Siang itu, saatnya anak-anak mengambil wudhu untuk sholat dhuhur. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Berharap anak-anak berteduh di area tempat wudhu mesjid hingga hujan reda.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja mereka berlarian dibawah hujan deras. Suara teriakan saya meminta mereka berteduh tak terdengar, tak mampu bersaing dengan gemuruh suara hujan. Dan anak-anak dengan bebas sebebas-bebasnya berlari melompat menghadang hujan. Dan, seketika mereka pun basah kuyub sambil tertawa bebas.
Saya langsung lunglai, gak mungkin anak-anak sholat dhuhur dengan baju basah kuyub sedemikian. Malah bikin kotor masjid, itu pasti.
Geram, tapi apa mau dikata. Naluri anak-anak melihat hujan ya langsung main hujan. Yang kami khawatirkan bias jadi diantara mereka tidak tahan dingin yang malah membuat mereka masuk angin. Akhirnya, saya kirim pesan pada orang tua murid satu per satu agar segera menjemput putra putrinya.
Dengan sabar saya menunggu satu per satu murid dijemput sambil memohon maaf pada orang tua atas kejadian yang tak sanggup saya cegah hari itu. Alhamdulillah, semua orang tua memaklumi keadaan ini.
Dua krucil saya terlihat keluar dari mesjid, Alhamdulillah mereka tidak main hujan seperti yang lain. Setelah seluruh murid pulang, saya pun beranjak pulang. Saat melalui parit kecil yang memisahkan antara sekolah dan kebun, kepala saya langsung cenut-cenut. Dua krucil saya memang tak sedang bermain hujan sebab hujan pun telah reda, mereka berdua sedang berendam di parit penuh lumpur itu.
Sudah tak ada tenaga saya lagi untuk ngomel. Saya hanya member isyarat agar mereka segera naik, lalu memandikannya. Masih dengan diam saya menyiapkan tempat tidur mereka, tanpa disuruh pun kedua krucil seperti mengerti apa yang saya inginkan. Tidur.
Terimakasih telah membaca cerita saya
salam senyum
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja mereka berlarian dibawah hujan deras. Suara teriakan saya meminta mereka berteduh tak terdengar, tak mampu bersaing dengan gemuruh suara hujan. Dan anak-anak dengan bebas sebebas-bebasnya berlari melompat menghadang hujan. Dan, seketika mereka pun basah kuyub sambil tertawa bebas.
Saya langsung lunglai, gak mungkin anak-anak sholat dhuhur dengan baju basah kuyub sedemikian. Malah bikin kotor masjid, itu pasti.
Geram, tapi apa mau dikata. Naluri anak-anak melihat hujan ya langsung main hujan. Yang kami khawatirkan bias jadi diantara mereka tidak tahan dingin yang malah membuat mereka masuk angin. Akhirnya, saya kirim pesan pada orang tua murid satu per satu agar segera menjemput putra putrinya.
Dengan sabar saya menunggu satu per satu murid dijemput sambil memohon maaf pada orang tua atas kejadian yang tak sanggup saya cegah hari itu. Alhamdulillah, semua orang tua memaklumi keadaan ini.
Dua krucil saya terlihat keluar dari mesjid, Alhamdulillah mereka tidak main hujan seperti yang lain. Setelah seluruh murid pulang, saya pun beranjak pulang. Saat melalui parit kecil yang memisahkan antara sekolah dan kebun, kepala saya langsung cenut-cenut. Dua krucil saya memang tak sedang bermain hujan sebab hujan pun telah reda, mereka berdua sedang berendam di parit penuh lumpur itu.
Sudah tak ada tenaga saya lagi untuk ngomel. Saya hanya member isyarat agar mereka segera naik, lalu memandikannya. Masih dengan diam saya menyiapkan tempat tidur mereka, tanpa disuruh pun kedua krucil seperti mengerti apa yang saya inginkan. Tidur.
Terimakasih telah membaca cerita saya
salam senyum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar