Masih terlalu pagi, saat aku membaca sebuah SMS
dari seorang teman di Merauke yang berbunyi: Nisa, telpon aku. Aku lagi
sedih. Pengirimnya adalah Tia, teman sekolahku waktu masih SMA dulu.
Sekitar pukul sepuluh pagi, aku coba
menghubunginya. Kudengar ia mengucap salam sambil menangis. Mungkin dia
betul-betul sedang sedih. Belum sempat aku bertanya perihal kesedihannya, dia
sudah mulai bercerita panjang lebar. Begini ceritanya:
Tia menikah dengan Sony, seorang prajurit Angkatan
Darat. Tia sendiri baru diangkat sebagai seorang guru PNS di Merauke. Tadinya
mereka tinggal di Biak. Menurut Tia, kepindahan mereka ke Merauke sebetulnya
memang sangat diharapkannya. Biak membuat Tia hidup tak bisa tenang. Masalahnya,
mantan pacar suaminya yang juga sudah menikah, sering sekali telpon atau bahkan
terkadang datang ke kediamannya. Meski perempuan ini datang bersama anaknya,
namun tak pernah sekali pun datang bersama suaminya, hal itu cukup membuat Tia
merasa tak nyaman.
Jelas dong Tia merasajcemburu, melihat suaminya
masih bisa bercanda dengan mantan pacarnya. Pernah Tia mencoba menegur suaminya
dengan halus, bahwa dia tak suka mantan pacar suaminya itu datang ke rumah
mereka. Namun suaminya tak terlalu mengacuhkannya. Alasannya, toh perempuan itu
datang bersama anaknya, dan ada juga Tia bersama-sama mereka.
Pada akhirnya harapannya terkabul. Suaminya
dipindahtugaskan ke Merauke enam bulan yang lalu. Hanya empat bulan Tia
merasakan ketenangan di Merauke. Sejak dua bulan yang lalu dia merasakan ada
yang lain dengan suaminya. Kecurigaannya itu pun akhirnya terbukti.
Pada suatu pagi, saat suaminya sedang mandi, ada
miscall di HP sang suami. Di situ terbaca, “bapak”. Merasa mertuanya yang
menelpon, dan kebetulan ia juga sedang ‘ada’ yang ingin dibicarakan dengan
mertua, ia pun telpon balik ke nomor itu. Di luar dugaan, yang menjawab
bukannya mertua, melainkan sebuah suara yang telah dikenalnya, mantan kekasih
sang suami.
Mendidih darah Tia. Dengan gemetar ia menahan cemburu,
segera ditekannya ‘END’ untuk mengahiri. Namun ia sempat mencatat nomor yang
tertera dibalik nama ‘bapak’. Ketika di cocokkan dengan nomor di HPnya sendiri,
nomor itu memang bukan nomor mertuanya. Tia kecewa terhadap suaminya. Marah dan
benci bergumpal dalam dadanya karena telah dibohongi.
Saat suaminya selesai mandi, Tia pura-pura tak
terjadi apa-apa. Tiba-tiba telpon berbunyi kembali. Karena posisi Tia yang
lebih dekat dengan HP itu, maka ia berusaha menjangkaunya. Dilihatnya kata
‘bapak’ lagi yang terbaca pada layar.
“Bapak, Mas!” ucap Tia pura-pura tak pernah terjadi
apa-apa.
“Oh, ya. Mana!” Sony setengah terburu-buru
menyambar HPnya.
“Halo! Ya… baru selesai mandi. Oh, ya?! Lalu?….Ndak
apa, jadi jam berapa?” suara suaminya menjawab telepon. Tia sebetulnya berusaha
menguping, namun suaminya malah menjauh.
“Aku nanti gak bisa jemput Doni, Tia!” kata
suaminya setelah menerima telpon.
“Kenapa?” tanya Tia.
“Bapak minta diantar ke rumah Pak Sukiyar, masalah
watas tanah.” jawab Sony.
“O, ya sudah. Kalau gitu biar aku saja yang
jemput.”jawab Tia.
Hari itu, Tia ijin tidak mengajar. Ia betul-betul
ingin membuntuti suaminya. Singkat cerita, suaminya memang berbohong. Tia
melihat dengan mata kepalanya sendiri, mobil suaminya menuju terminal kota.
Bahkan ia melihat, suaminya membukakan pintu mobil untuk mantan kekasihnya.
Berderai-derai air mata Tia di balik helm standart
yang dipakainya. Ia bermaksud ingin terus membuntuti mobil suaminya, Tia ingin
tahu akan dibawa ke mana perempuan itu. Namun air matanya membuat pandangannya
kabur, dan ia sadar saatnya Doni pulang sekolah.
Begitulah, Tia mengahiri ceritanya dengan
mengatakan bahwa ia hendak minta cerai dari suaminya.
“Aku tak tahan lagi, Nisa!” ucapnya sambil terisak.
Aku cuma bisa mendengar tanpa memberi komentar apa
pun. Aku ikut menangis, merasakan kehancuran hatinya. Aku memintanya
memikirikan kembali akibat dari keputusannya dan mencari jalan yang lebih baik.
“Perceraian itu halal, tapi hal yang paling dibenci
oleh Allah.” kira-kira itu yang sempat kuucapkan padanya.
Setelah itu, aku sendiri tak ingat, apa yang
membuatnya mengahiri pembicaraan kami yang hampir satu jam itu. Ia berjanji
akan mengabariku perkembangan selanjutnya.
***
Aku sedang menjemur baju pagi itu. Tiba-tiba
kulihat Ria, gadis manis itu setengah berlari dengan berurai air mata
menghapiriku.
“Umi…., umi…, tolong lihat Mama!” pinta gadis
remaja itu sambil menangis.
“Kenapa Mamamu, Ri?” tanyaku khawatir.
“Ndak tahu, cepat mi… cepat! Umi ke rumah
sekarang…” pintanya memelas.
Tanpa berpikir panjang kukenakan kaus kaki dan
melapisi kerudungku dengan kerudung yang lebih panjang. Kemudian aku bergegas
pergi ke rumah Ria yang tak terlalu jauh dari rumahku.
Kulihat Pak Yanto, ayah Ria, di depan pintu
menghisap rokoknya dalam-dalam. Saat melihatku, seketika dibuangnya puntung
rokok yang tadi dihisapnya.
“Assalamualaikum, Pak Yanto!” aku mengucapkan salam
padanya.
“Wa alaikum salam, Bu Nisa!” jawabnya. “Ada perlu
apa, Bu?” tanyanya seperti tak menyukai kehadiranku.
“Maaf, Pak. Barusan Ria ke rumah…” belum selesai
aku bicara, ayah Ria sepertinya mengerti maksud kedatanganku.
“Iya! Maaf, Bu Nisa. Silahkan masuk. Mamanya Ria
ada di dalam. Maaf, saya harus segera pergi kerja!” tanpa mengucap salam, entah
lupa atau marah, Pak Yanto pun pergi diiringi suara motornya.
Ketika aku masuk, ruang tamu tanpa kursi itu
berhambur. Buku-buku berserakan seperti habis dilemparkan. Di ruang tengah,
Isti, adik Ria tengah merapikan mainannya. Kudengar Mama Ria tengah terisak di
kamarnya. Setelah kuucap salam, aku masuk mendekatinya. Aku duduk disamping
Mama Ria yang tengah menangis sambil memeluk kedua lututnya. Tak ada yang
kuucapkan. Hanya duduk membisu di dekatnya. Tangisnya begitu sedih,
sampai-sampai tanpa bisa ku tahan, air mataku pun ikut terjatuh. Ku peluk Mama
Ria, mencoba menenangkannya. Akhirnya dengan terbata dia pun mulai bercerita.
Ceritanya hampir sama dengan cerita Tia. Bahkan
Mama Ria hendak nekat membunuh dirinya karena merasa dihianati suaminya.
Astagfirullah! Tak ada yang kukatakan pada Mama Ria. Aku hanya mendengar,
berempati dengan perasaannya. Setelah kurasa dia mulai tenang, aku pun pamit
pulang.
Sampai di rumah, kulihat jemuran telah tersusun
rapi, mungkin Ria yang melakukannya. Ketika ku buka pintu, sambil mengucap salam,
Ria tengah membaca Al-Qur’an.
“Bagaimana Mama, Mi?” tanya Ria khawatir.
Aku tersenyum,
“Kamu sering membaca Al-Qur’an di rumah?” tanyaku
kembali.
Kulihat kepala Ria tertunduk sambil menggeleng.
“Sekarang, kamu pulang. Ajak mamamu membacanya
bersama-sama, sambil kau baca juga maknanya.” kataku pada Ria.
“Al-Qur’an ini obat penyejuk hati bisa dibaca kapan
saja.” lanjutku.
Ria mengangguk dan pamit sambil menciun tanganku.
***
Malamnya aku berfikir, apakah setiap pria punya
kecenderungan untuk memiliki hati yang bercabang? Tak puas dengan satu orang
wanita sebagai isteri di hatinya? Baik ayah Ria maupun suami Tia, sepertinya
mereka sekedar mencari selingan diluar rumah. Bagaimana dengan suamiku?
Memang aku tak pernah pacaran sebelum menikah.
Begitu diperkenalkan, seminggu berikutnya, melalui tanteku dia melamar. Dan
lamaran itu disambut baik oleh orangtuaku.
“Apa lagi yang yang mau kamu pertimbangkan? Dia
lama tinggal di pondok pesantren, sarjana teknik, dan punya pekerjaan.” begitu
tante bilang padaku yang langsung disetujui oleh orang tuaku.
Dan ternyata, Mas Hendy, suamiku, adalah orang yang
baik. Hampir-hampir dia tak pernah menyakitiku, walau sedikit pun. Selama tujuh
tahun pernikahan kami, tak pernah ia marah atau terdengar kata-kata kasar atau
menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Dan dia selalu memanggilku dengan
sebutan ‘Sayang’. Hatinya begitu lembut, bahasanya begitu santun. Aku sangat
menghormatinya. Sepertinya tak mungkin dia termasuk dari lelaki yang suka
mencari selingan.
Begitu hati-hatinya dia terhadap perasaanku,
sehingga jika aku sedikit diam atau marah, selalu dia yang lebih dulu meminta
maaf. Beliau adalah suami dan ayah yang sabar dan sholeh. Aku sangat
mempercayainya. Aku yakin dia tak akan membuatku kecewa. Dan aku tak berani
membayangkan apa yang terjadi pada Tia dan Mama Ria itu terjadi padaku. Isya
Allah tak mungkin.
***
Dua hari yang lalu, aku bongkar-bongkat lemari
buku. Susunan bukunya sudah tak beraturan, aku bermaksud merapikannya.
Kebetulan Mas Hendy sedang berada di Bogor dan rencananya pulang sore itu.
Supaya saat dia pulang nanti meja kerjanya rapi, pikirku dalam hati.
Saat menyusun buku-buku itu, aku menemukan sebuah
buku tabungan sebuah Bank Swasta. Tadinya kukira milik Mas Hendy, namun
ternyata nama yang tertera adalah Clara Raditya. Aku tak pernah mendengar nama
ini sebelumnya. Mungkin milik salah satu diantara anak-anak yang belajar setiap
Sabtu-Minggu di rumah ini. Tapi setahuku, diantara mereka tak ada yang bernama
Clara Raditya. O, mungkin milik saudara dari salah satu diantara mereka. Buku
tabungan itu kusimpan kembali dalam lemari, tentunya dengan posisi yang gampang
terlihat dan gampang dicari.
Setelah membersihkan buku-buku, beralih kubersihkan
tas-tas dan map-map yang bertumpuk. Sesekali aku membuka-buka isi tas atau
map-map itu untuk mengetahui isinya agar bisa dikelompokkan nanti jika disusun
dalam rak.
Diantara map-map itu ada satu map yang di dalamya
terdapat sebuah amplop cokelat besar bertuliskan ‘UNTUK YANG KUKAGUMI’. Aku
penasaran, kalau seandainya amplop itu untukku, adalah aku yang berhak
membukanya. Mungkin Mas Hendy akan memberiku sebuah kejutan, namun ketlisut.
Dan sekarang aku sendiri yang menemukannya.
Saat ku buka amplop coklat yang terlipat rapi itu,
di dalamnya ada sebuah foto berwarna ukuran 4X6, bergambar seorang gadis manis.
Masih dalam keadaan penasaran, ku lihat dibalik foto itu ada tulisan ‘Clara
Raditya, ST’. Hawa yang kurang sehat tiba-tiba saja menjalar dalam tubuhku.
Dadaku panas oleh cemburu. Hampir-hampir aku tak percaya, benarkah Mas Hendy
selingkuh?
Apa artinya sebuah foto dengan amplop bertuliskan
‘untuk yang kukagumi’ dan sebuah buku tabungan dengan nama yang sama? Gadis ini
belum pernah kulihat selama ini. Masih muda, mungkin baru lulus kuliah. Kutepis
kecurigaanku, mungkin ini saudaranya. Belum tentu benar prasangka ini. Ah,
Nisa! Kau telah menuduh sembarangan. Prasangka itu dosa! Teriak sebagian dari
batinku. Dan aku mencoba untuk meyakinkan diriku bahwa aku telah berprasangka
buruk. Betapa menyedihkannya jika tiba-tiba saja aku tuduhkan semua ini kepada
Mas Hendy dan ternyata tidak benar. Betapa malunya aku.
