Sabtu sore sehabis magrib, Lusi datang dengan membawa bungkusan besar
yang dimasukkan dalam kresek hitam.
“Her, besok aku ndak pergi taklim. Ayah mengajakku ke rumah Mbah Putri
di Batu. Ini, kado ulang tahun untukmu.” katanya membuatku terkejut.
“Sekarang tanggal tiga belas kah?” tanyaku. Ya Allah, aku sendiri
bahkan lupa pada ulang tahunku.
Lusi tersenyum, lalu dipeluk dan diciumnya aku, “Selamat Ulang Tahun,
Sahabatku.” bisiknya di telingaku.
“Terima kasih, Lus! Begitu besar perhatianmu.” kupeluk erat dia.
“Sama-sama, Her. Kuharap kamu menyukai pemberianku ini. Maaf, aku
harus segera pergi, ayah menungguku.” katanya kemudian.
Bungkusan itu kubawa masuk ke dalam kamarku.
“Apa itu, Her?” tanya Diana, kakakku, saat ia melihatku.
“Dari Lusi, rupanya sekarang tanggal tiga belas ya?!” tanyaku seolah
kutujukan pada diriku sendiri.
“Ooo.., rupanya adikku lagi ulang tahun. Selamat Ulang Tahun.” ucap
Diana sambil memelukku.
“Makasih,” kataku.
Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan halaman rumah.
“Kayaknya Jundi, tuh!” kataku.
“Kami mau nonton,” kata Diana. “Mau ikut?”
“Nggak, ah! Ngganggu!” jawabku.
“Syukurlah, kalau ndak mau.” katanya sambil ngeloyor. “Her, pamitkan
sama ibu!” lanjutnya sebelum menutup pintu.
“Din, jangan lupa pulang bawa tela-tela!” teriakku. Diana melambaikan
tangannya.
Aku membuka bungkusan dari Lusi yang dibungkus dengan kertas kado
warna biru. Didalamnya ada dua potong rok panjang warna hitam dan biru malam.
Sebuah blus motif bunga-bunga lengan panjang, sebuah baju kaos warna hitam
lengan panjang serta dua jilbab kain warna putih dan hitam. Masih ada lagi,
sebuah Al-Qur’an Terjemah terbitan Syamil.
Setelah puas aku mencoba semuanya, aku membuka Al-Qur’an dengan sampul kulit
warna hitam itu. Di dalamnya kutemukan sepucuk kartu ucapan yang berbunyi:
“Friend, I love the sound of that word and so glad we are just that. HAPPY
BIRTHDAY to My Wonderful Friend. Yours, Lusi”
Terima kasih Lusi, kataku dalam hati. Tapi entahlah, kapan aku
memutuskan untuk memakai jilbab ini sebagaimana dirimu.
Hari Minggu aku pergi ke Taklim di Mushola Khadijah tanpa Lusi. Sudah
ada beberapa teman yang aku kenal, jadi aku tak canggung lagi
Minggu sore, Tia, teman taklim kami yang juga tetangga Lusi bertamu ke
rumah. Wajahnya nampak murung.
“Hera sudah dengar berita tentang Lusi?” tanyanya.
“Oh, iya. Dia ke rumah neneknya di Batu, kan?” kataku.
“Iya, tapi bukan itu maksudku.” katanya lagi.
“Berita yang mana?” tanyaku bingung.
“Lusi kecelakaan,” katanya yang membuatku kaget.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” ucapku seketika. “Di rumah sakit
mana sekarang?” tanyaku.
“Lusi meninggal, Her.” katanya diikuti isak tangisnya.
“Innalilahi wa innalillahirojiun.” kataku lagi.
Tiba-tiba saja aku lemas. Lusi meninggal? Tidak! Aku tak percaya. Baru
tadi malam ia ke sini, ke rumah ini, memberiku kado ulang tahun. Dunia terasa
gelap. Aku sangat sedih, sampai-sampai aku pingsan. Saat kubuka mataku, aku
telah berada dalam kamar. Bapak, Ibu, Diana dan Tia mengelilingiku.
Tangisku pecah, ibu memelukku. semua orang menangis melihat
kesedihanku. Tuhan, rasanya aku belum lama mengenal Lusi. Masih banyak hal yang
kuingin belajar dari sikapnya memandang hidup ini. Tuhan, Lusi satu-satunya
teman yang mampu merubahku dalam memandang hidup ini. Aku terus menangis sambil
menyebut nama Lusi.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan mati. Kemudian hanya kepada kamilah kamu
dikembalikan.” Tia menyitir surat Al-Ankabut ayat 57. Aku ingat, Waktu Rani
meninggal, Lusi pernah juga membaca ayat itu.
Setelah aku agak tenang, aku pergi ke rumah Lusi diantar ibu, ayah, Diana dan
Tia. Sepanjang jalan menuju rumah Lusi air mata ini tak bisa kubendung. Jilbab
warna hitam, kado ulang tahunnya yang saat itu kukenakan, basah oleh airmataku.
Lusi, Jilbab ini, baju ini, kau berikan untukku kenakan saat mengantar
kepergianmu selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar