Kamis, 04 Agustus 2016

Anakku Tak Tertarik Untuk Sekolah



Suatu hari, saya dikejutkan dengan permintaan putra ke tiga saya. Permintaan itu adalah TAK MAU SEKOLAH.
Kebetulan, kami baru saja pindahan dari Balikpapan ke Samarinda. Saya melihat dia sangat antusias saat kami mulai berkemas. Pindah mendadak, sebab ada sebuah sekolah yang memerlukan tenaga saya di sana. Berita itu hari Jumat saya terima, dan perintahnya, hari Ahad sudah ada di sana sebab Senin sudah mulai tahun ajaran baru.

Sampai di Samarinda, kami mulai mencari sekolah untuk Hilal, putra ke tiga saya. Tiba-tiba dia memohon : 'Ummi, mas tak nak sekolah."
"Lho...?!" saya menanggapinya sambil lalu saja. Saya mengira ia hanya bosan dan masih ingin menikmati libur panjangnya.

Hari berikutnya, abinya mulai membicarakan kembali tentang sekolahnya. Rupanya dia menyimak, tak pergi main seperti biasa.

Suatu malam, dia bilang; "Ummi, mas mau jadi kecil lagi. Biar bisa bobok sama ummi." 
Saya tertawa mendengar ucapannya.
Lalu, "Ummi, mas ndak mau sekolah. Biar mas di rumah saja. untuk belajar membaca Al-Qur'an saja."
"Begitu, ya?" saya bergumam
"Iya." jawabnya
"Mas punya cita-cita?" tanya saya.
"Punya, dong."
"Apa cita-citanya."
"Jadi marbot," jawabnya sambil tersenyum.

Saya terdiam. Cita-cita yang tak memerlukan ijasah tinggi. Saya mulai menghubungkan beberapa kali keinginanannya untuk berhenti sekolah. Mungkin ia serius.

Sebetulnya Hilal anak yang cukup cerdas. Sebab selama ini ia selalu masuk lima besar di kelasnya.
Sepertinya dia sangat menyadari bahwa kemampuannya tak seperti kedua kakaknya. Namun, apakah harus berhenti belajar?

Marbot adalah cita-cita luar biasa. Malam itu, saya pandangi Hilal yang tengah tidur pulas. 
Maa Syaa Allooh... Anak yang baru berusia sepuluh tahun,  tahu pekerjaan yang bisa mendekatkan dirinya dengan Alloh.

Saya bukan ibu yang mewajibkan anaknya untuk belajar ilmu umum atau ilmu fardhu kifayah. Saya hanya ingin anak-anak mempelajari ilmu yang bersifat fardhu 'ain. Ilmu yang lebih diwajibkan untuk dipelajari sebagai bekal di kehidupan mendatang.

***

Suatu sore bersama Hilal, saya memulai pembicaraan lagi tentang cita-citanya.
"Bener, mas ingin jadi marbot?"
"Iya." ucapnya
"Ingin jadi marbot. Bukan berarti mas harus berhenti belajar, bukan?"
"Tapi mas tak suka sekolah." 
"Jadi marbot juga harus tahu hukum Alloh, kan?"
Hilal terdiam
"Bagaimana, Mas?" tanya saya lagi.
"Mas mau ngaji, di TPA. Mas gak mau belajar IPA. Mas cuma suka matematika saja."
"Kalau masuk Rumah Qur'an, bagaimana?"
"Belajar Qur'an saja?" dia balik bertanya
"Insya Alloh." jawab saya.
"Tapi coba dulu ya, Mi? Satu minggu." katanya
"Lho, kalo mau coba ya harus satu tahun." saya mencandainya.
"Kalau gak tahan, bagaimana?"
"Ya, ditahan." jawab saya

Senin tanggal 1 Agustus, Hilal diantar ke Rumah Qur'an di M Yamin Samarinda. Untuk menjempun cita-citanya sebagai marbot.


Rabu, 26 November 2014

Nylon Strap Watch

Nylon Strap Watch: Nylon strap watch by Zalora, this nylon watch has a cute color, baby pink combined with gold crown-guard, perfect watch for everyday use. Casual watch that will steal everyone eyes. air this watch with white shirt, blue jeans and a sneakers for a normcore style.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LG5n7

Rabu, 05 November 2014

Sakaratul Maut


Cerpen Hilda W
Joe ditahan, ada borgol mengikat kedua tangannya. Dia jadi tersangka pembunuhan Mary. Sedang aku, menjadi saksi. Aku tahu, Joe mungkin tak bersalah. Mungkin dia hanya sebagai jalan bagi kematian Mary. Ah, entahlah bagaimana aku harus menjelaskannya.
Aku, Joe dan Mary telah lama bersahabat. Kami biasa jalan bertiga, ke mall atau diskotik. Kadang nonton ke bioskop. Selama ini kami hanya bersahabat, saling traktir bergantian, tak ada hubungan special semacam cinta-cintaan. Joe bukan tipe cowok yang diinginkan Mary, apalagi aku.
Joe bertubuh kurus kerempeng, wajahnya lumayan, bisa dikategorikan cakep. Tapi sayang, Joe bukan cowok pintar, sangat cenderung pada bodoh bahkan. Mungkin disebabkan kecanduannya pada morphine. Joe pelupa, suka tulalit, yang tulalitnya itu justru membuat ia jadi kocak. Kami berdua tahu, Joe cinta berat sama Mary.
Mary adalah temanku sejak masih di Junior High School. Wajahnya jauh lebih cantik dariku. Orang tuanya cukup kaya, dialah yang sering mentraktir kami. Dia cewek periang, nyaris tak pernah kulihat ia sedih. Kami tinggal satu kamar kost.
Hari itu Joe datang ke kost kami. Dia punya ‘barang’ dan ingin mentraktir kami. Mary dengan senang hati menerima. Maka pergilah kami bertiga, menuju hotel yang telah dipesan oleh Joe.
Di dalam kamar Hotel malam itu, aku dalam keadaan mabok berat, terbaring di ranjang. Joe duduk di tepi ranjang. Dia dan Mary hendak turun ke diskotik melanjutkan pesta, malam itu. Mary menelan ineks sebelumnya.
Tak lama setelah itu, entah datang dari mana tiba-tiba sebuah makhluk yang maha mengerikan berdiri di depan Mary. Mary histeris, aku pun ketakutan melihatnya. Aku juga ingin teriak, tapi aku tak sanggup, aku hanya menunjuk makhluk itu. Makhluk itu mendekati Mary, teriakan Mary makin kencang. Aku tak menyalahkannya sebab aku juga sangat ketakutan melihatnya.
Mungkin Mary meminta tolong pada Joe. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya teriakan yang makin lama makin keras dengan matanya yang melotot ketakutan. Joe mengira Mary sakaw. Joe benar-benar panik.
Joe membuka lemari es, semula ia mengambil air mineral dan memaksa Mary meminumnya. Tapi Mary tetap teriak, lalu ia mengambil susu dan lagi-lagi memaksa Mary meminumnya hingga tertumpah-tumpah.
Joe melihat ke arahku yang tentu tak ada harapan bisa membantunya untuk menenangkan Mary. Joe menyuruh Mary diam sebab ia tak ingin teriakan itu mengundang petugas hotel masuk ke kamar kami.
Ia mencoba membungkam mulut Mary, aku melihat makhluk itu makin dekat ke wajah Mary yang semakin histeris. Joe membanting tubuh Mary dan jatuh dekat kakiku, lalu menyambar bantal disampingku, untuk meredam suara Mary. Lamat-lamat aku melihat makhluk itu menghilang seiring surutnya teriakan Mary. Tak lama kemudian aku melihat petugas keamanan mendobrak pintu kamar kami. Lalu aku tak ingat apa-apa lagi.
Pagi ini aku melihat Joe tengah diperiksa oleh petugas. Mukanya kuyuh, ada penyesalan atau entah. Ketika mata kami beradu, ia pun menunduk. Aku tahu Joe tak bersalah, Joe tak bermaksud membunuh Mary sebab Joe mencintai Mery. Kematian Mary malam itu adalah takdir. Mungkin makhluk mengerikan itu malaikat maut. Tapi, siapa yang percaya pada omonganku? Orang yang mabuk berat?

Senin, 27 Oktober 2014

Ungkapan Sederhana untuk Istri Tercinta


M. Fauzil Adhim

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap,
Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi. 

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.


Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.


Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda
melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita rnenjerit karena cubitannva yanq bikin sakit.


Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. 

Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan. 

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang
harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.


Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa
banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.


Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?"


Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si
mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah.


Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari
kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku."


Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. 


Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. "Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah," kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk
selalu berbuat baik."


Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya, apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat rnenggerogoti wajahnya, jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya?
Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri ? Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri.


Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya.


Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.

Cinta

Cinta adalah yang kau rindu saat tiada.
Maka jangan kau siksa jika kau tak cinta
Katakan sejujurnya
Agar ia tak makin kecewa
Dan kau tak hanya memberi harapan belaka

Tujuan, Prjalanan dan Tempat

Ketika tujuan bergeser, arah perjalanan pun bergeser juga. Ketika tujuan sudah keliru, maka perjalanan akan sampai ke tempat yang salah.

Minggu, 26 Oktober 2014

Ke Taman Alun-Alun Kota Malang

bermain Bola, Adik udah ambil bola masih mau ambil ulat yang jatuh....



"Lempar, nih..." bilang adek


"Ayo dek... lempar jauh-jauh... " bilang abang

"Ummi, Sabtu depan ke mana lagi?" 


Translate