***
Sore itu, Mas Hendy datang sesuai rencana. Tak ada
delay pesawat. Syukur Alhamdulillah. Aku sambut dia dengan mencium tangannya,
dan dia memeluk sambil mencium keningku seperti biasa. Ahmad, anak kami yang
masih berumur tiga tahun berlari riang menyambut kedatangan abinya, yang
langsung disambut dengan gendongan dan ciuman. Tiba-tiba HP Mas Hendy berbunyi.
Diturunkannya Ahmad dari gendongannya, begitu melihat layar di HPnya mas Hendy
mengangkat telpon sambil keluar rumah, aku memperhatikannya dengan penuh
kehawatiran, curiga dan cemburu menari-nari didalam dadaku.
“Baru saja sampai di rumah,” jawabnya pada si
penelpon. “Iya.. ya. terima kasih,” lanjutnya.
“Jarwo, Yang. Dia tanya, abi sudah sampai rumah apa
belum.” ia memberitahuku siapa yang barusan menelpon.
Aku melihar ada sinar lain di matanya. Dalam hati
aku pun mulai meragukan ucapannya barusan, dia bohong!. Apa urusannya Jarwo
menghawatirkan perjalanan Mas Hendy? Apa urusannya Mas Hendy sudah sampai rumah
atau belum? Apa urusannya? Cuma dua kekasih saja yang bertingkah laku seperti
itu. Memangnya mereka berdua itu homo?
Tapi aku tak mau gegabah. Diam-diam, foto itu ku
amankan. Paginya, saat aku menyeterika seragam kerja Mas Hendy, kumasukkan foto
itu ke dalam kantong saku celana yang akan di pakainya. Buku tabungan kuambil
dan kuselipkan dalam laptop yang telah kurapikan ke dalam tasnya. Mas Hendy tak
menyadari itu. Dia pergi seperti biasa, tetap hangat sikapnya.
Siang hari, saat istirahat makan siang, biasanya
dia menelponku. Tapi ini sudah lewat jam tiga sore, satu sms atau miscall pun
tak ada. Apakah dia marah? Harusnya aku yang marah. Aku pun tak mau mengambil
inisiatif menelponya lebih dulu, meskipun aku ingin.
Sorenya, Mas Hendy pulang lebih awal. Saat itulah
baru kulihat perubahan sikapnya. Sikap serba salah, dan terlihat dia berusaha
sangat hati-hati agar tak terjadi kesalahan yang membuat kami jadi ribut.
Sebetulnya aku kasihan juga, tapi mungkin ini pelajaran baik untuknya. Aku pun
lebih banyak diam. Ya Allah, bantu kami keluar dari masalah ini.
Malam hari, dia baring di tempat tidur lebih dulu.
Tak ada cerita. Kuingat-ingat sejak dia pulang kantor sampai menjelang tidur
tak banyak kata yang diucapkannya. Sekarangpun dia asyik dengan sebuah buku di
tangannya. Entah, dia benar-benar membaca atau pura-pura.
Setelah menidurkan Ahmad, aku pun menyusul
berbaring di samping Mas Hendy. Cukup lama kami saling diam. Dan akhirnya aku
tak tahan untuk bertanya.
“Siapa Clara?” tanyaku.
“Kenapa, Yang?” tanyanya seolah tak mendengar apa
yang kukatakan.
“Siapa Clara? Clara Raditya!” ulangku dengan suara
gemetar menahan cemburu dan marah..
Mas Hendy meletakkan buku yang sedari tadi
dipegangnya. Kulirik dia seperti berusaha menenangkan diri. Kemudian
membalikkan badannya menghadap ke arahku. Aku menunggu penjelasannya, dalam
keadaan tak menentu.
Tiba-tiba, kurasakan badanku didekapnya erat sambil
menciumku. Aku berusaha meronta, namun tangisku malah pecah. Dia tetap memelukku,
mendekapku dalam dadanya, seolah hendak meredakan tangisku. Malam itu tak ada
yang kudengar sebagai penjelasannya atas Clara Raditya, foto, dan buku
tabungan. Kecuali ucapan maaf, dekapan erat dan ciuman hangat. Tak ada aku
mendengar. Betul-betul. TAK ADA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar