Kamis, 16 Oktober 2014

Juadah


dulu, setiap sore aku menunggunya pulang
bersama sepiring juadah bikinanku
yang kusimpankankan sebelum anak-anak habiskan
kini, setiap sore aku cukup membeli juadah pada pedagang gorengan
atau sebungkus roti marie
dan memakan habis bersama orang-orang yang ditakdirkan Tuhan
untuk menemaniku menanti senja di dekat pematang
namun, masih ada entah sesak atau sesal
sebab jantungku masih tertinggal dua detaknya...

Malang, 250914



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate