Minggu, 22 Oktober 2017

Ketika dalam Ujian

Belum lama sembuh dari DB, kini sulung saya sakit lagi. Hasil tes darah menunjukkan kalo sel darah putihnya berlebihan sedang sel darah merah kurang.
Keluhannya sebentar demam sebentar normal. Suhu badannya naik turun. Setiap kali makan atau minum, setiap kali itu pula muntah.
Gak bisa tidur. "Kakak, khawatir mik..." keluhnya. "Khawatir kalau harus bermalam lagi di rumah sakit. Sangat nggak enak."

Sejak kecil, sepertinya sulung saya ini anak yang paling sering sakit. Pernah menderita ISPA, sering mimisan, alergi...

Keresahan saya, tadi malam saya limpahkan semua pada suami. Dan saya bermaksud membawanya kembali untuk tinggal bersama-sama lagi.
"Sudah, biar saja gak usah sekolah jauh-jauh dulu. Biarkan dia pulang, sampai benar-benar sehat. Kalau Allah ijinkan dia sampai ke Madinah, sekolah di mana pun ia akan sampai ke Madinah."

Tiba-tiba, jawaban balik suami ini bikin saya tak berkutik. Menyesal telah banyak berkata-kata seolah tak percaya bahwa Alloh yang mengurus semua.
"Coba ummi ingat, kakak itu lebih banyak sakitnya atau lebih banyak sehatnya? Memang dia sering sakit, tapi bukankah dia lebih sering sehat?"
Saya terdiam.
"Masalahnya, karena kakak sakit dan jauh dari kita. Tapi, bukankan ini yang seharusnya membuat kita lebih mendekatkan diri pada yang memberi sakit dan yang memberi sehat?"

Sambil diterapi suami malam itu, karena saya sendiri sedang terganggu kesehatan, saya beristighfar banyak banyak. Mungkin, sakit ini adalah salah satu peringatan dari Allah akibat kurang bersyukurnya saya.
Sungguh, bersyukur ketika dalam kelapangan itu mungkin lebih mudah dari pada bersyukur ketika dalam kesempitan.
Astaghfirullooh wa atuubuh ilaih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate