Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013

Zombie


seonggok tubuh
dan setitik penyakit dalam batinnya,
mengumbar perkataan fatamorgana,
habiskan waktu berjam-jam tiada guna,
menebar virus yang tengah diidapnya,
mendidih lava menyembur ke segala arah,
dadanya menyempit penuh bongkahan sampah,
ada dengki,
ada iri,
ada amarah,
ada makian,
ada celaan
dengan kekuasaannya ...
ia membunuh,
merampas,
merusak,
menindas,
menghancurkan,
dengan lidahnya...
ia mencabik-cabik daging siapa saja

seonggok tubuh
dengan setitik penyakit dalam batinnya
menjadi bencana bagi kaum sekelilingnya

seonggok tubuh
dengan setitik penyakit dalam batinnya
bertobatlah.

Sabtu, 28 September 2013

Rindu Ibu

dengan suara lembut bibirmu
lesung di pipi,
gelitik di jiwa,
perisai dingin,
dalam pelukan rindu

mengenang 20 tahun almarhumah ibuku

Minggu, 28 Juli 2013

Surat Dewi Uma Kepada Manikmaya

Suamiku Manikmaya, alias Betara Guru, sang penguasa Kahyangan.

Semua orang tahu kamu tak hanya tampan,
kesaktianmu pun tak ada tandingan.
Musuh-musuhmu selalu dengan mudah kau kalahkan.
Karenanya kau pun jadi pujaan setiap perempuan.

Tapi sungguh, kamu keterlaluan.
Hampir setiap pekan selalu saja punya selingkuhan.
Kau telah membuat hidupku penuh penderitaan.

Wanita manapun tak akan tahan,
punya suami di luar sana hobinya cari selingan.
Berkali-kali ketahuan, dan tak kurang-kurang aku memaafkan.

Saat kau sakit, kau memintaku mencari susu dari seekor lembu hitam.
Aku pun keliling jagat berusaha menemukan.
Sebagai bukti bahwa cintaku tak perlu kau ragukan.

Siang malam tak lelah aku berjalan.
Hingga dalam keputusasaan, kutemukan juga pengembala lembu hitam.
Lembu itu bernama Lembu Andini.
Kepada pengembala itu, perihal sakitmu pun kuceritakan.
Dia pun mau memberikan susu lembu hitam, tapi sayang tidak gratisan.
Tak masalah bagiku, berapapun uang yang harus kubayarkan.
Tapi dia tak minta uang, melainkan minta dibayar badan.
Aku pun nyaris pingsan

Aku sungguh berada dalam dilema.
Jika tak kubayar badan, susu tak kuperoleh, dan kau akan mati.
Jika aku ingin kau tetap hidup, artinya aku akan ternoda.
Ini membuatku perang batin, perang pikiran.

Sebagai keinginanku adalah melihatmu tetap hidup,
dan akhirnya kuserahkan diriku penuh pengorbanan.
Demi mendapatkan susu dari seekor lembu hitam.
Bagaimana mungkin kau sebut ini sebagai penghianatan?

Kau pun lupa daratan.
Tak ingat dari mana kau minum susu lembu hitam
sehingga penyakitmu hilang.
Namun dengan marah kau putuskan aku tanpa ampunan.
Dengan mengasingkanku dalam sebuah hutan Setra Gandamayit,
sebagai hukuman.

Betapa murkanya aku,
ketika kutahu penyakit dan susu lembu hitam itu hanya rekayasamu belaka.
Kau jebak aku, dalam dua pilihan yang membuatku bingung luar biasa.
Pengembala lembu Andini itu ternyata dirimu sendiri.
Itu berarti, anak yang ada dalam kandunganku saat ini adalah anakmu sendiri.
Namun kau bilang ini buah perselingkuhan.

Aku pun terpuruk dalam kesedihan.
Sehingga tak hiraukan anak yang berada dalam kandungan.
Hatiku hancur berantakan.
Bercampur amarah dan dendam.
Berjuta racun dalam dada ini ingin segera kumuntahkan.

Dan kini, aku Dewi Uma yang dulu kau puja-puja,
sekarang telah menjadi Betari Durga.

Fiksi Surat Cinta Kompasiana 13 Agustus 2011 by Hilda W

terpuruk

menunggu keajaiban.... 
bersabar ...
tawakal ....
sudah kulakukan
tolong air mata,...
jangan keluar...
khawatir ikhlas itu hilang...

Patah Hati

pada air mata
ingatan kututup dalamnya luka

Gutem 28072013

TERSADAR

bahwa dosa membuatku gelisah
tak sanggup aku mencurangimu
saat menatap wajah-wajah
di sana terbias wajahmu

(catatan malam hari 7713)

Selasa, 02 Agustus 2011

jika aku marah

jika aku marah, peluk aku…
jika ku berontak, peluk lebih erat…
jika itu tak meredakan amarahku,
cobalah ucapkan kata maaf
meski kau tak merasa bersalah…

Senin, 01 Agustus 2011

Jatuh Cinta

setelah tujuh pekan berlalu
hari itu kau datang dengan wajah bersungging senyum
diiringin sebuah sapa; “hai, aku datang lagi!”

sungguh hari itu ingin ku katakan; “aku merindukanmu!”
namun yang terucap malah; “aku suka sandal jepitmu!”
dan aku pun memaki-maki atas kalimat yang telah menyatu dengan waktu

seolah menghibur kau bilang;
“aku selalu menyukai setiap kalimat yang kau ucapkan”
sepertinya kau selalu sengaja membuat wajahku merona

kemudian renyah tawamu berderai-derai, kau pasti mentertawakanku
“apa kabar hidupmu?” tanyamu
aku menjawab; “masih dalam koma”
lagi-lagi kau tertawa; “apa yang membuatmu koma?”
sungguh saat itu ingin ku katakan; “kaulah yang membuat hidupku koma”
“kau membuatku terkatung-katung dalam tunggu dan rindu”
“pesonamu membuatku terhenti untuk sementara waktu”
“karena aku belum ingin sampai ke titik!” jawabku ketus

kau pun tertawa, “sungguh aku selalu menyukai setiap ucapanmu”
aku menjerit dalam hati, “kenapa hanya ucapanku?”

lalu kau terdiam, menatapku tajam
sambil menggenggam tanganku, kau bilang; “aku ingin menemanimu sampai ke titik”

itu membuat sisi kanakku bertepuk tangan sambil meloncat-loncat
di sini, di dalam dada ini

Translate