Senin, 21 April 2014

Jawaban Soal Matematika Penuh Warna

Sebelum belajar di tempat saya, banyak sekali anak-anak yang enggan belajar matematika sebelumnya. Kalau ditanya pelajaran apa yang tak mereka suka, banyak yang mengatakan MATEMATIKA.
Tapi tidak setelah mereka belajar di tempat saya. Bukan bermaksud sombong. Tapi, siapa tau, ini bisa menginspirasi, guru matematika.
Andai saja semua guru matematika berjiwa seni, mungkin tak akan ada murid yang membenci pelajaran tersebut. Saya cuma guru PAUD. Tapi buka bimbel di rumah. Murid saya, suka pake spidol warna warni. jadi satu satu lembar di buku tak bisa dipakai bolak balik. Seringkali mereka menulis soal, cara dan jawaban dengan warna berbeda. buat saya ndak masalah mereka pake spidol merah.
Awalnya, salah satu murid saya pake spidol merah, ditegur sama temannya. Tapi, saya membolehkan. Tak masalah pake bolpoin atau spidol warna apa saja, asal tulisannya terlihat, terbaca. Rupanya, ada murid saya yang berjiwa seni, mulailah dia membedakan warna antara soal, penyelesaian dan jawaban, yang akhirnya diikuti oleh teman-temannya. Jadilah penuh warna warni setiap kali saya memeriksa hasil kerja murid-murid saya. Mereka semangat, mungkin lebih semangat berangkat ke tempat saya untuk belajar dari pada ke sekolah.
Andai saja, guru matematika membolehkan muridnya berseni dalam mengerjakan soal matematika. Saya optimis, mereka akan suka belajar matematika. Mungkin bias juga dilakukan untuk pelajaran lain. Saya, lebih suka mengajar anak-anak yang sedang senang dari pada mereka yang sedang tertekan. Saya bukan orang yang mudah mencairkan suasana, tapi saya berusaha mencari apa saja yang membuat anak-anak bahagia.
Semoga bermanfaat

Minggu, 20 April 2014

Kisah Awal April-ku

Saya, sementara ini adalah seorang ibu single dengan lima orang anak. Bayangkan, hidup bersama lima orang anak yang masih kecil-kecil. Rumah jarang sekali rapi, sepertinya waktu dua puluh empat jam sangat kurang.

Setiap hari, saya harus pintar-pintar mengatur waktu. Waktu untuk anak-anak, terutama dua orang yang masih balita, waktu untuk mempertahankan agar asap dapur tetap mengepul, dan waktu untuk mengadukan semuanya kepada Allah SWT.

Rasa syukur terus mengalir, pagi saya mengajar di PAUD, siang menjaga toko, malam mengajar Les anak SD. Sebetulnya, untuk yang les ini sudah saya berhentikan. Namun anak-anak dan orang tua mereka memohon agar saya tetap bersedia mengajar les. Anak-anak ndak bisa mengerti penjelasan dari guru selain saya, katanya. Kedengarannya terlalu dibuat-buat.

Entah sampai kapan, kehidupan saya akan terus seperti ini. Namun, saya tetap mensyukuri. Sebab saya yakin, Allah memiliki rencana lain. Rencana yang lebih indah dari yang saya harapkan.Walau kadang saya sangat merindukan saat-saat bersama dengan anak-anak, saat bercerita menjelang tidur, mengaji seusai magrib dan shubuh.

Dalam kesulitan hidup, yang mungkin hampir mendekati titik nol. Saya sering sekali dibuat menangis terharu oleh anak-anak. Perjuangan, rasa lelah dan kadang kesal pun lenyap begitu saja.

Beruntung bagi saya diberi titipan anak-anak yang penyabar. Anak-anak yang pemaaf. Anak-anak yang lapang hatinya dan sangat...sangat qona'ah. Mereka tidak pelit meski dalam keterbatasan. Di situ saya mulai belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Anak-anak saya, lebih dewasa dari saya.

Saya lebih memilih bekerja ikhlas untuk saat ini. Semoga Alloh memberi petunjuk agar selanjutnya saya akan menjadi seorang pekerja yang tak hanya ikhlas namun juga cerdas. Saya tak pernah memilih, menawar gaji untuk menjadi lebih tinggi. Sebab saya tahu dan yakin, bahwa Allah telah mengatur rejeki pada hamba-hambanya.

Saya percaya takdir, saya percaya bahwa apa yang saya alami telah ditulis di lauh mahfuz. Namu saya juga percaya bahwa do'a bisa merubah takdir.

Bisa dibayangkan, saya yang sebelumnya hanyalah seorang ibu rumah tangga konvensional, yang sehari-hari hanya mengurus suami, anak-anak dan rumah. Kini harus merangkap menjadi kepala keluarga. Mencari nafkah dan menjadi ibu rumah tangga. Sungguh, jika tanpa pertolongan Alloh semuai ini tak mungkin dapat saya lalui.

Dulu, sebelum menikah, saya seorang pekerja keras. Sekarang saya kembali harus menjadi pekerja keras. Namun, anak-anak saya kadang tak tahan melihat saya terlalu sibuk sehingga kadang lupa untuk sedikit meluangkan waktu bersama mereka.

Mungkin, sebagi protes dari Hilal, anak saya yang ke-tiga. Secara tiba-tiba selama hampir setengah bulan tak mau sekolah. Ia mau keluar dari sekolah, tak mau belajar. Dia hanya mau mengaji. Ingin jadi penghafal.

Hilmy anak sulung saya pun juga sering tak masuk sekolah. Sempat membuat saya marah, den mengancamnya kalau saja tiap kali try out nilai ulangannya jeblok, saya tak akan pernah ijinkan dia melanjutkan belajar di Jawa. Yang ternyata 2 kali try out nilainya terbaik diantara teman-teman sekelasnya.

Mungkin guru-gurunya tahu juga tentang keadaan saya. Mereka memaklumi saja jika anak saya tak mau turun sekolah. Mereka mengira, anak-anak ini membantu saya menjaga adiknya. Ya, mungkin seperti itulah alasan anak-anak kepada gurunya jika tak masuk sekolah. Padahal, saya tak pernah menyuruh mereka mangkir hanya untuk menjaga adik-adiknya. Namun, mau tak mau, jika mereka tak sekolah mereka bisa saja menjaga adiknya sementara saya pergi bekerja.

Rabu, 16 April 2014

G(edhe) R(asa)

detak itu bernyanyi:
...
main main
atau
serius
atau
main main
atau
serius
...


:kau bicara
aku mendengar
aku melambung

:dia bicara
aku mendengar
aku tersungkur

:aku bergumam
"bumi, jangan kau lepas aku..."

dalam istikharahku

dalam istikharahku, aku mohon petunjuk. 
bukan memilih satu diantara dua pilihan 
namun memohon diberi kemudahan 
dalam menjalankan hal yang terbaik yang telah kupilih.
aku tetap percaya pada takdir yang telah ditetapkan padaku. 

andai suatu saat aku menemui kebuntuan 
dan hal itu membawaku pada kegagalan, 
maka kegagalan itu akan mendewasakanku. 
semoga mendapat keridhoanNya.

Minggu, 06 April 2014

perempuan perempuan


perempuan-perempuan berlidah tipis nan lentur
begitu mudah dan lancar dalam bertutur
menuduh, memfitnah dengan nada indah dan teratur

perempuan-perempuan itu bergincu merah
bak drakula yang haus darah
menyapa korbannya dengan ramah
untuk dibantai disiksa tanpa merasa bersalah

perempuan-perempuan itu berkaca mata
tak cuma menutup mata tapi juga hatinya
mungkin juga hidungnya
memakan lahap bangkai saudaranya

:aku berlindung dari sifatsifat mereka

bpp,032014

kau penari topeng


kau telah patahkan topengmu sendiri
jangan menunduk!
gurat kebencian di wajahmu itu
akan ku abadikan
sebab aku tak ingin melupakan
meski hati telah memaafkan

:agar kau tahu, memaafkan bukan berarti melupakan

balikpapan, 3042014

setelah salam


setelah salam:
aku memanggil nama-nama indahMu
memohon ampun dosa-dosaku
memohon ampun dosa ibu-bapakku
memohon perlindungan untuk anak-cucuku
agar tak keluar dari jalanMu

setelah salam:
sepercik doa kubisikkan untuknya
dia yang pernah meninggalkan kisah

Engkau yang lebih tahu tentangnya
seperti halnya Engkau lebih tahu tentangku

:aku benci rindu yang tak bisa ku ucap

Translate