Senin, 15 Agustus 2011

Kisah Poligami Sukses

Pada akhirnya Seruni jatuh cinta kepada Karim, lelaki flamboyan keturunan Arab Mataram. Meski ia tahu, hal itu tak seharusnya terjadi.

Karim yang nama lengkapnya Abdul Karim, sudah beristri. Namanya Siti Karimah. Oleh karenanya, ibu mertuanya pernah bilang bahwa Karim dan Karimah (begitu mereka biasa dipanggil) telah dijodohkan terlebih dahulu oleh nama mereka. Seruni menghafal mati kalimat itu karena demikianlah mertuanya sering mengulang-ulang.
Seruni sendiri tak tahu, lebih memihak ke mana mertuanyaitu. Dirinya atau Siti Karimah? Karena, biar begitu seringnya ucapan-ucapan mertuanya itu menyakiti hatinya, namun tak jarang juga ia mendengar mertuanya mengais-ngais kekurangan Karimah.

Sebetulnya, dulu Seruni sempat menolak dan membatalkan pernikahannya dengan Karim. Namun, situasinya saat itu sangat mendesak. Bapak dan adik lelakinya mengusirnya secara halus agar tak lagi tinggal di rumah mereka yang sempit. Toh, Seruni sudah bekerja. Punya penghasilan. Jadi Seruni bisa kost atau kontrak, semacam itulah.
Namun Seruni sudah telanjur merasa diusir. Dibuang atau dicampakkan. Maka, diterimalah pinangan Karim. Lalu mereka dinikahkan oleh seorang Kiyai muda di mesjid sebuah Pondok Pesantren tradisional.

Awal pernikahan mereka disambut baik oleh keluarga Karim. Karimah, isteri Karim, pun wanita yang sangat baik. Super Woman, begitulah Seruni memberi gelar. Karena ia bersedia berbagi suami dengan perempuan lain. Mana ada perempuan di muka bumi ini yang mau dimadu? Mungkin mereka bahkan lebih memilih diracun atau diceraikan dengan hormat.

“Kenapa mbak Karimah mau berbagi suami dengan saya?” suatu ketika pernah Seruni bertanya pada madunya itu. “Apa mbak Karimah sudah ndak cinta sama mas Karim?”
Karimah tersenyum mendengar pertanyaan Seruni. Namun senyum itu kemudian berubah menjadi mendung. Mendung yang Seruni tak pernah tahu apa maknanya.

“Sudahlah dik Seruni, ndak usah dipertanyakan yang seperti itu. Ini semua sudah takdir. Mungkin kita berdua memang sudah dijodohkan sama Yang di Atas untuk saling berbagi.”

“Mbak Karimah, saya minta maaf.” Begitu ucap Seruni.

“Lalu, kamu sendiri kenapa mau dimadu? Kenapa kamu mau menikah dengan pria yang sudah menikah?” pertanyaan Karimah seperti menusuk balik hati Seruni, walau Seruni tahu Karimah tidak bermaksud demikian.

“Entahlah, Mbak. Yang jelas aku tidak tahu harus berlindung pada siapa, saat bapak dan adik lelakiku memintaku untuk meninggalkan rumah. Kalau aku harus kost, aku ndak yakin bakal tahan dengan godaan dalam pergaulan.” Seruni sendiri ragu-ragu dengan alasannya untuk mau dimadu.

“Begitu pun aku, dik. Aku tak tahu apakah Mas Karim bisa menahan godaan di luar sana ketika ia bosan denganku. Makanya, ketika ia meminta ijin untuk menikah denganmu rasanya aku tak perlu berfikir panjang. Daripada dia selingkuh atau menikah diam-diam. Itu akan sangat menyakitkan.” Ucap Karimah selanjutnya.

Jadilah kedua isteri Karim itu bersahabat, saling baku baik.
Dari awal Seruni berjanji akan menjaga perasaan Karimah. Maka, setiap mereka bertemu dan berkumpul bertiga, Seruni lebih memilih menempatkan diri sebagai adik Karim dan menganggap Karimah sebagai Kakak iparnya. Tak pernah ia berusaha menguasai waktu maupun kasih sayang Karim. Melihat sikap Seruni yang tak berusaha menguasai suaminya, Karimah pun berusaha mengimbanginya dengan menganggapnya sebagai adik.

Lain, Seruni, lain Karimah, lain lagi Karim. Dalam usahanya memperlanggeng rumah tangga poligaminya, ia harus jitu membuat berbagai strategi sehingga kedua isterinya merasa paling diutamakan. Merasa paling dicintai. Ia memanggil kedua isterinya dengan panggilan ‘Sayang’, karena kalau dipanggil cinta kok terkesan lebay. Rajin browsing di internet, mencari cara jitu menggombali perempuan. Wal hasil sih emang dapat dibuktikan. Baik Seruni maupun Karimah sama-sama merasa tersanjung bila berdekatan dengan Karim.

Namanya rumah tangga, baik yang monogami maupun yang poligami ya tetep aja ada kerikil-kerikil yang menyertainya. Hal ini juga yang jadi salah satu pedoman Karim bahwa punya isteri dua ada masalahnya, punya istri satu pun juga pasti ada masalah. Kenapa gak sekalian aja punya dua, kalau resikonya sama-sama ada masalah.
Pernah suatu ketika, Karim datang ke rumah Seruni dengan membawa buah durian. Padahal, Seruni tak terlalu suka durian. Namun yang namanya rejeki, pantang ditolak. Setelah habis buah durian mereka lahap, tak lama masuk SMS dari Karimah agar Karim tak lupa membelikan buah duren untuknya. Beruntung bagi Karim tidak tertelan biji duren demi ingat akan kelinglungannya.
Atau pernah suatu kali, sepulang dari kantor Karim bertanya pada karimah apakah ia tak mual-mual lagi?

Karimah yang sudah punya tiga anak jelas menjawabnya dengan mata membesar “Emang, Mas Karim mau aku hamil lagi?!”

Ups!!! Karim menyadari bahwa pertanyaannya salah alamat, harusnya pertanyaan itu untuk Seruni. Mungkin gara-gara sering salah alamat itulah akhirnya Karimah pun tertular ikut hamil.

Begitulah, cinta segitiga itu pun berjalan seperti yang diharapkan Karim. Namun tentu, dijaman seperti ini yang namanya poligami adalah sesuatu yang sangat menarik perhatian pro dan kontra.. Begitu pun mereka, di komplek lingkungan tempat mereka tinggal, banyak yang pro dan kontra. Namun jika melihat kerukunan Karimah dan Seruni, masyarakat pun dengan jujur mengangkat jempol bagi rumah tangga ‘aneh’ tersebut.

Demi melihat kelanggengan rumah tangga ini, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Syari’ah entah apa namanya, mendatangi mereka untuk bersedia membagikan informasi tentang rumah tangga ‘aneh’ ini sebagai bahan skripsinya.
Ada sebuah pertanyaan yang diajukan pada Karimah, sehingga Karimah menjawabnya demikian :

“Saya mencintai suami saya karena Allah, saya juga berusaha menjalani setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya dengan ikhlas. Mas Karim milik Allah, bukan milik saya. Kalau Allah mengambilnya, tak ada yang dapat saya lakukan. Kalaupun saya melarang Mas Karim menikah lagi, saya tidak akan menjamin pernikahan itu tidak akan terjadi suatu saat jika Allah telah mentakdirkan mereka berjodoh.”

“Apakah ibu tidak sakit hati?” Tanya sang mahasiswa.

“Ibarat kita makan suatu makanan, rasa manis dan pahit itu hanya sebatas tenggorokan. Setelah melalui tenggorokan, tak ada lagi rasanya.”
Dengan ekspresi yang tak bisa ditentukan, setelah mendapat informasi yang diperlukan, mahasiswa itu tersenyum dan pamit. Entah apa yang terbersit dalam benaknya. Mungkin do’a : Semoga rumah tangga ‘aneh’ ibu ini langgeng atau Semoga rumah tangga ‘aneh’ ibu ini cepat berakhir.

ENTAHLAH!
Balikpapan, 6 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate