Jumat, 04 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 4) : Allah Menguji Kesabaran Setiap Manusia

“Siapa dia, Lus?” tanyaku berbisik.

Lusi tak menjawabku, malah ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.

“Rin, kenalkan. Ini ada Hera, temanku.”kata Lusi padanya.

Perempuan yang dipanggil Rin itu menggerakkan bola matanya ke arahku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumya.

“Maaf, Her. Rina tak bisa banyak bicara. Tubuhnya terlalu lemah.” Lusi menjelaskan.

“Ya,” jawabku mengerti.

Kulihat sekali lagi Rina tersenyum. Sekali lagi aku pun mengangguk ramah.

“Kita ngobrol di luar saja, kalau begitu.” ajakku pada Lusi.

Ketika kami hendak beranjak pergi, tangan Lusi ditarik Rina.

“Kamu tak terganggu kalau kami ngobrol di sini, Rin?” tanya Lusi seperti mengerti maksud Rina. Rina mengangguk.

“Sepertinya kita ngobrol di sini saja.” kata Lusi selanjutnya.

Lusi duduk di pinggir ranjang, dekat kaki Rina. dan aku mengambil kursi, duduk dekat meja yang hampir berdempet dengan ranjang. Kami ngobrol banyak siang itu. Rina tak banyak bicara, kalau pun bicara suaranya lemah sekali. Sedang aku dan Lusi bergantian bicara.

Menurut diagnosa dokter, Rina sedang menderita kanker usus. Usianya baru dua puluh tahun. Dia seorang mahasiswa. Empat hari yang lalu ia keluar dari Rumah Sakit. Dokter angkat tangan terhadap penyakitnya. Saat ini, Rina sedang menunggu orang tuanya yang akan menjemputnya pulang ke Sumatra, kampung halamannya. Sekitar pukul sebelas siang, akhirnya aku pamit.

“Jadi, besok kamu belum turun?” tanyaku pada Lusi.

“Sepertinya belum. Karena besok tanteku baru tiba. Tak mungkin aku meninggalkan mereka.” jawab Lusi.

“Aku akan sempatkan mampir lagi,”kataku.

“Lho, kamu bilang ndak suka maem pir.” balas Lusi.

“Oh, ya. Kalau begitu sediakan bakso untukku besok, ya?!” kataku tak mau kalah.

Sepanjang perjalanan pulang aku pun berfikir bahwa masih banyak orang yang sebetulnya mendapat cobaan lebih berat dariku. Masa, aku yang hanya dihina karena tompel besar ini, harus murung? Marah pada Tuhan? Habis kesabaran? Ah, sempit sekali pikiranku selama ini.

Terngiang ucapan Lusi tadi, “Pastilah Tuhan memberiku kebaikan dengan cacat di tanganku ini. Tapi aku belum menyadarinya saat ini. Begitu pun Rani, diberi sakit berat. Allah sedang menguji kesabarannya. Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka Allah akan mengujinya.” 

Lusi pun bercerita bahwa ia pernah mendengar ceramah seorang Ustadzah yang mengisi taklim hari Minggu di Mushola Khadijah, dikisahkan tentang seorang pemuda yang buta, dia menyesali nasibnya yang dilahirkan sebagai orang buta. Hingga suatu saat ia tertangkap pasukan raja kanibal yang mecari pemuda di setiap desa untuk dijadikan santapannya. Saat eksekusi tiba, Raja memeriksa kesehatan setiap pemuda yang akan menjadi korbannya. Akhirnya raja kanibal itu melepaskan pemuda buta itu karena dianggap cacat. Maka selamatlah ia, dan akhirnya pemuda itu pun berbalik mensyukuri kebutaannya. Karena buta, ia terhindar dari raja kanibal. (BERSAMBUNG)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate