Jenazah
Lusi belum tiba saat aku sampai di sana. Aku melihat Tante Mia, adik dari ibu
Lusi, sudah ada. Kami berpelukan. Dari Tante Mia, kudengar ayah Lusi dalam
keadaan kritis di Rumah Sakit. Aku tak mau mendengar detil kejadiannya. Biarlah
Lusi pergi, cukup dengan kata ‘kecelakaan’ penyebabnya.
Tak lama jenazah Lusi
tiba. Jenazah itu terbungkus plastik hitam, tak boleh dibuka. Semua orang tak
akan bisa membayangkan, seperti apa keadaan Lusi di dalamnya. Rasanya aku ingin
memeluknya, menciumnya. Mengucapkan semua rasa terima kasihku atas apa yang
telah ia ajarkan kepada ku selama kami berteman.
Selamat
tinggal Lusi. Lusi, yang lemah lembut, sabar dan suka mengalah. Begitu banyak
kenangan yang telah kau ukir dalam hari-hariku. Walau sebenarnya masih banyak
ruang yang kuingi kau terus mengukirnya.
Banyak hal yang telah kau ajarkan
kepadaku, walau masih banyak hal yang kuingin pelajari darimu. Lusi, aku ingin
selalu mengenangmu. Kau yang telah mengisi hari-hariku bukan hanya sebagai
seorang sahabat, kau bahkan sebagai seorang saudara yang hampir mendekati
sempurna bagiku, kau juga seorang guru bagiku, memperkenalkaku pada pintu
hidayah.
Malam itu
juga jenazah Lusi disholatkan kemudian dimakamkan. Aku tak bisa menahan kesedihanku
saat orang-orang membawa Lusi ke dalam keranda, lalu pergi menuju
peristirahatan terakhirnya. Lagi-lagi aku hampir pingsan, badanku lemah tak
bertenaga. Aku dibaringkan di ranjang Lusi. Aku teringat saat pertama kali
datang ke rumah ini. Saat itu Rani sedang ada di tempatku berbaring saat ini.
Lusi, Rani, semua telah menghada Ilahi. Tinggal aku menunggu giliran.
“Lusi.
Mudah-mudahan kita dipertemukan kembali di kehidupan yang akan datang.” kataku
lirih pada foto Lusi yang dibingkai kecil dekat meja belajarnya.
***
Al-Qur’an dan Terjemah pemberian dari Lusi kusentuh untuk pertama kali. Saat
kubuka, mataku tertuju pada terjemahan ayat yang terletak di ujung bawah
sebelah kanan: “Dan katakanlah kepada perempuan beriman, agar mereka menjaga
pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya (auratnya), kecuali yang terbiasa terlihat. Dan hendaklah mereka
menutupkankain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya
(auratnya) kecuali kepada suami mereka, putra putri mereka ….(dst)”
Entah
kenapa terjemah dari surat An-Nur ayat ke tiga puluh satu itu terngiang-ngiang
dikepalaku sampai berhari-hari. Ah, mungkin karena kebetulan saja, kebetulan
terjemahan pertama yang terbaca, disaat pertama kali membukanya adalah surat
itu. Tetapi lagi-lagi aku tak mengerti terhadap kata-kata ‘hendaklah mereka menutupkan
kerudung hingga ke dadanya’ seperti menggema dalam dadaku.
Bila Al-Qur’an yang menyuruh para perempuan menutup kerudungnya hingga ke dada?
Itu berarti perinta Allah. Berarti jilbab itu bukan pakaian adat Timur Tengah
seperti yang kuterimakan dalam pengertianku selama ini, pikirku dalam hati.
Minggu
berikutnya suatu kebetulan sekali, materi ceramah Ustadzah tentang aurat.
"Dahulu," bilang Ustadzah itu, "umat Islam boleh terlihat lehernya sebelum ayat
dari Surah An-Nur ini turun. Bukankah Anda sekarang berada pada zaman dimana
surat ini telah diturunkan? Wanita, cantik ataupun tidak secara fisik. Jika
mereka sudah keluar rumah dan terlihat oleh kaum pria, maka setan-setan akan
sibuk menghias dan melukis pada bagian-bagian tubuhnya sehingga membuat setiap
pria tertarik. Maka saudariku, hukumnya adalah wajib bagi kaum wanita menutup
auratnya. Semua yang diperintahkan Allah adalah untuk kepentingan dan kebaikan
makhluk-Nya."
Selama perjalanan pulang dari majelis taklim itu, aku pun menjadi
yakin untuk menutup auratku mulai detik itu.
Keesokan
harinya, aku berangkat sekolah memakai baju panjang lengkap dengan jilbabnya.
Tak ada komentar dari ayah, ibu maupun Diana. Namun saat tiba di sekolah,
beberapa pasang mata memandang aneh ke arahku. Bisik-bisik dan pandangan sinis
mereka yang betul-betul menguji kesabaranku.
“Ssst,
Hera pakai jilbab. Nutupin tompelnya, tuh!”
“Masih
kelihatan juga,” diiringin de
ngan tawa sinis mereka.
“Washbir
‘alaa maa ashoobaka, inna dzaalika min azmil umuur.” penggalan sural Luqman
ayat 17 tersebut terus kukumandangkan dalam hati yang berarti: dan bersabarlah
atas semua yang manimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal
yang diwajibkan (oleh Allah)
Penampilanku
hari itu membuatku seperti alien. Beberapa orang guru yang mengajar hari itu
pun sebagian melihatku dengan muka geli akibat komentar-komentar sebagian dari
teman-teman, yang bagiku sangat menyakitkan namun entah mengapa menurut mereka
menggelikan. Namun sebagian guru yang lain, mendukungku dengan mengucap syukur
Alhamdulillah.
Seperti Ibu Istiqomah, guru agama Islam. Beliau mendekatiku khusus membisikkan
kalimat ini, “Dan
hamba-hamba Allah itu, mereka berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila
orang-orang jahil menggoda mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung
keselamatan. ”
Aku
tersenyum, kuucapkan terima kasih kepada ibu Istiqomah sebelum beliau pergi
meninggalkanku.
Lus,
temanmu si tompel ini tengah belajar memandang dunia seperti yang pernah kau
ajarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar