Dia mengeluarkan motor dari rumahnya. Pintu dibiarkan terbuka. Dia menyalakan motor untuk memanaskan mesin. Nampak anak sekolah berlewatan di depan rumahnya.
Pikirannya masih gundah setelah menemukan sebuah nama di grup WA alumni sekolahnya. Nama yang memaksa dirinya untuk bertempur. Tapi bukan melawan musuh. Dan bukan pertempuran bersenjata. Tapi bertempur melawan rasa yang ada di dada. Rasa yang bangkit kembali setelah 20 tahun mati. Rupanya rasa itu tak mati. Hanya bersembunyi di sela-sela putaran roda kehidupan.
Hatinya sibuk menghadang rasa itu. Tapi dia tak mampu. Pertempuran berjalan seimbang.
Istrinya keluar bersama dua anaknya yang siap berangkat sekolah. Satu bercelana panjang merah, satu lagi bercelana panjang biru.
Suara anaknya menyadarkan lamunannya. Keduanya naik ke jok belakang motor. Istrinya yang cantik dan semampai, anggun dengan jilbab lebarnya, melepas di depan pintu.
Dia memasukkan motornya ke rumah. Kedua anaknya yang berusia 3 dan 4 tahun sudah rapi dan wangi, bermain di teras rumah. Masuk ke rumah, dia mencium aroma sarapan yang membuat perut lapar.
Cantik, solehah, dan pandai masak. Kombinasi idaman bagi lelaki yang mencari istri.
Dia segera menuju meja makan. Ditemani oleh istrinya tanpa jilbab lebarnya.
Duduk di meja makan sambil tersenyum.
Istrinya cantik, solehah dan pandai masak. Pandai mengatur rumah.
Tapi mengapa rasa yang telah terkubur tetap memaksa bangkit?
Ataukah memang ini fitrah lelaki yang bisa menampung lebih dari satu cinta dalam hatinya?
Apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi seperti ini?
-------------------
Rasa itu masih menggoda hatinya. Mengetuk pintu rumah hatinya yang sudah berpenghuni.
Tapi dia ingat, bahwa rumah hatinya tidak hanya bisa dihuni sendirian. Masih bisa dihuni oleh cinta yang lain. Hatinya bukan kamar apartemen studio yang hanya bisa dihuni oleh 1 penghuni.
Dia tersenyum lebar. Kegundahan hatinya akan segera hilang. Sebagaimana malam hilang saat matahari terbit. Seperti banjir bandang yang surut.
Bagaimana tidak hilang gundahnya, dan berganti dengan rasa gembira yang luar biasa. Karena rumah hatinya akan memiliki penghuni baru.
Dia membayangkan indahnya hidup bersama dua bidadari dunia, yang akan membuat hidupnya lebih berwarna. Hidup menjadi indah dengan satu bidadari. Apalagi ditambah satu lagi.
Tapi kegembiraan itu tak berumur panjang. Dia mengerutkan dahinya kembali. Duduk terkulai lemas di kursi. Dan gundahnya datang kembali.
Karena ternyata si dia sudah bersuami.
-------------------------------
Saat itulah setan datang menggoda. Agar dia tetap mengejar cintanya meski si dia sudah bersuami.
Setan tahu bahwa si dia punya WA juga. Maka setan menggodanya untuk tetap merebutnya dengan berbagai cara.
Si dia juga punya WA, punya FB, berarti kesempatan untuk merebut masih ada. Begitu setan menggodanya.
Setan tak hanya memotivasi agar tetap mengejar. Seolah hanya dia saja perempuan di jagad ini. Padahal dia sudah punya bidadari. Tapi memang dasar setan, memang tugasnya menggoda dan mengganggu. Tugasnya mengajak agar manusia terjerumus kepada maksiat.
Lihat FB nya, pertama kasih like dulu di statusnya. Lalu perhatikan statusnya, pasti ada yang mengandung curhat. Kalo sudah curhat, tandanya kamu bisa masuk. Begitu kata setan.
Kasih perhatian lebih, siapa tahu dia kurang perhatian. Batu yang keras akan kalah oleh tetesan air yang terus menerus. Teruslah dan jangan menyerah. Dia layak untuk dikejar, demi cinta yang memburu di dada. Agar gundahmu segera hilang, diganti dengan bahagia dengan dua bidadari. Setan terus membisikkan gangguannya.
Tapi setan menggoda orang yang salah. Dia tidak segera mengikuti godaan setan. Dia masih bisa berpikir. Allah masih menjaganya.
Dia teringat dosa, dia tidak mau menambah gundahnya. Karena dosa juga membuat gundah. Bisa dua kali lipat gundahnya.
Dia teringat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang melarang takhbib, yaitu merusak hubungan rumah tangga orang, mempengaruhi istri agar cerai dari suami.
Dia tidak mau menambah dosa.
Tak mengapa dia menanggung gundah daripada menanggung dosa takhbib.
Kasihan si suami merana jika istrinya minta cerai gara-gara dia. Kasihan rumah tangganya. Kasihan anak-anaknya.
Dan yang pasti, Allah nanti akan murka. Jika Allah murka bisa jadi nanti semuanya bubar.
Biarlah gundah ini dia rasakan sendiri. Dia lawan sendiri. Lebih baik bergulat dengan gundah, daripada bergelimang dosa.
Tapi sampai kapan harus bergulat melawan gundah?
Berapa lama lagi ..?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar