Saya, sementara ini adalah seorang ibu single dengan lima orang anak. Bayangkan, hidup bersama lima orang anak yang masih kecil-kecil. Rumah jarang sekali rapi, sepertinya waktu dua puluh empat jam sangat kurang.
Setiap hari, saya harus pintar-pintar mengatur waktu. Waktu untuk anak-anak, terutama dua orang yang masih balita, waktu untuk mempertahankan agar asap dapur tetap mengepul, dan waktu untuk mengadukan semuanya kepada Allah SWT.
Rasa syukur terus mengalir, pagi saya mengajar di PAUD, siang menjaga toko, malam mengajar Les anak SD. Sebetulnya, untuk yang les ini sudah saya berhentikan. Namun anak-anak dan orang tua mereka memohon agar saya tetap bersedia mengajar les. Anak-anak ndak bisa mengerti penjelasan dari guru selain saya, katanya. Kedengarannya terlalu dibuat-buat.
Entah sampai kapan, kehidupan saya akan terus seperti ini. Namun, saya tetap mensyukuri. Sebab saya yakin, Allah memiliki rencana lain. Rencana yang lebih indah dari yang saya harapkan.Walau kadang saya sangat merindukan saat-saat bersama dengan anak-anak, saat bercerita menjelang tidur, mengaji seusai magrib dan shubuh.
Dalam kesulitan hidup, yang mungkin hampir mendekati titik nol. Saya sering sekali dibuat menangis terharu oleh anak-anak. Perjuangan, rasa lelah dan kadang kesal pun lenyap begitu saja.
Beruntung bagi saya diberi titipan anak-anak yang penyabar. Anak-anak yang pemaaf. Anak-anak yang lapang hatinya dan sangat...sangat qona'ah. Mereka tidak pelit meski dalam keterbatasan. Di situ saya mulai belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Anak-anak saya, lebih dewasa dari saya.
Saya lebih memilih bekerja ikhlas untuk saat ini. Semoga Alloh memberi petunjuk agar selanjutnya saya akan menjadi seorang pekerja yang tak hanya ikhlas namun juga cerdas. Saya tak pernah memilih, menawar gaji untuk menjadi lebih tinggi. Sebab saya tahu dan yakin, bahwa Allah telah mengatur rejeki pada hamba-hambanya.
Saya percaya takdir, saya percaya bahwa apa yang saya alami telah ditulis di lauh mahfuz. Namu saya juga percaya bahwa do'a bisa merubah takdir.
Bisa dibayangkan, saya yang sebelumnya hanyalah seorang ibu rumah tangga konvensional, yang sehari-hari hanya mengurus suami, anak-anak dan rumah. Kini harus merangkap menjadi kepala keluarga. Mencari nafkah dan menjadi ibu rumah tangga. Sungguh, jika tanpa pertolongan Alloh semuai ini tak mungkin dapat saya lalui.
Dulu, sebelum menikah, saya seorang pekerja keras. Sekarang saya kembali harus menjadi pekerja keras. Namun, anak-anak saya kadang tak tahan melihat saya terlalu sibuk sehingga kadang lupa untuk sedikit meluangkan waktu bersama mereka.
Mungkin, sebagi protes dari Hilal, anak saya yang ke-tiga. Secara tiba-tiba selama hampir setengah bulan tak mau sekolah. Ia mau keluar dari sekolah, tak mau belajar. Dia hanya mau mengaji. Ingin jadi penghafal.
Hilmy anak sulung saya pun juga sering tak masuk sekolah. Sempat membuat saya marah, den mengancamnya kalau saja tiap kali try out nilai ulangannya jeblok, saya tak akan pernah ijinkan dia melanjutkan belajar di Jawa. Yang ternyata 2 kali try out nilainya terbaik diantara teman-teman sekelasnya.
Mungkin guru-gurunya tahu juga tentang keadaan saya. Mereka memaklumi saja jika anak saya tak mau turun sekolah. Mereka mengira, anak-anak ini membantu saya menjaga adiknya. Ya, mungkin seperti itulah alasan anak-anak kepada gurunya jika tak masuk sekolah. Padahal, saya tak pernah menyuruh mereka mangkir hanya untuk menjaga adik-adiknya. Namun, mau tak mau, jika mereka tak sekolah mereka bisa saja menjaga adiknya sementara saya pergi bekerja.