Rejeki yang kita peroleh
setiap hari, tentunya tak lepas dari do’a-do’a orang yang sedang menjadi
tanggungan kita. Maka ketika kita telah memperolehnya, kenapa harus
kita tahan saat mereka (orang-orang yang menjadi tanggungan kita) itu
memerlukan?
Haruskah kita memberikan dengan pertimbangan mendahulukan yang mana yang lebih ‘sreg’ dengan hati kita, memilih mana yang lebih kita sayang? Yang lebih menyenangkan hati kita? Bukankah dengan demikian akan mengakibatkan mereka saling cemburu atau bahkan bisa juga membencimu?
Bagaimana jika yang lebih berhak atas rejeki itu tak ridho ketika kita telanjur mendahulukan orang yang lebih kita sayang?
Ingatlah, doa orang-orang yang terdholimi itu lebih cepat sampai pada Tuhan-nya. Mungkin tak sekarang, namun dampaknya akan lebih besar dan tak pernah kita duga.
Maka, berbuatlah adil. Tidak berlebihan pun tidak terlalu ketat menahan. Saat yang kita miliki habis, yakinlah itu artinya kita akan mendapatkan gantinya yang lebih baik. Semua rejeki itu telah diatur oleh Tuhan, dan akan berhenti saat kita bertemu ajal.
Salam,
Hing
Haruskah kita memberikan dengan pertimbangan mendahulukan yang mana yang lebih ‘sreg’ dengan hati kita, memilih mana yang lebih kita sayang? Yang lebih menyenangkan hati kita? Bukankah dengan demikian akan mengakibatkan mereka saling cemburu atau bahkan bisa juga membencimu?
Bagaimana jika yang lebih berhak atas rejeki itu tak ridho ketika kita telanjur mendahulukan orang yang lebih kita sayang?
Ingatlah, doa orang-orang yang terdholimi itu lebih cepat sampai pada Tuhan-nya. Mungkin tak sekarang, namun dampaknya akan lebih besar dan tak pernah kita duga.
Maka, berbuatlah adil. Tidak berlebihan pun tidak terlalu ketat menahan. Saat yang kita miliki habis, yakinlah itu artinya kita akan mendapatkan gantinya yang lebih baik. Semua rejeki itu telah diatur oleh Tuhan, dan akan berhenti saat kita bertemu ajal.
Salam,
Hing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar