Cerpen Hilda W
Joe
ditahan, ada borgol mengikat kedua tangannya. Dia jadi tersangka pembunuhan
Mary. Sedang aku, menjadi saksi. Aku tahu, Joe mungkin tak bersalah. Mungkin
dia hanya sebagai jalan bagi kematian Mary. Ah, entahlah bagaimana aku harus
menjelaskannya.
Aku,
Joe dan Mary telah lama bersahabat. Kami biasa jalan bertiga, ke mall atau
diskotik. Kadang nonton ke bioskop. Selama ini kami hanya bersahabat, saling
traktir bergantian, tak ada hubungan special semacam cinta-cintaan. Joe bukan
tipe cowok yang diinginkan Mary, apalagi aku.
Joe
bertubuh kurus kerempeng, wajahnya lumayan, bisa dikategorikan cakep. Tapi sayang,
Joe bukan cowok pintar, sangat cenderung pada bodoh bahkan. Mungkin disebabkan kecanduannya
pada morphine. Joe pelupa, suka tulalit, yang tulalitnya itu justru membuat ia
jadi kocak. Kami berdua tahu, Joe cinta berat sama Mary.
Mary
adalah temanku sejak masih di Junior High School. Wajahnya jauh lebih cantik
dariku. Orang tuanya cukup kaya, dialah yang sering mentraktir kami. Dia cewek
periang, nyaris tak pernah kulihat ia sedih. Kami tinggal satu kamar kost.
Hari
itu Joe datang ke kost kami. Dia punya ‘barang’ dan ingin mentraktir kami. Mary
dengan senang hati menerima. Maka pergilah kami bertiga, menuju hotel yang
telah dipesan oleh Joe.
Di
dalam kamar Hotel malam itu, aku dalam keadaan mabok berat, terbaring di
ranjang. Joe duduk di tepi ranjang. Dia dan Mary hendak turun ke diskotik melanjutkan
pesta, malam itu. Mary menelan ineks sebelumnya.
Tak
lama setelah itu, entah datang dari mana tiba-tiba sebuah makhluk yang maha
mengerikan berdiri di depan Mary. Mary histeris, aku pun ketakutan melihatnya.
Aku juga ingin teriak, tapi aku tak sanggup, aku hanya menunjuk makhluk itu.
Makhluk itu mendekati Mary, teriakan Mary makin kencang. Aku tak menyalahkannya
sebab aku juga sangat ketakutan melihatnya.
Mungkin
Mary meminta tolong pada Joe. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya teriakan
yang makin lama makin keras dengan matanya yang melotot ketakutan. Joe mengira Mary
sakaw. Joe benar-benar panik.
Joe
membuka lemari es, semula ia mengambil air mineral dan memaksa Mary meminumnya.
Tapi Mary tetap teriak, lalu ia mengambil susu dan lagi-lagi memaksa Mary
meminumnya hingga tertumpah-tumpah.
Joe
melihat ke arahku yang tentu tak ada harapan bisa
membantunya untuk menenangkan Mary. Joe menyuruh Mary diam sebab ia tak ingin
teriakan itu mengundang petugas hotel masuk ke kamar kami.
Ia mencoba membungkam mulut Mary, aku melihat makhluk itu makin
dekat ke wajah Mary yang semakin histeris. Joe membanting tubuh Mary dan jatuh
dekat kakiku, lalu menyambar bantal disampingku, untuk meredam suara Mary.
Lamat-lamat aku melihat makhluk itu menghilang seiring surutnya teriakan Mary. Tak
lama kemudian aku melihat petugas keamanan mendobrak pintu kamar kami. Lalu aku
tak ingat apa-apa lagi.
Pagi ini aku melihat Joe tengah diperiksa oleh petugas. Mukanya
kuyuh, ada penyesalan atau entah. Ketika mata kami beradu, ia pun menunduk. Aku
tahu Joe tak bersalah, Joe tak bermaksud membunuh Mary sebab Joe mencintai Mery.
Kematian Mary malam itu adalah takdir. Mungkin makhluk mengerikan itu malaikat
maut. Tapi, siapa yang percaya pada omonganku? Orang yang mabuk berat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar