Jumat, 19 Agustus 2011

Perempuan di Studio Foto

“Mas, saya mau foto.” suara seorang wanita itu mengagetkanku.

Heran, aku bahkan tak mendengar pintu studioku dibuka. Atau mungkin karena aku yang sedang asyik membaca novel yang berjudul “Aku Mencintai Pribumi” sehingga tak mendengarnya.

“Silakan, Bu.” kataku mempersilahkan perempuan cantik itu sambil mempersiapkan peralatan.

“Saya mau kirim foto-foto ini untuk suami saya. Jadi tolong usahakan yang bagus ya, Mas!” pintanya.

“Saya usahakan,” jawabku

Kemudian aku mengambil beberapa foto dengan gaya yang berbeda. Setelah selesai, kembali aku membereskan peralatan. Ketika aku berbalik ternyata perempuan cantik itu sudah tak ada.

“Lho, kok sudah pergi? Dicetak ukuran berapa ini? Kapan pula diambilnya? Ah, biar sajalah. Dia pasti kembali juga. Biasanya perempuan cantik selalu tak memperhatikan yang begini” kataku dalam hati tak jadi menulis pada nota yang sudah kusiapkan di atas meja. Akhirnya kuputuskan untuk mencetaknya dalam ukuran post card saja.

Seminggu kemudian, perempuan cantik itu datang lagi, setelah melihat hasil potretanku dia merasa puas dan meminta satu foto untuk dicetak ukuran besar.

“Berapa semuanya, Mas?” tanyanya.

“Enam puluh lima ribu rupiah, Bu.” Kataku menyebut jumlah yang harus ia bayar.

“Ini,” katanya sambil menyodorkan uang seratus ribuan. “Ndak usah pake kembalian. Tapi tolong setelah dicetak ukuran besar Anda pasang di depan studio Anda agar semua orang bisa melihatnya.” begitu katanya

“Baik. Terima kasih, Bu.” kataku. Aku langsung ingat pada Mira. Ya, hari ini aku janji akan membayar hutangku. Uang itu pun kumasukkan dalam saku baju. Ku tengok jam menunjukkan pukul sembilan malan. Sebentar lagi sepulang dari cafĂ© tempatnya bekerja, Mira pasti mampir ke sini.

“Jaka!!!” suara diiringi bunyi derit pintu studio yang terbuka. Ku lempar senyum pada perempuan chubby itu.

“Sudah ada?” tanyanya yang kubalas dengan anggukan sambil merogoh kantung bajuku. Astaga!!! kemana uang tadi. aku yakin tadi kukantongi di saku baju. Ndak mungkin aku lupa pada kejadian yang hanya beberapa menit yang lalu.

“Kenapa?” tanya Mira saat melihatku. “Kalau belum ada, besok-besok saja.” katanya.

“Ada… ada, kok. Tunggu!” akhirnya aku mengambil uang dari laci dan diterima oleh Mira.

Sambil mengunci studo, aku masih tak habis pikir kemana lenyapnya uang itu?

Keesokan harinya, sesuai permintaan perempuan itu fotonya yang ukuran besar kupajang di etalase studio. Wah, cantik sekali. Sebetulnya dia sangat cocok untuk jadi seorang model. Sungguh beruntung suami perempuan ini.

Berhari-hari aku menunggu perempuan cantik itu untuk mengambil fotonya, namun dia tak juga datang. Tapi studioku jadi agak ramai dengan adanya Foto perempuan cantik yang ku pajang di etalase. Ada yang ingin di foto dengan gaya seperti perempuan itu, ada juga yang sekedar menikmati keindahan makhluk ciptaan Tuhan ini.

Tiba-tiba datang seorang pria dengan wajah pucat dan agak gemetar memasuki studioku.

“Permisi, Mas! Saya mau tanya, perempuan yang di foto itu siapa?” tanyanya.

“Maaf, Pak. Saya sendiri juga tidak kenal. Hanya saja beberapa minggu yang lalu dia datang minta difoto. Katanya sih mau dikirim kepada suaminya. Namun sampai sekarang kok belum diambil juga.” kataku menjelaskan.

“Itu foto isteri saya. Beberapa malam dia hadir dalam mimpi saya, meminta saya datang ke studio Anda untuk mengambil fotonya agar kerinduan saya terobati. Ragu-ragu saya melakukannya. namun saya sangat terkejut begitu melihat fotonya terpasang di studio Anda ini.” cerita pria yang mengaku suami perempuan cantik itu.

“O, begitu?! Kalau begitu silakan diambil, pak!” kataku sambil menuju etalase dan menurunkan foto perempuan cantik itu.

“Berapa, Mas?” tanyanya.

“Sudah dibayar, kok.” kataku sambil mengingat bahwa uang foto itu lenyap tanpa ku ketahui kemana.

“Siapa yang membayar?” tanya pria itu heran.

“Ya, istri bapak itu!” jawabku.

“Mas, isteri saya ini sudah meninggal lima tahun yang lalu. Mana mungkin dia membayar Anda.” ucapannya kali ini membuat bulu tengkukku berdiri. Mungkin aku terbelalak saat itu, yang jelas aku shock.

“Isteri saya meninggal saat rumah kami kebakaran tengah malam. Saya sedang tak ada di rumah saat itu. Ketika saya pulang, saya hanya temui puing-puing rumah yang nyaris rata dengan tanah. Jasad isteri saya hangus. Saya menyesal, harusnya saya pulang saja malam itu.” lelak itu terdiam sejenak sambil menarik napas dalam-dalam, terlihat sekali dia sangat menderita.

“Saya terus membayangkan istri saya, saya berharap ini mimpi atau jasad yang ditemukan di rumah itu bukan dia. Saya membayangkan suatu saat dia datang lagi…” pria itu tak meneruskan kalimatnya. Tangannya bergetar saat meraba wajah perempuan di foto itu.

Mana mungkin aku memotret roh? Tapi, mengingat uang itu juga lenyap begitu saja. Dan beberapa foto ukuran post card yang ia lihat sebelum memesan ukuran besar ini ditingalnya begitu saja. Serta kedatangan dan kepergian perempuan itu yang seolah tak pernah ku sadari. Ini gila! Aku berbicara dengan roh? Ah, pria ini mungkin mengada-ada.

Senin, 15 Agustus 2011

Kisah Poligami Sukses

Pada akhirnya Seruni jatuh cinta kepada Karim, lelaki flamboyan keturunan Arab Mataram. Meski ia tahu, hal itu tak seharusnya terjadi.

Karim yang nama lengkapnya Abdul Karim, sudah beristri. Namanya Siti Karimah. Oleh karenanya, ibu mertuanya pernah bilang bahwa Karim dan Karimah (begitu mereka biasa dipanggil) telah dijodohkan terlebih dahulu oleh nama mereka. Seruni menghafal mati kalimat itu karena demikianlah mertuanya sering mengulang-ulang.
Seruni sendiri tak tahu, lebih memihak ke mana mertuanyaitu. Dirinya atau Siti Karimah? Karena, biar begitu seringnya ucapan-ucapan mertuanya itu menyakiti hatinya, namun tak jarang juga ia mendengar mertuanya mengais-ngais kekurangan Karimah.

Sebetulnya, dulu Seruni sempat menolak dan membatalkan pernikahannya dengan Karim. Namun, situasinya saat itu sangat mendesak. Bapak dan adik lelakinya mengusirnya secara halus agar tak lagi tinggal di rumah mereka yang sempit. Toh, Seruni sudah bekerja. Punya penghasilan. Jadi Seruni bisa kost atau kontrak, semacam itulah.
Namun Seruni sudah telanjur merasa diusir. Dibuang atau dicampakkan. Maka, diterimalah pinangan Karim. Lalu mereka dinikahkan oleh seorang Kiyai muda di mesjid sebuah Pondok Pesantren tradisional.

Awal pernikahan mereka disambut baik oleh keluarga Karim. Karimah, isteri Karim, pun wanita yang sangat baik. Super Woman, begitulah Seruni memberi gelar. Karena ia bersedia berbagi suami dengan perempuan lain. Mana ada perempuan di muka bumi ini yang mau dimadu? Mungkin mereka bahkan lebih memilih diracun atau diceraikan dengan hormat.

“Kenapa mbak Karimah mau berbagi suami dengan saya?” suatu ketika pernah Seruni bertanya pada madunya itu. “Apa mbak Karimah sudah ndak cinta sama mas Karim?”
Karimah tersenyum mendengar pertanyaan Seruni. Namun senyum itu kemudian berubah menjadi mendung. Mendung yang Seruni tak pernah tahu apa maknanya.

“Sudahlah dik Seruni, ndak usah dipertanyakan yang seperti itu. Ini semua sudah takdir. Mungkin kita berdua memang sudah dijodohkan sama Yang di Atas untuk saling berbagi.”

“Mbak Karimah, saya minta maaf.” Begitu ucap Seruni.

“Lalu, kamu sendiri kenapa mau dimadu? Kenapa kamu mau menikah dengan pria yang sudah menikah?” pertanyaan Karimah seperti menusuk balik hati Seruni, walau Seruni tahu Karimah tidak bermaksud demikian.

“Entahlah, Mbak. Yang jelas aku tidak tahu harus berlindung pada siapa, saat bapak dan adik lelakiku memintaku untuk meninggalkan rumah. Kalau aku harus kost, aku ndak yakin bakal tahan dengan godaan dalam pergaulan.” Seruni sendiri ragu-ragu dengan alasannya untuk mau dimadu.

“Begitu pun aku, dik. Aku tak tahu apakah Mas Karim bisa menahan godaan di luar sana ketika ia bosan denganku. Makanya, ketika ia meminta ijin untuk menikah denganmu rasanya aku tak perlu berfikir panjang. Daripada dia selingkuh atau menikah diam-diam. Itu akan sangat menyakitkan.” Ucap Karimah selanjutnya.

Jadilah kedua isteri Karim itu bersahabat, saling baku baik.
Dari awal Seruni berjanji akan menjaga perasaan Karimah. Maka, setiap mereka bertemu dan berkumpul bertiga, Seruni lebih memilih menempatkan diri sebagai adik Karim dan menganggap Karimah sebagai Kakak iparnya. Tak pernah ia berusaha menguasai waktu maupun kasih sayang Karim. Melihat sikap Seruni yang tak berusaha menguasai suaminya, Karimah pun berusaha mengimbanginya dengan menganggapnya sebagai adik.

Lain, Seruni, lain Karimah, lain lagi Karim. Dalam usahanya memperlanggeng rumah tangga poligaminya, ia harus jitu membuat berbagai strategi sehingga kedua isterinya merasa paling diutamakan. Merasa paling dicintai. Ia memanggil kedua isterinya dengan panggilan ‘Sayang’, karena kalau dipanggil cinta kok terkesan lebay. Rajin browsing di internet, mencari cara jitu menggombali perempuan. Wal hasil sih emang dapat dibuktikan. Baik Seruni maupun Karimah sama-sama merasa tersanjung bila berdekatan dengan Karim.

Namanya rumah tangga, baik yang monogami maupun yang poligami ya tetep aja ada kerikil-kerikil yang menyertainya. Hal ini juga yang jadi salah satu pedoman Karim bahwa punya isteri dua ada masalahnya, punya istri satu pun juga pasti ada masalah. Kenapa gak sekalian aja punya dua, kalau resikonya sama-sama ada masalah.
Pernah suatu ketika, Karim datang ke rumah Seruni dengan membawa buah durian. Padahal, Seruni tak terlalu suka durian. Namun yang namanya rejeki, pantang ditolak. Setelah habis buah durian mereka lahap, tak lama masuk SMS dari Karimah agar Karim tak lupa membelikan buah duren untuknya. Beruntung bagi Karim tidak tertelan biji duren demi ingat akan kelinglungannya.
Atau pernah suatu kali, sepulang dari kantor Karim bertanya pada karimah apakah ia tak mual-mual lagi?

Karimah yang sudah punya tiga anak jelas menjawabnya dengan mata membesar “Emang, Mas Karim mau aku hamil lagi?!”

Ups!!! Karim menyadari bahwa pertanyaannya salah alamat, harusnya pertanyaan itu untuk Seruni. Mungkin gara-gara sering salah alamat itulah akhirnya Karimah pun tertular ikut hamil.

Begitulah, cinta segitiga itu pun berjalan seperti yang diharapkan Karim. Namun tentu, dijaman seperti ini yang namanya poligami adalah sesuatu yang sangat menarik perhatian pro dan kontra.. Begitu pun mereka, di komplek lingkungan tempat mereka tinggal, banyak yang pro dan kontra. Namun jika melihat kerukunan Karimah dan Seruni, masyarakat pun dengan jujur mengangkat jempol bagi rumah tangga ‘aneh’ tersebut.

Demi melihat kelanggengan rumah tangga ini, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Syari’ah entah apa namanya, mendatangi mereka untuk bersedia membagikan informasi tentang rumah tangga ‘aneh’ ini sebagai bahan skripsinya.
Ada sebuah pertanyaan yang diajukan pada Karimah, sehingga Karimah menjawabnya demikian :

“Saya mencintai suami saya karena Allah, saya juga berusaha menjalani setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya dengan ikhlas. Mas Karim milik Allah, bukan milik saya. Kalau Allah mengambilnya, tak ada yang dapat saya lakukan. Kalaupun saya melarang Mas Karim menikah lagi, saya tidak akan menjamin pernikahan itu tidak akan terjadi suatu saat jika Allah telah mentakdirkan mereka berjodoh.”

“Apakah ibu tidak sakit hati?” Tanya sang mahasiswa.

“Ibarat kita makan suatu makanan, rasa manis dan pahit itu hanya sebatas tenggorokan. Setelah melalui tenggorokan, tak ada lagi rasanya.”
Dengan ekspresi yang tak bisa ditentukan, setelah mendapat informasi yang diperlukan, mahasiswa itu tersenyum dan pamit. Entah apa yang terbersit dalam benaknya. Mungkin do’a : Semoga rumah tangga ‘aneh’ ibu ini langgeng atau Semoga rumah tangga ‘aneh’ ibu ini cepat berakhir.

ENTAHLAH!
Balikpapan, 6 Juli 2011

Selasa, 02 Agustus 2011

jika aku marah

jika aku marah, peluk aku…
jika ku berontak, peluk lebih erat…
jika itu tak meredakan amarahku,
cobalah ucapkan kata maaf
meski kau tak merasa bersalah…

Senin, 01 Agustus 2011

Anakku Hanya Membela Diri…

  Anak sulungku Rahmah, baru saja lulus SMA. Aku sebagai ibunya yang single parents, sangat ingin dia melanjutkan kuliah. Namun apalah daya, dengan tiga orang adiknya yang masih memerlukan biaya sekolah dan bahkan biaya hidup kami berlima. Rasanya aku tak sanggup memenuhi keinginanku, melihat Rahmah menjadi sarjana. Apalagi aku yang hanya sebagai buruh pabrik tekstil rendahan.
  Bersyukur aku karena Rahmah anak yang penuh pengertian. Sejak menerima ijazah SMA-nya ia bertekad akan membantuku untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Sore itu dia pulang dan membawa kabar bahwa ia telah melamar di sebuah Penyalur Jasa TKI. Demi segera mendapatkan pekerjaan, aku pun merestuinya. Sedangkan yang harus aku perisapkan adalah membayar sejumlah uang untuk membiayai perjalanannya.
Akhirnya aku pun harus hutang ke sana kemari. Karena setelah menjual beberapa barang berharga kami, masih tak juga mencukupi. Namun aku bersyukur, orang yang mengantar Rahmah itu berjanji akan menutupi kekurangan biayanya, yang kelak akan dibayarkan dengan memotongnya dari gaji Rahmah.
  Tak lama, setelah beberapa bulan anakku di training, ada kabar berita bahwa Rahmah akan segera dikirim ke Arab Saudi sebagai pembantu. Senang sekali rasa hati ini. Akhirnya anakku bisa bekerja di Tanah Suci. Tanah penuh berkah Ilahi. Di sana berlaku Hukum Islam, yang bersumber dari hadits dan Al-Qur’an. Tentulah, keadilannya tak perlu diragukan. Aku yakin, Rahmah pasti aman.
  “Mak, doakan saya!” ucap Rahmah sambil mencium tanganku ketika hendak meninggalkan rumah. Aku melihat bening air di kedua matanya yang hampir meleleh, jika tak segera diusap dengan punggung tangan kanannya.
  “Pasti, Nak! Pasti! Doa mamak akan selalu dihiasi oleh namamu.” Ucapku terbata-bata.
  Tak sanggup rasanya aku berpisah darinya. Namun sekali lagi, mendengarnya bekerja di tanah suci, tanah kelahiran Kanjeng Nabi. Tanah yang selama ini hanya bisa kurindui, akan keinginan untuk bisa naik haji. Semoga Rahmah di sana diberkahi dan punya kesempatan untuk berhaji.
  Aku tak bisa mengantar Rahma sampai bandara. Karena itu akan memerlukan lagi biaya. Jadi, biarlah kami berpisah cukup di beranda rumah saja. Aku lepas Rahmah sampai mobil yang ditumpanginya hilang dari pandangan mata.
  Enam bulan Rahmah bekerja. Aku menerima telpon darinya, dia bilang majikannya sangat galak. Nyonya majikannya hampir-hampir tak memberinya waktu untuk istirahat. Jika ia berbuat salah sedikit, paling ringan adalah makian dan bentakan sebagai ganjarannya. Bahkan ia pernah juga disiksa dan tidak diberi makan.
Belum lagi majikan lelakinya, yang hampir-hampir menodainya. Rahmah menangis saat menelponku. Aku juga menangis, tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa bilang, “Bersabarlah, Nak!” Karena saat itu aku mengira setiap pekerjaan pasti ada godaannya.
  Setelah itu, aku tidak mendengar lagi kabar dari Rahmah. Tak ada lagi telepon darinya dan tak ada lagi kiriman uangnya. Aku berusaha mencari berita tentangnya. Aku pergi ke Penyalur Jasa TKI tempat Rahmah dulu mendaftar. Tapi tak seorang pun yang bisa ditanya. Kalau pun ada, orang itu sungguh tidak ramah. Bahkan orang yang dulu mengantar Rahmah ke rumah, kepadaku seolah-olah ia lupa.
  Setelah hampir setahun berlalu, aku membaca di sebuah Surat Kabar tentang Ruyati yang dihukum mati. Dalam Koran itu mencantumkan juga daftar nama orang-orang yang di penjara dan sedang menunggu giliran dieksekusi. Sungguh rasa kejutku bukan kepalang, disitu kutemui nama Rahmah. Lumpuh rasanya seluruh badan. Aku benar-benar tidak percaya.
  Sejak hari itu, hatiku tak pernah tenang. Wajah Rahamah berkelebat terus seolah memohon pertolongan. Entah berapa banyak sudah air mata dan do’a yang kupanjatkan, agar Rahmah bisa selamat dari tiang gantungan. Maafkan mamak, Nak! Hanya ini yang bisa mamak lakukan!
  Sungguh aku takut dianggap tidak beriman. Bukankah di sana berlaku hukum Islam? Bukankah Hukum Islam itu hukum Tuhan! Aku yakin Tuhan itu Maha Adil. Tetapi, bagiku hukuman yang dijatuhkan pada Rahmah ini sungguh-sungguh tak adil.
  Aku tak mengatakan Tuhan tidak adil. Aku hanya bingung. Apakah dalam Hukum Islam, tak ada pembela? Apakah di Arab sana orang-orang kecil tak berhak mendapat pembelaan? Apakah dalam Hukum Islam, qishas tetap berlaku jika pelaku membela diri saat dianiaya? atau mempertahankan kehormatan? Aku yakin, anakku hanya membela dirinya.


Balikpapan, 14 Juli 2011

Jatuh Cinta

setelah tujuh pekan berlalu
hari itu kau datang dengan wajah bersungging senyum
diiringin sebuah sapa; “hai, aku datang lagi!”

sungguh hari itu ingin ku katakan; “aku merindukanmu!”
namun yang terucap malah; “aku suka sandal jepitmu!”
dan aku pun memaki-maki atas kalimat yang telah menyatu dengan waktu

seolah menghibur kau bilang;
“aku selalu menyukai setiap kalimat yang kau ucapkan”
sepertinya kau selalu sengaja membuat wajahku merona

kemudian renyah tawamu berderai-derai, kau pasti mentertawakanku
“apa kabar hidupmu?” tanyamu
aku menjawab; “masih dalam koma”
lagi-lagi kau tertawa; “apa yang membuatmu koma?”
sungguh saat itu ingin ku katakan; “kaulah yang membuat hidupku koma”
“kau membuatku terkatung-katung dalam tunggu dan rindu”
“pesonamu membuatku terhenti untuk sementara waktu”
“karena aku belum ingin sampai ke titik!” jawabku ketus

kau pun tertawa, “sungguh aku selalu menyukai setiap ucapanmu”
aku menjerit dalam hati, “kenapa hanya ucapanku?”

lalu kau terdiam, menatapku tajam
sambil menggenggam tanganku, kau bilang; “aku ingin menemanimu sampai ke titik”

itu membuat sisi kanakku bertepuk tangan sambil meloncat-loncat
di sini, di dalam dada ini

Translate