Senin, 04 November 2013

Pintu Hidayah (Bagian 6) : Kepergian Lusi

Sabtu sore sehabis magrib, Lusi datang dengan membawa bungkusan besar yang dimasukkan dalam kresek hitam.

“Her, besok aku ndak pergi taklim. Ayah mengajakku ke rumah Mbah Putri di Batu. Ini, kado ulang tahun untukmu.” katanya membuatku terkejut.

“Sekarang tanggal tiga belas kah?” tanyaku. Ya Allah, aku sendiri bahkan lupa pada ulang tahunku.

Lusi tersenyum, lalu dipeluk dan diciumnya aku, “Selamat Ulang Tahun, Sahabatku.” bisiknya di telingaku.

“Terima kasih, Lus! Begitu besar perhatianmu.” kupeluk erat dia.

“Sama-sama, Her. Kuharap kamu menyukai pemberianku ini. Maaf, aku harus segera pergi, ayah menungguku.” katanya kemudian.

Bungkusan itu kubawa masuk ke dalam kamarku.

“Apa itu, Her?” tanya Diana, kakakku, saat ia melihatku.

“Dari Lusi, rupanya sekarang tanggal tiga belas ya?!” tanyaku seolah kutujukan pada diriku sendiri.

“Ooo.., rupanya adikku lagi ulang tahun. Selamat Ulang Tahun.” ucap Diana sambil memelukku.

“Makasih,” kataku.

Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan halaman rumah. “Kayaknya Jundi, tuh!” kataku.

“Kami mau nonton,” kata Diana. “Mau ikut?”

“Nggak, ah! Ngganggu!” jawabku.

“Syukurlah, kalau ndak mau.” katanya sambil ngeloyor. “Her, pamitkan sama ibu!” lanjutnya sebelum menutup pintu.

“Din, jangan lupa pulang bawa tela-tela!” teriakku. Diana melambaikan tangannya.

Aku membuka bungkusan dari Lusi yang dibungkus dengan kertas kado warna biru. Didalamnya ada dua potong rok panjang warna hitam dan biru malam. Sebuah blus motif bunga-bunga lengan panjang, sebuah baju kaos warna hitam lengan panjang serta dua jilbab kain warna putih dan hitam. Masih ada lagi, sebuah Al-Qur’an Terjemah terbitan Syamil.
Setelah puas aku mencoba semuanya, aku membuka Al-Qur’an dengan sampul kulit warna hitam itu. Di dalamnya kutemukan sepucuk kartu ucapan yang berbunyi: “Friend, I love the sound of that word and so glad we are just that. HAPPY BIRTHDAY to My Wonderful Friend. Yours, Lusi”

Terima kasih Lusi, kataku dalam hati. Tapi entahlah, kapan aku memutuskan untuk memakai jilbab ini sebagaimana dirimu.

Hari Minggu aku pergi ke Taklim di Mushola Khadijah tanpa Lusi. Sudah ada beberapa teman yang aku kenal, jadi aku tak canggung lagi

Minggu sore, Tia, teman taklim kami yang juga tetangga Lusi bertamu ke rumah. Wajahnya nampak murung.

“Hera sudah dengar berita tentang Lusi?” tanyanya.

“Oh, iya. Dia ke rumah neneknya di Batu, kan?” kataku.

“Iya, tapi bukan itu maksudku.” katanya lagi.

“Berita yang mana?” tanyaku bingung.

“Lusi kecelakaan,” katanya yang membuatku kaget.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” ucapku seketika. “Di rumah sakit mana sekarang?” tanyaku.

“Lusi meninggal, Her.” katanya diikuti isak tangisnya.

“Innalilahi wa innalillahirojiun.” kataku lagi.

Tiba-tiba saja aku lemas. Lusi meninggal? Tidak! Aku tak percaya. Baru tadi malam ia ke sini, ke rumah ini, memberiku kado ulang tahun. Dunia terasa gelap. Aku sangat sedih, sampai-sampai aku pingsan. Saat kubuka mataku, aku telah berada dalam kamar. Bapak, Ibu, Diana dan Tia mengelilingiku.

