Aku ini hanya seorang perempuan, lemah.
Menjadi kuat karena adanya buah hatiku.
Sungguh, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Menjadi orang tua tunggal dengan anak-anak yang masih sangat kecil.
Mereka semua mengira aku ini tangguh.
Kuat menghadapi semua musibah ini.
Masih sempat tersenyum dan ceria di depan murid-muridku.
Sesungguhnya aku ini rapuh.
Namun apalah yang bisa ku perbuat?
Selain bergantung pada pertolongan Alloh
Yang selalu menyelamatkan kami dari masa-masa sulit.
Sebelum kami sempat bertanya: "di mana pertolonganMu ya Alloh?"
Karena aku yakin, Alloh lebih dekat dari urat nadi.
Jangan mempertanyakan hal-hal yang menjadi rahasia ALLOH, jangan lukai perasaan orang-orang yang sedang bersabar dan ridho dengan ketentuan ALLOH, yang telah lebih dulu menikah, bukan berarti Anda hebat mencari pasangan, semua itu karena telah sampai jodoh Anda. yang telah mendapat anak setelah menikah, bukan berarti Anda hebat dalam hal suami isteri, namun karena rezeki telah ditetapkan ALLOH. ALLOH MAHA MENGATUR DALAM KEHIDUPAN
Kamis, 21 November 2013
Senin, 04 November 2013
Pintu Hidayah (Bagian 7/ selesai) : Menjadi Alien
Jenazah
Lusi belum tiba saat aku sampai di sana. Aku melihat Tante Mia, adik dari ibu
Lusi, sudah ada. Kami berpelukan. Dari Tante Mia, kudengar ayah Lusi dalam
keadaan kritis di Rumah Sakit. Aku tak mau mendengar detil kejadiannya. Biarlah
Lusi pergi, cukup dengan kata ‘kecelakaan’ penyebabnya.
Tak lama jenazah Lusi
tiba. Jenazah itu terbungkus plastik hitam, tak boleh dibuka. Semua orang tak
akan bisa membayangkan, seperti apa keadaan Lusi di dalamnya. Rasanya aku ingin
memeluknya, menciumnya. Mengucapkan semua rasa terima kasihku atas apa yang
telah ia ajarkan kepada ku selama kami berteman.
Selamat
tinggal Lusi. Lusi, yang lemah lembut, sabar dan suka mengalah. Begitu banyak
kenangan yang telah kau ukir dalam hari-hariku. Walau sebenarnya masih banyak
ruang yang kuingi kau terus mengukirnya.
Banyak hal yang telah kau ajarkan
kepadaku, walau masih banyak hal yang kuingin pelajari darimu. Lusi, aku ingin
selalu mengenangmu. Kau yang telah mengisi hari-hariku bukan hanya sebagai
seorang sahabat, kau bahkan sebagai seorang saudara yang hampir mendekati
sempurna bagiku, kau juga seorang guru bagiku, memperkenalkaku pada pintu
hidayah.
Malam itu
juga jenazah Lusi disholatkan kemudian dimakamkan. Aku tak bisa menahan kesedihanku
saat orang-orang membawa Lusi ke dalam keranda, lalu pergi menuju
peristirahatan terakhirnya. Lagi-lagi aku hampir pingsan, badanku lemah tak
bertenaga. Aku dibaringkan di ranjang Lusi. Aku teringat saat pertama kali
datang ke rumah ini. Saat itu Rani sedang ada di tempatku berbaring saat ini.
Lusi, Rani, semua telah menghada Ilahi. Tinggal aku menunggu giliran.
“Lusi.
Mudah-mudahan kita dipertemukan kembali di kehidupan yang akan datang.” kataku
lirih pada foto Lusi yang dibingkai kecil dekat meja belajarnya.
***
Al-Qur’an dan Terjemah pemberian dari Lusi kusentuh untuk pertama kali. Saat
kubuka, mataku tertuju pada terjemahan ayat yang terletak di ujung bawah
sebelah kanan: “Dan katakanlah kepada perempuan beriman, agar mereka menjaga
pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya (auratnya), kecuali yang terbiasa terlihat. Dan hendaklah mereka
menutupkankain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya
(auratnya) kecuali kepada suami mereka, putra putri mereka ….(dst)”
Entah
kenapa terjemah dari surat An-Nur ayat ke tiga puluh satu itu terngiang-ngiang
dikepalaku sampai berhari-hari. Ah, mungkin karena kebetulan saja, kebetulan
terjemahan pertama yang terbaca, disaat pertama kali membukanya adalah surat
itu. Tetapi lagi-lagi aku tak mengerti terhadap kata-kata ‘hendaklah mereka menutupkan
kerudung hingga ke dadanya’ seperti menggema dalam dadaku.
Bila Al-Qur’an yang menyuruh para perempuan menutup kerudungnya hingga ke dada?
Itu berarti perinta Allah. Berarti jilbab itu bukan pakaian adat Timur Tengah
seperti yang kuterimakan dalam pengertianku selama ini, pikirku dalam hati.
Minggu
berikutnya suatu kebetulan sekali, materi ceramah Ustadzah tentang aurat.
"Dahulu," bilang Ustadzah itu, "umat Islam boleh terlihat lehernya sebelum ayat
dari Surah An-Nur ini turun. Bukankah Anda sekarang berada pada zaman dimana
surat ini telah diturunkan? Wanita, cantik ataupun tidak secara fisik. Jika
mereka sudah keluar rumah dan terlihat oleh kaum pria, maka setan-setan akan
sibuk menghias dan melukis pada bagian-bagian tubuhnya sehingga membuat setiap
pria tertarik. Maka saudariku, hukumnya adalah wajib bagi kaum wanita menutup
auratnya. Semua yang diperintahkan Allah adalah untuk kepentingan dan kebaikan
makhluk-Nya."
Selama perjalanan pulang dari majelis taklim itu, aku pun menjadi
yakin untuk menutup auratku mulai detik itu.
Keesokan
harinya, aku berangkat sekolah memakai baju panjang lengkap dengan jilbabnya.
Tak ada komentar dari ayah, ibu maupun Diana. Namun saat tiba di sekolah,
beberapa pasang mata memandang aneh ke arahku. Bisik-bisik dan pandangan sinis
mereka yang betul-betul menguji kesabaranku.
“Ssst,
Hera pakai jilbab. Nutupin tompelnya, tuh!”
“Masih
kelihatan juga,” diiringin de
ngan tawa sinis mereka.
“Washbir
‘alaa maa ashoobaka, inna dzaalika min azmil umuur.” penggalan sural Luqman
ayat 17 tersebut terus kukumandangkan dalam hati yang berarti: dan bersabarlah
atas semua yang manimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal
yang diwajibkan (oleh Allah)
Penampilanku
hari itu membuatku seperti alien. Beberapa orang guru yang mengajar hari itu
pun sebagian melihatku dengan muka geli akibat komentar-komentar sebagian dari
teman-teman, yang bagiku sangat menyakitkan namun entah mengapa menurut mereka
menggelikan. Namun sebagian guru yang lain, mendukungku dengan mengucap syukur
Alhamdulillah.
Seperti Ibu Istiqomah, guru agama Islam. Beliau mendekatiku khusus membisikkan
kalimat ini, “Dan
hamba-hamba Allah itu, mereka berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila
orang-orang jahil menggoda mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung
keselamatan. ”
Aku
tersenyum, kuucapkan terima kasih kepada ibu Istiqomah sebelum beliau pergi
meninggalkanku.
Lus,
temanmu si tompel ini tengah belajar memandang dunia seperti yang pernah kau
ajarkan.
Pintu Hidayah (Bagian 6) : Kepergian Lusi
Sabtu sore sehabis magrib, Lusi datang dengan membawa bungkusan besar yang dimasukkan dalam kresek hitam.
“Her, besok aku ndak pergi taklim. Ayah mengajakku ke rumah Mbah Putri di Batu. Ini, kado ulang tahun untukmu.” katanya membuatku terkejut.
“Sekarang tanggal tiga belas kah?” tanyaku. Ya Allah, aku sendiri bahkan lupa pada ulang tahunku.
Lusi tersenyum, lalu dipeluk dan diciumnya aku, “Selamat Ulang Tahun, Sahabatku.” bisiknya di telingaku.
“Terima kasih, Lus! Begitu besar perhatianmu.” kupeluk erat dia.
“Sama-sama, Her. Kuharap kamu menyukai pemberianku ini. Maaf, aku harus segera pergi, ayah menungguku.” katanya kemudian.
Bungkusan itu kubawa masuk ke dalam kamarku.
“Apa itu, Her?” tanya Diana, kakakku, saat ia melihatku.
“Dari Lusi, rupanya sekarang tanggal tiga belas ya?!” tanyaku seolah kutujukan pada diriku sendiri.
“Ooo.., rupanya adikku lagi ulang tahun. Selamat Ulang Tahun.” ucap Diana sambil memelukku.
“Makasih,” kataku.
Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan halaman rumah. “Kayaknya Jundi, tuh!” kataku.
“Kami mau nonton,” kata Diana. “Mau ikut?”
“Nggak, ah! Ngganggu!” jawabku.
“Syukurlah, kalau ndak mau.” katanya sambil ngeloyor. “Her, pamitkan sama ibu!” lanjutnya sebelum menutup pintu.
“Din, jangan lupa pulang bawa tela-tela!” teriakku. Diana melambaikan tangannya.
Aku membuka bungkusan dari Lusi yang dibungkus dengan kertas kado
warna biru. Didalamnya ada dua potong rok panjang warna hitam dan biru malam.
Sebuah blus motif bunga-bunga lengan panjang, sebuah baju kaos warna hitam
lengan panjang serta dua jilbab kain warna putih dan hitam. Masih ada lagi,
sebuah Al-Qur’an Terjemah terbitan Syamil.
Setelah puas aku mencoba semuanya, aku membuka Al-Qur’an dengan sampul kulit
warna hitam itu. Di dalamnya kutemukan sepucuk kartu ucapan yang berbunyi:
“Friend, I love the sound of that word and so glad we are just that. HAPPY
BIRTHDAY to My Wonderful Friend. Yours, Lusi”
Terima kasih Lusi, kataku dalam hati. Tapi entahlah, kapan aku memutuskan untuk memakai jilbab ini sebagaimana dirimu.
Hari Minggu aku pergi ke Taklim di Mushola Khadijah tanpa Lusi. Sudah ada beberapa teman yang aku kenal, jadi aku tak canggung lagi
Minggu sore, Tia, teman taklim kami yang juga tetangga Lusi bertamu ke rumah. Wajahnya nampak murung.
“Hera sudah dengar berita tentang Lusi?” tanyanya.
“Oh, iya. Dia ke rumah neneknya di Batu, kan?” kataku.
“Iya, tapi bukan itu maksudku.” katanya lagi.
“Berita yang mana?” tanyaku bingung.
“Lusi kecelakaan,” katanya yang membuatku kaget.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” ucapku seketika. “Di rumah sakit mana sekarang?” tanyaku.
“Lusi meninggal, Her.” katanya diikuti isak tangisnya.
“Innalilahi wa innalillahirojiun.” kataku lagi.
Tiba-tiba saja aku lemas. Lusi meninggal? Tidak! Aku tak percaya. Baru tadi malam ia ke sini, ke rumah ini, memberiku kado ulang tahun. Dunia terasa gelap. Aku sangat sedih, sampai-sampai aku pingsan. Saat kubuka mataku, aku telah berada dalam kamar. Bapak, Ibu, Diana dan Tia mengelilingiku.
Tangisku pecah, ibu memelukku. semua orang menangis melihat kesedihanku. Tuhan, rasanya aku belum lama mengenal Lusi. Masih banyak hal yang kuingin belajar dari sikapnya memandang hidup ini. Tuhan, Lusi satu-satunya teman yang mampu merubahku dalam memandang hidup ini. Aku terus menangis sambil menyebut nama Lusi.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan mati. Kemudian hanya kepada kamilah kamu
dikembalikan.” Tia menyitir surat Al-Ankabut ayat 57. Aku ingat, Waktu Rani
meninggal, Lusi pernah juga membaca ayat itu.
Setelah aku agak tenang, aku pergi ke rumah Lusi diantar ibu, ayah, Diana dan
Tia. Sepanjang jalan menuju rumah Lusi air mata ini tak bisa kubendung. Jilbab
warna hitam, kado ulang tahunnya yang saat itu kukenakan, basah oleh airmataku.
Lusi, Jilbab ini, baju ini, kau berikan untukku kenakan saat mengantar
kepergianmu selamanya.
Samira
perempuan yang berjalan menembus hujan
berharap :
esok matahari membawa kekuatan baru
bulan mengembalikan kelembutan malamnya
ia bertanya :
sanggupkah hujan menghapuskan kekhawatiran?
akankah angin meniupkan kekuatan?
Samira berjalan menembus hujan
menyusuri pelan kehidupan
dalam harapan
berhenti pada ujung indahnya,
Hing
Bpp,04112013
berharap :
esok matahari membawa kekuatan baru
bulan mengembalikan kelembutan malamnya
ia bertanya :
sanggupkah hujan menghapuskan kekhawatiran?
akankah angin meniupkan kekuatan?
Samira berjalan menembus hujan
menyusuri pelan kehidupan
dalam harapan
berhenti pada ujung indahnya,
Hing
Bpp,04112013
Teguh
tak perlu kau tanya
tentang keadaanku
sebab terpisah,
bukanlah kehendak kita
cercaan datang
tak hanya dari delapan penjuru arah
atas,
bawah,
dan segenap celah
hadir menusuk,
mengorek,
menghantam,
semampu apa saja mereka bisa
tak perlu kau tanya
tentang keberadaanku
sebab aku mencintaimu
hingga saat pelangi membakar bintang-bintang
dan hujan membasuh luka kita
Hing,
Bpp Nopember 2013
tentang keadaanku
sebab terpisah,
bukanlah kehendak kita
cercaan datang
tak hanya dari delapan penjuru arah
atas,
bawah,
dan segenap celah
hadir menusuk,
mengorek,
menghantam,
semampu apa saja mereka bisa
tak perlu kau tanya
tentang keberadaanku
sebab aku mencintaimu
hingga saat pelangi membakar bintang-bintang
dan hujan membasuh luka kita
Hing,
Bpp Nopember 2013
Sabtu, 05 Oktober 2013
Pintu Hidayah (Bagian 5) : Diajak Berjilbab
Sejak itu, aku makin akrab dengan Lusi. Hampir setiap pulang sekolah aku
mampir ke rumahnya. Aku pun selalu setia menantinya di depan pagar
sekolah, jika dia belum keluar kelas.
Suatu hari sepulang dari majelis taklim Lusi berkata, “Her, kamu cantik dengan kerudungmu.”
“Ah, gombal.” kataku. “Kamu malah, lebih cantik kalau ndak pakai jilbab.” Lusi tak bereaksi.
“Sejak kapan kamu berjilbab, Lus?” tanyaku kemudian.
“Sejak kecil aku biasa pakai jilbab, tapi kalau pergi jalan saja. Namun saat aku mendapat haid pertamaku, ayahku menyuruhku memakai jilbab sebagaimana seorang wanita yang sudah saatnya menutup aurat.” jawabnya.
“Nanti, ah! Kalau sudah lulus aku pakai jilbab juga,”kataku kemudian.
“Kenapa menunggu lulus?” tanya Lusi lagi.
“Belum banyak jilbabku, Lus. Belum banyak pula baju panjangku.” Lusi tersenyum mendengar alasanku.
“Kalau begitu, berhentilah kamu membeli baju dan celana yang tidak mendukung jilbabmu.” katanya lagi. Aku cuma tersenyum kecut. Bagikku, masih sulit untuk menghentikan keinginanku mengikuti mode-mode di televisi.
“Emang, kamu ndak pernah nonton TiVi, Lus? Kamu nggak pengen bergaya seperti anak-anak muda jaman sekarang?” tanyaku ingin tahu.
“Kamu tahu di rumahku tidak ada televisi, kan?” tanya Lusi seolah mengingatkanku.
Aku memanggutkan kepala. “Memangnya kamu nggak kesepian, Lus?” tanyaku lagi. Lusi menggeleng.
“Aku sudah terbiasa tanpa tivi sejak kecil.” katanya.
“Sama sekali kamu tidak pernah menonton film?” tanyaku ingin tahu.
“Pernah,” jawabnya. “Waktu itu, aku kelas tiga SMP. Aku nonton film Barat. Mungkin karena merasa bersalah, habis nonton aku bermimpi ketemu ibuku. Dalam mimpi itu, ibuku menangis sedih. Akhirnya aku pun terbangun dan terus menangis sampai pagi. Sejak itu aku tak pernah lagi.”
Suatu hari sepulang dari majelis taklim Lusi berkata, “Her, kamu cantik dengan kerudungmu.”
“Ah, gombal.” kataku. “Kamu malah, lebih cantik kalau ndak pakai jilbab.” Lusi tak bereaksi.
“Sejak kapan kamu berjilbab, Lus?” tanyaku kemudian.
“Sejak kecil aku biasa pakai jilbab, tapi kalau pergi jalan saja. Namun saat aku mendapat haid pertamaku, ayahku menyuruhku memakai jilbab sebagaimana seorang wanita yang sudah saatnya menutup aurat.” jawabnya.
“Nanti, ah! Kalau sudah lulus aku pakai jilbab juga,”kataku kemudian.
“Kenapa menunggu lulus?” tanya Lusi lagi.
“Belum banyak jilbabku, Lus. Belum banyak pula baju panjangku.” Lusi tersenyum mendengar alasanku.
“Kalau begitu, berhentilah kamu membeli baju dan celana yang tidak mendukung jilbabmu.” katanya lagi. Aku cuma tersenyum kecut. Bagikku, masih sulit untuk menghentikan keinginanku mengikuti mode-mode di televisi.
“Emang, kamu ndak pernah nonton TiVi, Lus? Kamu nggak pengen bergaya seperti anak-anak muda jaman sekarang?” tanyaku ingin tahu.
“Kamu tahu di rumahku tidak ada televisi, kan?” tanya Lusi seolah mengingatkanku.
Aku memanggutkan kepala. “Memangnya kamu nggak kesepian, Lus?” tanyaku lagi. Lusi menggeleng.
“Aku sudah terbiasa tanpa tivi sejak kecil.” katanya.
“Sama sekali kamu tidak pernah menonton film?” tanyaku ingin tahu.
“Pernah,” jawabnya. “Waktu itu, aku kelas tiga SMP. Aku nonton film Barat. Mungkin karena merasa bersalah, habis nonton aku bermimpi ketemu ibuku. Dalam mimpi itu, ibuku menangis sedih. Akhirnya aku pun terbangun dan terus menangis sampai pagi. Sejak itu aku tak pernah lagi.”
Jumat, 04 Oktober 2013
Pintu Hidayah (Bagian 4) : Allah Menguji Kesabaran Setiap Manusia
“Siapa dia, Lus?” tanyaku berbisik.
Lusi tak menjawabku, malah ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.
“Rin, kenalkan. Ini ada Hera, temanku.”kata Lusi padanya.
Perempuan yang dipanggil Rin itu menggerakkan bola matanya ke arahku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumya.
“Maaf, Her. Rina tak bisa banyak bicara. Tubuhnya terlalu lemah.” Lusi menjelaskan.
“Ya,” jawabku mengerti.
Kulihat sekali lagi Rina tersenyum. Sekali lagi aku pun mengangguk ramah.
“Kita ngobrol di luar saja, kalau begitu.” ajakku pada Lusi.
Ketika kami hendak beranjak pergi, tangan Lusi ditarik Rina.
“Kamu tak terganggu kalau kami ngobrol di sini, Rin?” tanya Lusi seperti mengerti maksud Rina. Rina mengangguk.
“Sepertinya kita ngobrol di sini saja.” kata Lusi selanjutnya.
Lusi duduk di pinggir ranjang, dekat kaki Rina. dan aku mengambil kursi, duduk dekat meja yang hampir berdempet dengan ranjang. Kami ngobrol banyak siang itu. Rina tak banyak bicara, kalau pun bicara suaranya lemah sekali. Sedang aku dan Lusi bergantian bicara.
Menurut diagnosa dokter, Rina sedang menderita kanker usus. Usianya baru dua puluh tahun. Dia seorang mahasiswa. Empat hari yang lalu ia keluar dari Rumah Sakit. Dokter angkat tangan terhadap penyakitnya. Saat ini, Rina sedang menunggu orang tuanya yang akan menjemputnya pulang ke Sumatra, kampung halamannya. Sekitar pukul sebelas siang, akhirnya aku pamit.
“Jadi, besok kamu belum turun?” tanyaku pada Lusi.
“Sepertinya belum. Karena besok tanteku baru tiba. Tak mungkin aku meninggalkan mereka.” jawab Lusi.
“Aku akan sempatkan mampir lagi,”kataku.
“Lho, kamu bilang ndak suka maem pir.” balas Lusi.
“Oh, ya. Kalau begitu sediakan bakso untukku besok, ya?!” kataku tak mau kalah.
Sepanjang perjalanan pulang aku pun berfikir bahwa masih banyak orang yang sebetulnya mendapat cobaan lebih berat dariku. Masa, aku yang hanya dihina karena tompel besar ini, harus murung? Marah pada Tuhan? Habis kesabaran? Ah, sempit sekali pikiranku selama ini.
Terngiang ucapan Lusi tadi, “Pastilah Tuhan memberiku kebaikan dengan cacat di tanganku ini. Tapi aku belum menyadarinya saat ini. Begitu pun Rani, diberi sakit berat. Allah sedang menguji kesabarannya. Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka Allah akan mengujinya.”
Lusi pun bercerita bahwa ia pernah mendengar ceramah seorang Ustadzah yang mengisi taklim hari Minggu di Mushola Khadijah, dikisahkan tentang seorang pemuda yang buta, dia menyesali nasibnya yang dilahirkan sebagai orang buta. Hingga suatu saat ia tertangkap pasukan raja kanibal yang mecari pemuda di setiap desa untuk dijadikan santapannya. Saat eksekusi tiba, Raja memeriksa kesehatan setiap pemuda yang akan menjadi korbannya. Akhirnya raja kanibal itu melepaskan pemuda buta itu karena dianggap cacat. Maka selamatlah ia, dan akhirnya pemuda itu pun berbalik mensyukuri kebutaannya. Karena buta, ia terhindar dari raja kanibal. (BERSAMBUNG)
Langganan:
Komentar (Atom)
