Minggu, 06 April 2014

mengikuti iramamu


saat ini:
aku, lebih memilih mengikuti iramamu
kau besedia menyapaku,
aku menyambutmu
kau acuhkan aku,
aku cukup menatapmu dari jauh
setingkah polahmu, 
cukup ku menontonnya
sampai nanti datang saatnya
ada tidaknya dirimu,
tak lagi mempengaruhi hidupku
maka saat itu,
tak akan ada bebanku
jika harus kehilanganmu

mengikuti iramamu
sekedar menyiapkan diri
saat harus benar-benar lepas darimu

Kamis, 27 Februari 2014

uzlah

memalu hati,
meng'kapak' rindu,
mengubur fitrah,
air mata membasah
di memar rasa
dalam simpuh
mengalir doadoa
sungguh, 

aku yang terlemah...

gn.tbk 250214

Kamis, 21 November 2013

My blue diary

Aku ini hanya seorang perempuan, lemah.
Menjadi kuat karena adanya buah hatiku.
Sungguh, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Menjadi orang tua tunggal dengan anak-anak yang masih sangat kecil.
Mereka semua mengira aku ini tangguh.
Kuat menghadapi semua musibah ini.
Masih sempat tersenyum dan ceria di depan murid-muridku.
Sesungguhnya aku ini rapuh.
Namun apalah yang bisa ku perbuat?
Selain bergantung pada pertolongan Alloh
Yang selalu menyelamatkan kami dari masa-masa sulit.
Sebelum kami sempat bertanya: "di mana pertolonganMu ya Alloh?"
Karena aku yakin, Alloh lebih dekat dari urat nadi.


Senin, 04 November 2013

Pintu Hidayah (Bagian 7/ selesai) : Menjadi Alien

Jenazah Lusi belum tiba saat aku sampai di sana. Aku melihat Tante Mia, adik dari ibu Lusi, sudah ada. Kami berpelukan. Dari Tante Mia, kudengar ayah Lusi dalam keadaan kritis di Rumah Sakit. Aku tak mau mendengar detil kejadiannya. Biarlah Lusi pergi, cukup dengan kata ‘kecelakaan’ penyebabnya. 

Tak lama jenazah Lusi tiba. Jenazah itu terbungkus plastik hitam, tak boleh dibuka. Semua orang tak akan bisa membayangkan, seperti apa keadaan Lusi di dalamnya. Rasanya aku ingin memeluknya, menciumnya. Mengucapkan semua rasa terima kasihku atas apa yang telah ia ajarkan kepada ku selama kami berteman.
Selamat tinggal Lusi. Lusi, yang lemah lembut, sabar dan suka mengalah. Begitu banyak kenangan yang telah kau ukir dalam hari-hariku. Walau sebenarnya masih banyak ruang yang kuingi kau terus mengukirnya. 

Banyak hal yang telah kau ajarkan kepadaku, walau masih banyak hal yang kuingin pelajari darimu. Lusi, aku ingin selalu mengenangmu. Kau yang telah mengisi hari-hariku bukan hanya sebagai seorang sahabat, kau bahkan sebagai seorang saudara yang hampir mendekati sempurna bagiku, kau juga seorang guru bagiku, memperkenalkaku pada pintu hidayah.
 
Malam itu juga jenazah Lusi disholatkan kemudian dimakamkan. Aku tak bisa menahan kesedihanku saat orang-orang membawa Lusi ke dalam keranda, lalu pergi menuju peristirahatan terakhirnya. Lagi-lagi aku hampir pingsan, badanku lemah tak bertenaga. Aku dibaringkan di ranjang Lusi. Aku teringat saat pertama kali datang ke rumah ini. Saat itu Rani sedang ada di tempatku berbaring saat ini. Lusi, Rani, semua telah menghada Ilahi. Tinggal aku menunggu giliran.
 
“Lusi. Mudah-mudahan kita dipertemukan kembali di kehidupan yang akan datang.” kataku lirih pada foto Lusi yang dibingkai kecil dekat meja belajarnya.
***
 
Al-Qur’an dan Terjemah pemberian dari Lusi kusentuh untuk pertama kali. Saat kubuka, mataku tertuju pada terjemahan ayat yang terletak di ujung bawah sebelah kanan: “Dan katakanlah kepada perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang terbiasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkankain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka, putra putri mereka ….(dst)”
 
Entah kenapa terjemah dari surat An-Nur ayat ke tiga puluh satu itu terngiang-ngiang dikepalaku sampai berhari-hari. Ah, mungkin karena kebetulan saja, kebetulan terjemahan pertama yang terbaca, disaat pertama kali membukanya adalah surat itu. Tetapi lagi-lagi aku tak mengerti terhadap kata-kata ‘hendaklah mereka menutupkan kerudung hingga ke dadanya’ seperti menggema dalam dadaku.

Bila Al-Qur’an yang menyuruh para perempuan menutup kerudungnya hingga ke dada? Itu berarti perinta Allah. Berarti jilbab itu bukan pakaian adat Timur Tengah seperti yang kuterimakan dalam pengertianku selama ini, pikirku dalam hati.
 
Minggu berikutnya suatu kebetulan sekali, materi ceramah Ustadzah tentang aurat. "Dahulu," bilang Ustadzah itu, "umat Islam boleh terlihat lehernya sebelum ayat dari Surah An-Nur ini turun. Bukankah Anda sekarang berada pada zaman dimana surat ini telah diturunkan? Wanita, cantik ataupun tidak secara fisik. Jika mereka sudah keluar rumah dan terlihat oleh kaum pria, maka setan-setan akan sibuk menghias dan melukis pada bagian-bagian tubuhnya sehingga membuat setiap pria tertarik. Maka saudariku, hukumnya adalah wajib bagi kaum wanita menutup auratnya. Semua yang diperintahkan Allah adalah untuk kepentingan dan kebaikan makhluk-Nya." 
Selama perjalanan pulang dari majelis taklim itu, aku pun menjadi yakin untuk menutup auratku mulai detik itu.
 
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah memakai baju panjang lengkap dengan jilbabnya. Tak ada komentar dari ayah, ibu maupun Diana. Namun saat tiba di sekolah, beberapa pasang mata memandang aneh ke arahku. Bisik-bisik dan pandangan sinis mereka yang betul-betul menguji kesabaranku.
 
“Ssst, Hera pakai jilbab. Nutupin tompelnya, tuh!”
 
“Masih kelihatan juga,” diiringin de
ngan tawa sinis mereka.
 
“Washbir ‘alaa maa ashoobaka, inna dzaalika min azmil umuur.” penggalan sural Luqman ayat 17 tersebut terus kukumandangkan dalam hati yang berarti: dan bersabarlah atas semua yang manimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)
 
Penampilanku hari itu membuatku seperti alien. Beberapa orang guru yang mengajar hari itu pun sebagian melihatku dengan muka geli akibat komentar-komentar sebagian dari teman-teman, yang bagiku sangat menyakitkan namun entah mengapa menurut mereka menggelikan. Namun sebagian guru yang lain, mendukungku dengan mengucap syukur Alhamdulillah.
 
Seperti Ibu Istiqomah, guru agama Islam. Beliau mendekatiku khusus membisikkan kalimat ini, “Dan hamba-hamba Allah itu, mereka berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menggoda mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.
Aku tersenyum, kuucapkan terima kasih kepada ibu Istiqomah sebelum beliau pergi meninggalkanku.
Lus, temanmu si tompel ini tengah belajar memandang dunia seperti yang pernah kau ajarkan.
 

Pintu Hidayah (Bagian 6) : Kepergian Lusi

Sabtu sore sehabis magrib, Lusi datang dengan membawa bungkusan besar yang dimasukkan dalam kresek hitam.

“Her, besok aku ndak pergi taklim. Ayah mengajakku ke rumah Mbah Putri di Batu. Ini, kado ulang tahun untukmu.” katanya membuatku terkejut.

“Sekarang tanggal tiga belas kah?” tanyaku. Ya Allah, aku sendiri bahkan lupa pada ulang tahunku.

Lusi tersenyum, lalu dipeluk dan diciumnya aku, “Selamat Ulang Tahun, Sahabatku.” bisiknya di telingaku.

“Terima kasih, Lus! Begitu besar perhatianmu.” kupeluk erat dia.

“Sama-sama, Her. Kuharap kamu menyukai pemberianku ini. Maaf, aku harus segera pergi, ayah menungguku.” katanya kemudian.

Bungkusan itu kubawa masuk ke dalam kamarku.

“Apa itu, Her?” tanya Diana, kakakku, saat ia melihatku.

“Dari Lusi, rupanya sekarang tanggal tiga belas ya?!” tanyaku seolah kutujukan pada diriku sendiri.

“Ooo.., rupanya adikku lagi ulang tahun. Selamat Ulang Tahun.” ucap Diana sambil memelukku.

“Makasih,” kataku.

Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan halaman rumah. “Kayaknya Jundi, tuh!” kataku.

“Kami mau nonton,” kata Diana. “Mau ikut?”

“Nggak, ah! Ngganggu!” jawabku.

“Syukurlah, kalau ndak mau.” katanya sambil ngeloyor. “Her, pamitkan sama ibu!” lanjutnya sebelum menutup pintu.

“Din, jangan lupa pulang bawa tela-tela!” teriakku. Diana melambaikan tangannya.

Aku membuka bungkusan dari Lusi yang dibungkus dengan kertas kado warna biru. Didalamnya ada dua potong rok panjang warna hitam dan biru malam. Sebuah blus motif bunga-bunga lengan panjang, sebuah baju kaos warna hitam lengan panjang serta dua jilbab kain warna putih dan hitam. Masih ada lagi, sebuah Al-Qur’an Terjemah terbitan Syamil.
Setelah puas aku mencoba semuanya, aku membuka Al-Qur’an dengan sampul kulit warna hitam itu. Di dalamnya kutemukan sepucuk kartu ucapan yang berbunyi: “Friend, I love the sound of that word and so glad we are just that. HAPPY BIRTHDAY to My Wonderful Friend. Yours, Lusi”

Terima kasih Lusi, kataku dalam hati. Tapi entahlah, kapan aku memutuskan untuk memakai jilbab ini sebagaimana dirimu.

Hari Minggu aku pergi ke Taklim di Mushola Khadijah tanpa Lusi. Sudah ada beberapa teman yang aku kenal, jadi aku tak canggung lagi

Minggu sore, Tia, teman taklim kami yang juga tetangga Lusi bertamu ke rumah. Wajahnya nampak murung.

“Hera sudah dengar berita tentang Lusi?” tanyanya.

“Oh, iya. Dia ke rumah neneknya di Batu, kan?” kataku.

“Iya, tapi bukan itu maksudku.” katanya lagi.

“Berita yang mana?” tanyaku bingung.

“Lusi kecelakaan,” katanya yang membuatku kaget.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” ucapku seketika. “Di rumah sakit mana sekarang?” tanyaku.

“Lusi meninggal, Her.” katanya diikuti isak tangisnya.

“Innalilahi wa innalillahirojiun.” kataku lagi.

Tiba-tiba saja aku lemas. Lusi meninggal? Tidak! Aku tak percaya. Baru tadi malam ia ke sini, ke rumah ini, memberiku kado ulang tahun. Dunia terasa gelap. Aku sangat sedih, sampai-sampai aku pingsan. Saat kubuka mataku, aku telah berada dalam kamar. Bapak, Ibu, Diana dan Tia mengelilingiku.

Tangisku pecah, ibu memelukku. semua orang menangis melihat kesedihanku. Tuhan, rasanya aku belum lama mengenal Lusi. Masih banyak hal yang kuingin belajar dari sikapnya memandang hidup ini. Tuhan, Lusi satu-satunya teman yang mampu merubahku dalam memandang hidup ini. Aku terus menangis sambil menyebut nama Lusi.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan mati. Kemudian hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” Tia menyitir surat Al-Ankabut ayat 57. Aku ingat, Waktu Rani meninggal, Lusi pernah juga membaca ayat itu.
Setelah aku agak tenang, aku pergi ke rumah Lusi diantar ibu, ayah, Diana dan Tia. Sepanjang jalan menuju rumah Lusi air mata ini tak bisa kubendung. Jilbab warna hitam, kado ulang tahunnya yang saat itu kukenakan, basah oleh airmataku. Lusi, Jilbab ini, baju ini, kau berikan untukku kenakan saat mengantar kepergianmu selamanya.

Samira

perempuan yang berjalan menembus hujan
berharap :
esok matahari membawa kekuatan baru
bulan mengembalikan kelembutan malamnya
ia bertanya :
sanggupkah hujan menghapuskan kekhawatiran?
akankah angin meniupkan kekuatan?
Samira berjalan menembus hujan
menyusuri pelan kehidupan
dalam harapan
berhenti pada ujung indahnya,

Hing
Bpp,04112013

Teguh

tak perlu kau tanya
tentang keadaanku
sebab terpisah,
bukanlah kehendak kita
cercaan datang
tak hanya dari delapan penjuru arah
atas,
bawah,
dan segenap celah
hadir menusuk,
mengorek,
menghantam,
semampu apa saja mereka bisa
tak perlu kau tanya
tentang keberadaanku
sebab aku mencintaimu
hingga saat pelangi membakar bintang-bintang
dan hujan membasuh luka kita

Hing,
Bpp Nopember 2013

Translate