Aku perempuan bersuami sepi yang selalu sendiri menyapa pagi dan malam. Berjumpa lelaki penyendiri melalui lambang-lambang.
Waktu bertaruh, dengan siapa aku banyak menghabiskan senggang. Lalu
cinta menyusup dari lambang-lambang pada ingatan, ke dada, ke jantung
menghujam.
Perempuan juga bisa berpaling, meski kaki dan tangan terbelenggu oleh ikatan atas nama adat, atas nama Tuhan.
Aku perempuan bersuami sepi, mencandui rayuan lambang-lambang lalu jatuh cinta pada lelaki penyendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar