Sekitar dua minggu yang lalu. Kami diundang makan malam sama tetangga. Menunya coto makasar. Enak memang. Tapi, saya selalu diingatkan dengan usia. Wes luwih tekan petangpuluh. Alhamdulillah sih, belum pernah (dan jangan sampai) yang sakit sampai serius.
Akhirnya saya makan sedikit saja, mengambil sekitar dua potong daging dan bener-bener menghindari jerohan (padahal nikmatnya coto makassar ya pada jerohannya)
Teman saya bilang, : "takut amat, emang punya sejarah asam urat?"
saya, : "Menjaga saja, sih."
Teman saya, : "Bismillah saja, makannya. Insya Alloh gak papa."
Lalu, ada setoples kacang telor. Teman saya itu, ngemil dengan nikmatnya.
"Kacang, juga tak nak?" tanyanya sedikit kocak hingga bikin senyum orang-orang yang mendengarnya.
"Mau juga, tapi ga banyak." kata saya.
"Hmm... Ga jadi makan deh kalo apa-apa dihindari." lanjutnya.
Dua hari berikutnya, saya dengar teman saya ini sakit. Kabarnya jari tangannya gak bisa menggenggam dan sulit mengangkat tangan. Rupanya beliau terserang asam urat.
Gak mungkinlah, saya bilang "rasain" ke beliau yang jelas, saya bersyukur masih bisa mengendalikan diri untuk tidak makan dengan berlebihan. Meski sejujurnya coto makassar itu sungguh menggoda, juga kacang telornya.
Gak mungkinlah, saya bilang "rasain" ke beliau yang jelas, saya bersyukur masih bisa mengendalikan diri untuk tidak makan dengan berlebihan. Meski sejujurnya coto makassar itu sungguh menggoda, juga kacang telornya.
Bismillah itu bukan mantra, Bismillah itu untuk mengingatkan bahwa kita melakukan segala hal tidak atas nama hawa nafsu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar