Senin, 04 November 2013

Pintu Hidayah (Bagian 7/ selesai) : Menjadi Alien

Jenazah Lusi belum tiba saat aku sampai di sana. Aku melihat Tante Mia, adik dari ibu Lusi, sudah ada. Kami berpelukan. Dari Tante Mia, kudengar ayah Lusi dalam keadaan kritis di Rumah Sakit. Aku tak mau mendengar detil kejadiannya. Biarlah Lusi pergi, cukup dengan kata ‘kecelakaan’ penyebabnya. 

Tak lama jenazah Lusi tiba. Jenazah itu terbungkus plastik hitam, tak boleh dibuka. Semua orang tak akan bisa membayangkan, seperti apa keadaan Lusi di dalamnya. Rasanya aku ingin memeluknya, menciumnya. Mengucapkan semua rasa terima kasihku atas apa yang telah ia ajarkan kepada ku selama kami berteman.
Selamat tinggal Lusi. Lusi, yang lemah lembut, sabar dan suka mengalah. Begitu banyak kenangan yang telah kau ukir dalam hari-hariku. Walau sebenarnya masih banyak ruang yang kuingi kau terus mengukirnya. 

Banyak hal yang telah kau ajarkan kepadaku, walau masih banyak hal yang kuingin pelajari darimu. Lusi, aku ingin selalu mengenangmu. Kau yang telah mengisi hari-hariku bukan hanya sebagai seorang sahabat, kau bahkan sebagai seorang saudara yang hampir mendekati sempurna bagiku, kau juga seorang guru bagiku, memperkenalkaku pada pintu hidayah.
 
Malam itu juga jenazah Lusi disholatkan kemudian dimakamkan. Aku tak bisa menahan kesedihanku saat orang-orang membawa Lusi ke dalam keranda, lalu pergi menuju peristirahatan terakhirnya. Lagi-lagi aku hampir pingsan, badanku lemah tak bertenaga. Aku dibaringkan di ranjang Lusi. Aku teringat saat pertama kali datang ke rumah ini. Saat itu Rani sedang ada di tempatku berbaring saat ini. Lusi, Rani, semua telah menghada Ilahi. Tinggal aku menunggu giliran.
 
“Lusi. Mudah-mudahan kita dipertemukan kembali di kehidupan yang akan datang.” kataku lirih pada foto Lusi yang dibingkai kecil dekat meja belajarnya.
***
 
Al-Qur’an dan Terjemah pemberian dari Lusi kusentuh untuk pertama kali. Saat kubuka, mataku tertuju pada terjemahan ayat yang terletak di ujung bawah sebelah kanan: “Dan katakanlah kepada perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang terbiasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkankain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka, putra putri mereka ….(dst)”
 
Entah kenapa terjemah dari surat An-Nur ayat ke tiga puluh satu itu terngiang-ngiang dikepalaku sampai berhari-hari. Ah, mungkin karena kebetulan saja, kebetulan terjemahan pertama yang terbaca, disaat pertama kali membukanya adalah surat itu. Tetapi lagi-lagi aku tak mengerti terhadap kata-kata ‘hendaklah mereka menutupkan kerudung hingga ke dadanya’ seperti menggema dalam dadaku.

Bila Al-Qur’an yang menyuruh para perempuan menutup kerudungnya hingga ke dada? Itu berarti perinta Allah. Berarti jilbab itu bukan pakaian adat Timur Tengah seperti yang kuterimakan dalam pengertianku selama ini, pikirku dalam hati.
 
Minggu berikutnya suatu kebetulan sekali, materi ceramah Ustadzah tentang aurat. "Dahulu," bilang Ustadzah itu, "umat Islam boleh terlihat lehernya sebelum ayat dari Surah An-Nur ini turun. Bukankah Anda sekarang berada pada zaman dimana surat ini telah diturunkan? Wanita, cantik ataupun tidak secara fisik. Jika mereka sudah keluar rumah dan terlihat oleh kaum pria, maka setan-setan akan sibuk menghias dan melukis pada bagian-bagian tubuhnya sehingga membuat setiap pria tertarik. Maka saudariku, hukumnya adalah wajib bagi kaum wanita menutup auratnya. Semua yang diperintahkan Allah adalah untuk kepentingan dan kebaikan makhluk-Nya." 
Selama perjalanan pulang dari majelis taklim itu, aku pun menjadi yakin untuk menutup auratku mulai detik itu.
 
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah memakai baju panjang lengkap dengan jilbabnya. Tak ada komentar dari ayah, ibu maupun Diana. Namun saat tiba di sekolah, beberapa pasang mata memandang aneh ke arahku. Bisik-bisik dan pandangan sinis mereka yang betul-betul menguji kesabaranku.
 
“Ssst, Hera pakai jilbab. Nutupin tompelnya, tuh!”
 
“Masih kelihatan juga,” diiringin de
ngan tawa sinis mereka.
 
“Washbir ‘alaa maa ashoobaka, inna dzaalika min azmil umuur.” penggalan sural Luqman ayat 17 tersebut terus kukumandangkan dalam hati yang berarti: dan bersabarlah atas semua yang manimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)
 
Penampilanku hari itu membuatku seperti alien. Beberapa orang guru yang mengajar hari itu pun sebagian melihatku dengan muka geli akibat komentar-komentar sebagian dari teman-teman, yang bagiku sangat menyakitkan namun entah mengapa menurut mereka menggelikan. Namun sebagian guru yang lain, mendukungku dengan mengucap syukur Alhamdulillah.
 
Seperti Ibu Istiqomah, guru agama Islam. Beliau mendekatiku khusus membisikkan kalimat ini, “Dan hamba-hamba Allah itu, mereka berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menggoda mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.
Aku tersenyum, kuucapkan terima kasih kepada ibu Istiqomah sebelum beliau pergi meninggalkanku.
Lus, temanmu si tompel ini tengah belajar memandang dunia seperti yang pernah kau ajarkan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate