Kamis, 03 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 3) : Merindukan Lusi

Sudah tiga hari aku pulang sekolah tanpa Lusi. Entah kemana anak itu, kok tiba-tiba saja hilang tak ada kabarnya. Ingin rasanya aku bertanya pada salah seorang temannya, namun aku enggan melakukannya.

 LUSI. Tiba-tiba saja aku merindukannya.

Seharian aku memikirkannya, kenapa Lusi tak masuk sekolah? Hari itu hari Rabu, kebetulan kami pulang lebih awal karena ada rapat guru. Aku berencana ke rumah Lusi hari ini.

Rupanya tak terlalu sulit mencari rumah Lusi. Karena, begitu aku tanya pada seorang anak kecil hampir semua orang berebut memberitahuku. Rumah Lusi terlihat teduh. Dindingnya bercat kuning gading, dengan kusen warna coklat tua, tanpa halaman, dengan teras yang hampir rapat dengan jalan umum. Sampai di depan pintu rumahnya kuucap salam. Dari dalam terdengar suara Lusi membalas salamku.

“Akhirnya kamu kesini juga, Her.” sambut Lusi begitu membuka pintu dan melihatku. “Ayo masuk,” lanjutnya.

Di rumah pun Lusi masih mengenakan jilbab panjang sesikunya. dengan baju kurung panjang model sederhana.

“Kenapa kamu nggak sekolah, Lus?” tanyaku setelah kami duduk di ruang tamu.

“Biar kamu mampir,”jawabnya asal.

“Ah, aku ndak suka maem pir, apa lagi baut, paku… aku lebih suka maem bakso, Lus.” jawabku bercanda.
Lusi tertawa.

“Rupanya kamu bisa melucu juga, Her. Kukira kamu itu pemurung,”katanya.

“Begitukah? Kalau begitu tunggu saja, aku akan melamar jadi anggota pelawak.” jawabku.

“Aku senang kamu datang, Her. Aku merasa, kamulah sahabatku yang terbaik.” katanya, sejenak setelah ia berhenti tertawa.

“Orang lain selalu memandang kasihan terhadapku, karena tanganku yang cacat sejak lahir ini. Setiap aku akrab dengan seseorang, biasanya orang itu merasa lebih sempurna dariku sehingga meremehkan kemampuanku. Atau merasa kasihan dengan cacat tubuhku, dan itu membuatku merasa tak berguna.Kamu lain, Her. Kamu kadang tak peduli dengan keadaanku. Tapi, kamu juga menghawatirkan aku. Seperti saat ini, setelah tiga hari aku tak pergi sekolah, kau datang memastikan keberadaanku. Padahal kau belum pernah ke rumahku.” Ucapnya.

“Aku kehilangan kamu, Lus. Habis seminggu ini ndak ada tukang jemputku.” kataku, seketika cubitan kecil mendarat di lenganku.

“Serius, Lus. Kenapa kamu bolos sekolah?” tanyaku serius.
Lusi tersenyum.

“Ada sepupuku, dia datang empat hari yang lalu. Ayo, kukenalkan.” kata lusi sambil mengajakku masuk ke sebuah kamar.

Aku merasa yakin, bahwa ini adalah kamar Lusi. Di dinding kamar itu ada foto Lusi seukuran A3. Kamar yang rapi, ada sebuah meja belajar di pojok tepat di bawah jendela kamar, ada lap top yang sedang menyala diatasnya. Sebelah kiri meja belajar terdapat sebuah tempat tidur, di atasnya seorang wanita bersandar lemah diatas tumpukan bantal. Wanita itu, tubuhnya sangat kurus tertutup selimut, kulitnya pucat, kepalanya ditutup kerudung, matanya cekung. Mirip sebuah tengkorak hidup. Astaghfirullah.

“Siapa dia, Lus?” tanyaku berbisik.

Lusi tak menjawabku, malah ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.
(BERSAMBUNG)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate