Sabtu, 28 September 2013

Rindu Ibu

dengan suara lembut bibirmu
lesung di pipi,
gelitik di jiwa,
perisai dingin,
dalam pelukan rindu

mengenang 20 tahun almarhumah ibuku

Minggu, 28 Juli 2013

Surat Dewi Uma Kepada Manikmaya

Suamiku Manikmaya, alias Betara Guru, sang penguasa Kahyangan.

Semua orang tahu kamu tak hanya tampan,
kesaktianmu pun tak ada tandingan.
Musuh-musuhmu selalu dengan mudah kau kalahkan.
Karenanya kau pun jadi pujaan setiap perempuan.

Tapi sungguh, kamu keterlaluan.
Hampir setiap pekan selalu saja punya selingkuhan.
Kau telah membuat hidupku penuh penderitaan.

Wanita manapun tak akan tahan,
punya suami di luar sana hobinya cari selingan.
Berkali-kali ketahuan, dan tak kurang-kurang aku memaafkan.

Saat kau sakit, kau memintaku mencari susu dari seekor lembu hitam.
Aku pun keliling jagat berusaha menemukan.
Sebagai bukti bahwa cintaku tak perlu kau ragukan.

Siang malam tak lelah aku berjalan.
Hingga dalam keputusasaan, kutemukan juga pengembala lembu hitam.
Lembu itu bernama Lembu Andini.
Kepada pengembala itu, perihal sakitmu pun kuceritakan.
Dia pun mau memberikan susu lembu hitam, tapi sayang tidak gratisan.
Tak masalah bagiku, berapapun uang yang harus kubayarkan.
Tapi dia tak minta uang, melainkan minta dibayar badan.
Aku pun nyaris pingsan

Aku sungguh berada dalam dilema.
Jika tak kubayar badan, susu tak kuperoleh, dan kau akan mati.
Jika aku ingin kau tetap hidup, artinya aku akan ternoda.
Ini membuatku perang batin, perang pikiran.

Sebagai keinginanku adalah melihatmu tetap hidup,
dan akhirnya kuserahkan diriku penuh pengorbanan.
Demi mendapatkan susu dari seekor lembu hitam.
Bagaimana mungkin kau sebut ini sebagai penghianatan?

Kau pun lupa daratan.
Tak ingat dari mana kau minum susu lembu hitam
sehingga penyakitmu hilang.
Namun dengan marah kau putuskan aku tanpa ampunan.
Dengan mengasingkanku dalam sebuah hutan Setra Gandamayit,
sebagai hukuman.

Betapa murkanya aku,
ketika kutahu penyakit dan susu lembu hitam itu hanya rekayasamu belaka.
Kau jebak aku, dalam dua pilihan yang membuatku bingung luar biasa.
Pengembala lembu Andini itu ternyata dirimu sendiri.
Itu berarti, anak yang ada dalam kandunganku saat ini adalah anakmu sendiri.
Namun kau bilang ini buah perselingkuhan.

Aku pun terpuruk dalam kesedihan.
Sehingga tak hiraukan anak yang berada dalam kandungan.
Hatiku hancur berantakan.
Bercampur amarah dan dendam.
Berjuta racun dalam dada ini ingin segera kumuntahkan.

Dan kini, aku Dewi Uma yang dulu kau puja-puja,
sekarang telah menjadi Betari Durga.

Fiksi Surat Cinta Kompasiana 13 Agustus 2011 by Hilda W

terpuruk

menunggu keajaiban.... 
bersabar ...
tawakal ....
sudah kulakukan
tolong air mata,...
jangan keluar...
khawatir ikhlas itu hilang...

Patah Hati

pada air mata
ingatan kututup dalamnya luka

Gutem 28072013

TERSADAR

bahwa dosa membuatku gelisah
tak sanggup aku mencurangimu
saat menatap wajah-wajah
di sana terbias wajahmu

(catatan malam hari 7713)

Jumat, 19 Agustus 2011

Perempuan di Studio Foto

“Mas, saya mau foto.” suara seorang wanita itu mengagetkanku.

Heran, aku bahkan tak mendengar pintu studioku dibuka. Atau mungkin karena aku yang sedang asyik membaca novel yang berjudul “Aku Mencintai Pribumi” sehingga tak mendengarnya.

“Silakan, Bu.” kataku mempersilahkan perempuan cantik itu sambil mempersiapkan peralatan.

“Saya mau kirim foto-foto ini untuk suami saya. Jadi tolong usahakan yang bagus ya, Mas!” pintanya.

“Saya usahakan,” jawabku

Kemudian aku mengambil beberapa foto dengan gaya yang berbeda. Setelah selesai, kembali aku membereskan peralatan. Ketika aku berbalik ternyata perempuan cantik itu sudah tak ada.

“Lho, kok sudah pergi? Dicetak ukuran berapa ini? Kapan pula diambilnya? Ah, biar sajalah. Dia pasti kembali juga. Biasanya perempuan cantik selalu tak memperhatikan yang begini” kataku dalam hati tak jadi menulis pada nota yang sudah kusiapkan di atas meja. Akhirnya kuputuskan untuk mencetaknya dalam ukuran post card saja.

Seminggu kemudian, perempuan cantik itu datang lagi, setelah melihat hasil potretanku dia merasa puas dan meminta satu foto untuk dicetak ukuran besar.

“Berapa semuanya, Mas?” tanyanya.

“Enam puluh lima ribu rupiah, Bu.” Kataku menyebut jumlah yang harus ia bayar.

“Ini,” katanya sambil menyodorkan uang seratus ribuan. “Ndak usah pake kembalian. Tapi tolong setelah dicetak ukuran besar Anda pasang di depan studio Anda agar semua orang bisa melihatnya.” begitu katanya

“Baik. Terima kasih, Bu.” kataku. Aku langsung ingat pada Mira. Ya, hari ini aku janji akan membayar hutangku. Uang itu pun kumasukkan dalam saku baju. Ku tengok jam menunjukkan pukul sembilan malan. Sebentar lagi sepulang dari cafĂ© tempatnya bekerja, Mira pasti mampir ke sini.

“Jaka!!!” suara diiringi bunyi derit pintu studio yang terbuka. Ku lempar senyum pada perempuan chubby itu.

“Sudah ada?” tanyanya yang kubalas dengan anggukan sambil merogoh kantung bajuku. Astaga!!! kemana uang tadi. aku yakin tadi kukantongi di saku baju. Ndak mungkin aku lupa pada kejadian yang hanya beberapa menit yang lalu.

“Kenapa?” tanya Mira saat melihatku. “Kalau belum ada, besok-besok saja.” katanya.

“Ada… ada, kok. Tunggu!” akhirnya aku mengambil uang dari laci dan diterima oleh Mira.

Sambil mengunci studo, aku masih tak habis pikir kemana lenyapnya uang itu?

Keesokan harinya, sesuai permintaan perempuan itu fotonya yang ukuran besar kupajang di etalase studio. Wah, cantik sekali. Sebetulnya dia sangat cocok untuk jadi seorang model. Sungguh beruntung suami perempuan ini.

Berhari-hari aku menunggu perempuan cantik itu untuk mengambil fotonya, namun dia tak juga datang. Tapi studioku jadi agak ramai dengan adanya Foto perempuan cantik yang ku pajang di etalase. Ada yang ingin di foto dengan gaya seperti perempuan itu, ada juga yang sekedar menikmati keindahan makhluk ciptaan Tuhan ini.

Tiba-tiba datang seorang pria dengan wajah pucat dan agak gemetar memasuki studioku.

“Permisi, Mas! Saya mau tanya, perempuan yang di foto itu siapa?” tanyanya.

“Maaf, Pak. Saya sendiri juga tidak kenal. Hanya saja beberapa minggu yang lalu dia datang minta difoto. Katanya sih mau dikirim kepada suaminya. Namun sampai sekarang kok belum diambil juga.” kataku menjelaskan.

“Itu foto isteri saya. Beberapa malam dia hadir dalam mimpi saya, meminta saya datang ke studio Anda untuk mengambil fotonya agar kerinduan saya terobati. Ragu-ragu saya melakukannya. namun saya sangat terkejut begitu melihat fotonya terpasang di studio Anda ini.” cerita pria yang mengaku suami perempuan cantik itu.

“O, begitu?! Kalau begitu silakan diambil, pak!” kataku sambil menuju etalase dan menurunkan foto perempuan cantik itu.

“Berapa, Mas?” tanyanya.

“Sudah dibayar, kok.” kataku sambil mengingat bahwa uang foto itu lenyap tanpa ku ketahui kemana.

“Siapa yang membayar?” tanya pria itu heran.

“Ya, istri bapak itu!” jawabku.

“Mas, isteri saya ini sudah meninggal lima tahun yang lalu. Mana mungkin dia membayar Anda.” ucapannya kali ini membuat bulu tengkukku berdiri. Mungkin aku terbelalak saat itu, yang jelas aku shock.

“Isteri saya meninggal saat rumah kami kebakaran tengah malam. Saya sedang tak ada di rumah saat itu. Ketika saya pulang, saya hanya temui puing-puing rumah yang nyaris rata dengan tanah. Jasad isteri saya hangus. Saya menyesal, harusnya saya pulang saja malam itu.” lelak itu terdiam sejenak sambil menarik napas dalam-dalam, terlihat sekali dia sangat menderita.

“Saya terus membayangkan istri saya, saya berharap ini mimpi atau jasad yang ditemukan di rumah itu bukan dia. Saya membayangkan suatu saat dia datang lagi…” pria itu tak meneruskan kalimatnya. Tangannya bergetar saat meraba wajah perempuan di foto itu.

Mana mungkin aku memotret roh? Tapi, mengingat uang itu juga lenyap begitu saja. Dan beberapa foto ukuran post card yang ia lihat sebelum memesan ukuran besar ini ditingalnya begitu saja. Serta kedatangan dan kepergian perempuan itu yang seolah tak pernah ku sadari. Ini gila! Aku berbicara dengan roh? Ah, pria ini mungkin mengada-ada.

Senin, 15 Agustus 2011

Kisah Poligami Sukses

Pada akhirnya Seruni jatuh cinta kepada Karim, lelaki flamboyan keturunan Arab Mataram. Meski ia tahu, hal itu tak seharusnya terjadi.

Karim yang nama lengkapnya Abdul Karim, sudah beristri. Namanya Siti Karimah. Oleh karenanya, ibu mertuanya pernah bilang bahwa Karim dan Karimah (begitu mereka biasa dipanggil) telah dijodohkan terlebih dahulu oleh nama mereka. Seruni menghafal mati kalimat itu karena demikianlah mertuanya sering mengulang-ulang.
Seruni sendiri tak tahu, lebih memihak ke mana mertuanyaitu. Dirinya atau Siti Karimah? Karena, biar begitu seringnya ucapan-ucapan mertuanya itu menyakiti hatinya, namun tak jarang juga ia mendengar mertuanya mengais-ngais kekurangan Karimah.

Sebetulnya, dulu Seruni sempat menolak dan membatalkan pernikahannya dengan Karim. Namun, situasinya saat itu sangat mendesak. Bapak dan adik lelakinya mengusirnya secara halus agar tak lagi tinggal di rumah mereka yang sempit. Toh, Seruni sudah bekerja. Punya penghasilan. Jadi Seruni bisa kost atau kontrak, semacam itulah.
Namun Seruni sudah telanjur merasa diusir. Dibuang atau dicampakkan. Maka, diterimalah pinangan Karim. Lalu mereka dinikahkan oleh seorang Kiyai muda di mesjid sebuah Pondok Pesantren tradisional.

Awal pernikahan mereka disambut baik oleh keluarga Karim. Karimah, isteri Karim, pun wanita yang sangat baik. Super Woman, begitulah Seruni memberi gelar. Karena ia bersedia berbagi suami dengan perempuan lain. Mana ada perempuan di muka bumi ini yang mau dimadu? Mungkin mereka bahkan lebih memilih diracun atau diceraikan dengan hormat.

“Kenapa mbak Karimah mau berbagi suami dengan saya?” suatu ketika pernah Seruni bertanya pada madunya itu. “Apa mbak Karimah sudah ndak cinta sama mas Karim?”
Karimah tersenyum mendengar pertanyaan Seruni. Namun senyum itu kemudian berubah menjadi mendung. Mendung yang Seruni tak pernah tahu apa maknanya.

“Sudahlah dik Seruni, ndak usah dipertanyakan yang seperti itu. Ini semua sudah takdir. Mungkin kita berdua memang sudah dijodohkan sama Yang di Atas untuk saling berbagi.”

“Mbak Karimah, saya minta maaf.” Begitu ucap Seruni.

“Lalu, kamu sendiri kenapa mau dimadu? Kenapa kamu mau menikah dengan pria yang sudah menikah?” pertanyaan Karimah seperti menusuk balik hati Seruni, walau Seruni tahu Karimah tidak bermaksud demikian.

“Entahlah, Mbak. Yang jelas aku tidak tahu harus berlindung pada siapa, saat bapak dan adik lelakiku memintaku untuk meninggalkan rumah. Kalau aku harus kost, aku ndak yakin bakal tahan dengan godaan dalam pergaulan.” Seruni sendiri ragu-ragu dengan alasannya untuk mau dimadu.

“Begitu pun aku, dik. Aku tak tahu apakah Mas Karim bisa menahan godaan di luar sana ketika ia bosan denganku. Makanya, ketika ia meminta ijin untuk menikah denganmu rasanya aku tak perlu berfikir panjang. Daripada dia selingkuh atau menikah diam-diam. Itu akan sangat menyakitkan.” Ucap Karimah selanjutnya.

Jadilah kedua isteri Karim itu bersahabat, saling baku baik.
Dari awal Seruni berjanji akan menjaga perasaan Karimah. Maka, setiap mereka bertemu dan berkumpul bertiga, Seruni lebih memilih menempatkan diri sebagai adik Karim dan menganggap Karimah sebagai Kakak iparnya. Tak pernah ia berusaha menguasai waktu maupun kasih sayang Karim. Melihat sikap Seruni yang tak berusaha menguasai suaminya, Karimah pun berusaha mengimbanginya dengan menganggapnya sebagai adik.

Lain, Seruni, lain Karimah, lain lagi Karim. Dalam usahanya memperlanggeng rumah tangga poligaminya, ia harus jitu membuat berbagai strategi sehingga kedua isterinya merasa paling diutamakan. Merasa paling dicintai. Ia memanggil kedua isterinya dengan panggilan ‘Sayang’, karena kalau dipanggil cinta kok terkesan lebay. Rajin browsing di internet, mencari cara jitu menggombali perempuan. Wal hasil sih emang dapat dibuktikan. Baik Seruni maupun Karimah sama-sama merasa tersanjung bila berdekatan dengan Karim.

Namanya rumah tangga, baik yang monogami maupun yang poligami ya tetep aja ada kerikil-kerikil yang menyertainya. Hal ini juga yang jadi salah satu pedoman Karim bahwa punya isteri dua ada masalahnya, punya istri satu pun juga pasti ada masalah. Kenapa gak sekalian aja punya dua, kalau resikonya sama-sama ada masalah.
Pernah suatu ketika, Karim datang ke rumah Seruni dengan membawa buah durian. Padahal, Seruni tak terlalu suka durian. Namun yang namanya rejeki, pantang ditolak. Setelah habis buah durian mereka lahap, tak lama masuk SMS dari Karimah agar Karim tak lupa membelikan buah duren untuknya. Beruntung bagi Karim tidak tertelan biji duren demi ingat akan kelinglungannya.
Atau pernah suatu kali, sepulang dari kantor Karim bertanya pada karimah apakah ia tak mual-mual lagi?

Karimah yang sudah punya tiga anak jelas menjawabnya dengan mata membesar “Emang, Mas Karim mau aku hamil lagi?!”

Ups!!! Karim menyadari bahwa pertanyaannya salah alamat, harusnya pertanyaan itu untuk Seruni. Mungkin gara-gara sering salah alamat itulah akhirnya Karimah pun tertular ikut hamil.

Begitulah, cinta segitiga itu pun berjalan seperti yang diharapkan Karim. Namun tentu, dijaman seperti ini yang namanya poligami adalah sesuatu yang sangat menarik perhatian pro dan kontra.. Begitu pun mereka, di komplek lingkungan tempat mereka tinggal, banyak yang pro dan kontra. Namun jika melihat kerukunan Karimah dan Seruni, masyarakat pun dengan jujur mengangkat jempol bagi rumah tangga ‘aneh’ tersebut.

Demi melihat kelanggengan rumah tangga ini, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Syari’ah entah apa namanya, mendatangi mereka untuk bersedia membagikan informasi tentang rumah tangga ‘aneh’ ini sebagai bahan skripsinya.
Ada sebuah pertanyaan yang diajukan pada Karimah, sehingga Karimah menjawabnya demikian :

“Saya mencintai suami saya karena Allah, saya juga berusaha menjalani setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya dengan ikhlas. Mas Karim milik Allah, bukan milik saya. Kalau Allah mengambilnya, tak ada yang dapat saya lakukan. Kalaupun saya melarang Mas Karim menikah lagi, saya tidak akan menjamin pernikahan itu tidak akan terjadi suatu saat jika Allah telah mentakdirkan mereka berjodoh.”

“Apakah ibu tidak sakit hati?” Tanya sang mahasiswa.

“Ibarat kita makan suatu makanan, rasa manis dan pahit itu hanya sebatas tenggorokan. Setelah melalui tenggorokan, tak ada lagi rasanya.”
Dengan ekspresi yang tak bisa ditentukan, setelah mendapat informasi yang diperlukan, mahasiswa itu tersenyum dan pamit. Entah apa yang terbersit dalam benaknya. Mungkin do’a : Semoga rumah tangga ‘aneh’ ibu ini langgeng atau Semoga rumah tangga ‘aneh’ ibu ini cepat berakhir.

ENTAHLAH!
Balikpapan, 6 Juli 2011

Translate