Rabu, 02 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 2) :Lusi

Begitulah hari-hariku, hingga ketika menjelang berakhirnya masa sekolahku di SMA, aku bertemu Lusi. Dia bukan gadis beruntung, dia cacat sejak lahir. Jari-jari tangan kirinya nyaris tidak ada. Dia sekolah di sebuah sekolah swasta bersebelahan dengan sekolahku. Tadinya aku tak mengetahui kalau tangannya cacat. Karena ia selalu sembunyikan di balik kerudung panjangnya.

Pertama kali kami berbincang, berawal saat dia mengejarku, mengambilkan bolpoinku yang terjatuh. Sejak itu kami biasa pulang sama-sama. Kebetulan jalan pulang ke rumah kami searah. Saat pulang sekolah dia selalu menantiku di depan pagar sekolah. Kalau aku pulang duluan, tak pernah aku menunggunya. Kadang keesokan harinya dia akan protes, seperti saat itu.
 

 “Assalamualaikum, Her!” sapanya begitu melihatku.
 

"Wa’alaikum salam,” aku menjawab salamnya.
 

Lusi selalu mengawali dan mengakhiri pertemuan kami dengan mengucap salam. Saat kutanya, kenapa. Dia bilang bahwa salam itu do’a. Kalau dua orang bertemu, yang pertama mengucap assalamu’alaikum, artinya dia berdo’a dengan tulus agar orang yang diberi salam itu selalu dalam keadaan selamat. Begitu pula orang yang menjawab wa’alaikumsalam, artinya dia pun berdo’a agar yang memberinya salam itu selalu dalam keadaan selamat juga.
 

“Kamu kalau pulang duluan ndak pernah nungguin aku, lho.”tegurnya begitu kami berjalan beriringan.
 

Aku tersenyum. “Maaf! Aku harus buru-buru,” alasanku.
 

“Kamu selalu rindu rumah, ya?” candanya.
 

“He-eh,” kataku pula.
 

“Kalau hari Minggu kamu sibuk, Her?” tanyanya.
 

“Kadang-kadang,” kataku.
 

“Kalau tidak sibuk, maukah kau ikut pengajian pagi di Mushola Khadijah?” tanyanya lagi.
 

“Lihat saja nanti,” jawabku tak tertarik.
 

Kulihat Lusi menundukkan kepalanya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya.
 

“Her, maukah kau mampir ke rumahku?” tanyanya lagi.
 

“Kayaknya, lain kali aja deh!” lagi-lagi aku menolak.
 

“Kuharap, lain kali kamu benar-benar akan ke rumahku.” katanya saat hampir sampai gang kecil jalan masuk ke rumah Lusi.
 

“Assalamu’alaikum,” pamitnya
 

“Wa’alaikum salam,” jawabku. 

Sebentar kuhentikan langkah, biasanya sebelum berbelok dia akan membalik badan dan melambaikan tangannya dan kubalas dengan lambaian pula. Begitulah kami hampir setiap hari.
*** 

(BERSAMBUNG)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate