Suatu hari, saya dikejutkan dengan permintaan putra ke tiga saya. Permintaan itu adalah TAK MAU SEKOLAH.
Kebetulan, kami baru saja pindahan dari Balikpapan ke Samarinda. Saya melihat dia sangat antusias saat kami mulai berkemas. Pindah mendadak, sebab ada sebuah sekolah yang memerlukan tenaga saya di sana. Berita itu hari Jumat saya terima, dan perintahnya, hari Ahad sudah ada di sana sebab Senin sudah mulai tahun ajaran baru.
Sampai di Samarinda, kami mulai mencari sekolah untuk Hilal, putra ke tiga saya. Tiba-tiba dia memohon : 'Ummi, mas tak nak sekolah."
"Lho...?!" saya menanggapinya sambil lalu saja. Saya mengira ia hanya bosan dan masih ingin menikmati libur panjangnya.
Hari berikutnya, abinya mulai membicarakan kembali tentang sekolahnya. Rupanya dia menyimak, tak pergi main seperti biasa.
Suatu malam, dia bilang; "Ummi, mas mau jadi kecil lagi. Biar bisa bobok sama ummi."
Saya tertawa mendengar ucapannya.
Lalu, "Ummi, mas ndak mau sekolah. Biar mas di rumah saja. untuk belajar membaca Al-Qur'an saja."
"Begitu, ya?" saya bergumam
"Iya." jawabnya
"Mas punya cita-cita?" tanya saya.
"Punya, dong."
"Apa cita-citanya."
"Jadi marbot," jawabnya sambil tersenyum.
Saya terdiam. Cita-cita yang tak memerlukan ijasah tinggi. Saya mulai menghubungkan beberapa kali keinginanannya untuk berhenti sekolah. Mungkin ia serius.
Sebetulnya Hilal anak yang cukup cerdas. Sebab selama ini ia selalu masuk lima besar di kelasnya.
Sepertinya dia sangat menyadari bahwa kemampuannya tak seperti kedua kakaknya. Namun, apakah harus berhenti belajar?
Marbot adalah cita-cita luar biasa. Malam itu, saya pandangi Hilal yang tengah tidur pulas.
Maa Syaa Allooh... Anak yang baru berusia sepuluh tahun, tahu pekerjaan yang bisa mendekatkan dirinya dengan Alloh.
Saya bukan ibu yang mewajibkan anaknya untuk belajar ilmu umum atau ilmu fardhu kifayah. Saya hanya ingin anak-anak mempelajari ilmu yang bersifat fardhu 'ain. Ilmu yang lebih diwajibkan untuk dipelajari sebagai bekal di kehidupan mendatang.
***
Suatu sore bersama Hilal, saya memulai pembicaraan lagi tentang cita-citanya.
"Bener, mas ingin jadi marbot?"
"Iya." ucapnya
"Ingin jadi marbot. Bukan berarti mas harus berhenti belajar, bukan?"
"Tapi mas tak suka sekolah."
"Jadi marbot juga harus tahu hukum Alloh, kan?"
Hilal terdiam
"Bagaimana, Mas?" tanya saya lagi.
"Mas mau ngaji, di TPA. Mas gak mau belajar IPA. Mas cuma suka matematika saja."
"Kalau masuk Rumah Qur'an, bagaimana?"
"Belajar Qur'an saja?" dia balik bertanya
"Insya Alloh." jawab saya.
"Tapi coba dulu ya, Mi? Satu minggu." katanya
"Lho, kalo mau coba ya harus satu tahun." saya mencandainya.
"Kalau gak tahan, bagaimana?"
"Ya, ditahan." jawab saya
Senin tanggal 1 Agustus, Hilal diantar ke Rumah Qur'an di M Yamin Samarinda. Untuk menjempun cita-citanya sebagai marbot.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar