara-gara sering salah alamat itulah akhirnya Karimah pun tertular ikut hamil.

Begitulah, cinta segitiga itu pun berjalan seperti yang diharapkan Karim. Namun tentu, dijaman seperti ini yang namanya poligami adalah sesuatu yang sangat menarik perhatian pro dan kontra.. Begitu pun mereka, di komplek lingkungan tempat mereka tinggal, banyak yang pro dan kontra. Namun jika melihat kerukunan Karimah dan Seruni, masyarakat pun dengan jujur mengangkat jempol bagi rumah tangga ‘aneh’ tersebut.

Demi melihat kelanggengan rumah tangga ini, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Syari’ah entah apa namanya, mendatangi mereka untuk bersedia membagikan informasi tentang rumah tangga ‘aneh’ ini sebagai bahan skripsinya.
Ada sebuah pertanyaan yang diajukan pada Karimah, sehingga Karimah menjawabnya demikian :

“Saya mencintai suami saya karena Allah, saya juga berusaha menjalani setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya dengan ikhlas. Mas Karim milik Allah, bukan milik saya. Kalau Allah mengambilnya, tak ada yang dapat saya lakukan. Kalaupun saya melarang Mas Karim menikah lagi, saya tidak akan menjamin pernikahan itu tidak akan terjadi suatu saat jika Allah telah mentakdirkan mereka berjodoh.”

“Apakah ibu tidak sakit hati?” Tanya sang mahasiswa.

“Ibarat kita makan suatu makanan, rasa manis dan pahit itu hanya sebatas tenggorokan. Setelah melalui tenggorokan, tak ada lagi rasanya.”
Dengan ekspresi yang tak bisa ditentukan, setelah mendapat informasi yang diperlukan, mahasiswa itu tersenyum dan pamit. Entah apa yang terbersit dalam benaknya. Mungkin do’a : Semoga rumah tangga ‘aneh’ ibu ini langgeng atau Semoga rumah tangga ‘aneh’ ibu ini cepat berakhir.

ENTAHLAH!
Balikpapan, 6 Juli 2011

Senin, 01 Agustus 2011

Anakku Hanya Membela Diri…

  Anak sulungku Rahmah, baru saja lulus SMA. Aku sebagai ibunya yang single parents, sangat ingin dia melanjutkan kuliah. Namun apalah daya, dengan tiga orang adiknya yang masih memerlukan biaya sekolah dan bahkan biaya hidup kami berlima. Rasanya aku tak sanggup memenuhi keinginanku, melihat Rahmah menjadi sarjana. Apalagi aku yang hanya sebagai buruh pabrik tekstil rendahan.
  Bersyukur aku karena Rahmah anak yang penuh pengertian. Sejak menerima ijazah SMA-nya ia bertekad akan membantuku untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Sore itu dia pulang dan membawa kabar bahwa ia telah melamar di sebuah Penyalur Jasa TKI. Demi segera mendapatkan pekerjaan, aku pun merestuinya. Sedangkan yang harus aku perisapkan adalah membayar sejumlah uang untuk membiayai perjalanannya.
Akhirnya aku pun harus hutang ke sana kemari. Karena setelah menjual beberapa barang berharga kami, masih tak juga mencukupi. Namun aku bersyukur, orang yang mengantar Rahmah itu berjanji akan menutupi kekurangan biayanya, yang kelak akan dibayarkan dengan memotongnya dari gaji Rahmah.
  Tak lama, setelah beberapa bulan anakku di training, ada kabar berita bahwa Rahmah akan segera dikirim ke Arab Saudi sebagai pembantu. Senang sekali rasa hati ini. Akhirnya anakku bisa bekerja di Tanah Suci. Tanah penuh berkah Ilahi. Di sana berlaku Hukum Islam, yang bersumber dari hadits dan Al-Qur’an. Tentulah, keadilannya tak perlu diragukan. Aku yakin, Rahmah pasti aman.
  “Mak, doakan saya!” ucap Rahmah sambil mencium tanganku ketika hendak meninggalkan rumah. Aku melihat bening air di kedua matanya yang hampir meleleh, jika tak segera diusap dengan punggung tangan kanannya.
  “Pasti, Nak! Pasti! Doa mamak akan selalu dihiasi oleh namamu.” Ucapku terbata-bata.
  Tak sanggup rasanya aku berpisah darinya. Namun sekali lagi, mendengarnya bekerja di tanah suci, tanah kelahiran Kanjeng Nabi. Tanah yang selama ini hanya bisa kurindui, akan keinginan untuk bisa naik haji. Semoga Rahmah di sana diberkahi dan punya kesempatan untuk berhaji.
  Aku tak bisa mengantar Rahma sampai bandara. Karena itu akan memerlukan lagi biaya. Jadi, biarlah kami berpisah cukup di beranda rumah saja. Aku lepas Rahmah sampai mobil yang ditumpanginya hilang dari pandangan mata.
  Enam bulan Rahmah bekerja. Aku menerima telpon darinya, dia bilang majikannya sangat galak. Nyonya majikannya hampir-hampir tak memberinya waktu untuk istirahat. Jika ia berbuat salah sedikit, paling ringan adalah makian dan bentakan sebagai ganjarannya. Bahkan ia pernah juga disiksa dan tidak diberi makan.
Belum lagi majikan lelakinya, yang hampir-hampir menodainya. Rahmah menangis saat menelponku. Aku juga menangis, tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa bilang, “Bersabarlah, Nak!” Karena saat itu aku mengira setiap pekerjaan pasti ada godaannya.
  Setelah itu, aku tidak mendengar lagi kabar dari Rahmah. Tak ada lagi telepon darinya dan tak ada lagi kiriman uangnya. Aku berusaha mencari berita tentangnya. Aku pergi ke Penyalur Jasa TKI tempat Rahmah dulu mendaftar. Tapi tak seorang pun yang bisa ditanya. Kalau pun ada, orang itu sungguh tidak ramah. Bahkan orang yang dulu mengantar Rahmah ke rumah, kepadaku seolah-olah ia lupa.
  Setelah hampir setahun berlalu, aku membaca di sebuah Surat Kabar tentang Ruyati yang dihukum mati. Dalam Koran itu mencantumkan juga daftar nama orang-orang yang di penjara dan sedang menunggu giliran dieksekusi. Sungguh rasa kejutku bukan kepalang, disitu kutemui nama Rahmah. Lumpuh rasanya seluruh badan. Aku benar-benar tidak percaya.
  Sejak hari itu, hatiku tak pernah tenang. Wajah Rahamah berkelebat terus seolah memohon pertolongan. Entah berapa banyak sudah air mata dan do’a yang kupanjatkan, agar Rahmah bisa selamat dari tiang gantungan. Maafkan mamak, Nak! Hanya ini yang bisa mamak lakukan!
  Sungguh aku takut dianggap tidak beriman. Bukankah di sana berlaku hukum Islam? Bukankah Hukum Islam itu hukum Tuhan! Aku yakin Tuhan itu Maha Adil. Tetapi, bagiku hukuman yang dijatuhkan pada Rahmah ini sungguh-sungguh tak adil.
  Aku tak mengatakan Tuhan tidak adil. Aku hanya bingung. Apakah dalam Hukum Islam, tak ada pembela? Apakah di Arab sana orang-orang kecil tak berhak mendapat pembelaan? Apakah dalam Hukum Islam, qishas tetap berlaku jika pelaku membela diri saat dianiaya? atau mempertahankan kehormatan? Aku yakin, anakku hanya membela dirinya.


Balikpapan, 14 Juli 2011

Translate