Tangisku pecah, ibu memelukku. semua orang menangis melihat kesedihanku. Tuhan, rasanya aku belum lama mengenal Lusi. Masih banyak hal yang kuingin belajar dari sikapnya memandang hidup ini. Tuhan, Lusi satu-satunya teman yang mampu merubahku dalam memandang hidup ini. Aku terus menangis sambil menyebut nama Lusi.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan mati. Kemudian hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” Tia menyitir surat Al-Ankabut ayat 57. Aku ingat, Waktu Rani meninggal, Lusi pernah juga membaca ayat itu.
Setelah aku agak tenang, aku pergi ke rumah Lusi diantar ibu, ayah, Diana dan Tia. Sepanjang jalan menuju rumah Lusi air mata ini tak bisa kubendung. Jilbab warna hitam, kado ulang tahunnya yang saat itu kukenakan, basah oleh airmataku. Lusi, Jilbab ini, baju ini, kau berikan untukku kenakan saat mengantar kepergianmu selamanya.

Samira

perempuan yang berjalan menembus hujan
berharap :
esok matahari membawa kekuatan baru
bulan mengembalikan kelembutan malamnya
ia bertanya :
sanggupkah hujan menghapuskan kekhawatiran?
akankah angin meniupkan kekuatan?
Samira berjalan menembus hujan
menyusuri pelan kehidupan
dalam harapan
berhenti pada ujung indahnya,

Hing
Bpp,04112013

Teguh

tak perlu kau tanya
tentang keadaanku
sebab terpisah,
bukanlah kehendak kita
cercaan datang
tak hanya dari delapan penjuru arah
atas,
bawah,
dan segenap celah
hadir menusuk,
mengorek,
menghantam,
semampu apa saja mereka bisa
tak perlu kau tanya
tentang keberadaanku
sebab aku mencintaimu
hingga saat pelangi membakar bintang-bintang
dan hujan membasuh luka kita

Hing,
Bpp Nopember 2013

Sabtu, 05 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 5) : Diajak Berjilbab

Sejak itu, aku makin akrab dengan Lusi. Hampir setiap pulang sekolah aku mampir ke rumahnya. Aku pun selalu setia menantinya di depan pagar sekolah, jika dia belum keluar kelas.

Suatu hari sepulang dari majelis taklim Lusi berkata, “Her, kamu cantik dengan kerudungmu.”

“Ah, gombal.” kataku. “Kamu malah, lebih cantik kalau ndak pakai jilbab.” Lusi tak bereaksi.

“Sejak kapan kamu berjilbab, Lus?” tanyaku kemudian.

“Sejak kecil aku biasa pakai jilbab, tapi kalau pergi jalan saja. Namun saat aku mendapat haid pertamaku, ayahku menyuruhku memakai jilbab sebagaimana seorang wanita yang sudah saatnya menutup aurat.” jawabnya.

“Nanti, ah! Kalau sudah lulus aku pakai jilbab juga,”kataku kemudian.

“Kenapa menunggu lulus?” tanya Lusi lagi.

“Belum banyak jilbabku, Lus. Belum banyak pula baju panjangku.” Lusi tersenyum mendengar alasanku.

“Kalau begitu, berhentilah kamu membeli baju dan celana yang tidak mendukung jilbabmu.” katanya lagi. Aku cuma tersenyum kecut. Bagikku, masih sulit untuk menghentikan keinginanku mengikuti mode-mode di televisi.

“Emang, kamu ndak pernah nonton TiVi, Lus? Kamu nggak pengen bergaya seperti anak-anak muda jaman sekarang?” tanyaku ingin tahu.

“Kamu tahu di rumahku tidak ada televisi, kan?” tanya Lusi seolah mengingatkanku.
Aku memanggutkan kepala. “Memangnya kamu nggak kesepian, Lus?” tanyaku lagi. Lusi menggeleng.

“Aku sudah terbiasa tanpa tivi sejak kecil.” katanya.

“Sama sekali kamu tidak pernah menonton film?” tanyaku ingin tahu.

“Pernah,” jawabnya. “Waktu itu, aku kelas tiga SMP. Aku nonton film Barat. Mungkin karena merasa bersalah, habis nonton aku bermimpi ketemu ibuku. Dalam mimpi itu, ibuku menangis sedih. Akhirnya aku pun terbangun dan terus menangis sampai pagi. Sejak itu aku tak pernah lagi.”

Jumat, 04 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 4) : Allah Menguji Kesabaran Setiap Manusia

“Siapa dia, Lus?” tanyaku berbisik.

Lusi tak menjawabku, malah ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.

“Rin, kenalkan. Ini ada Hera, temanku.”kata Lusi padanya.

Perempuan yang dipanggil Rin itu menggerakkan bola matanya ke arahku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumya.

“Maaf, Her. Rina tak bisa banyak bicara. Tubuhnya terlalu lemah.” Lusi menjelaskan.

“Ya,” jawabku mengerti.

Kulihat sekali lagi Rina tersenyum. Sekali lagi aku pun mengangguk ramah.

“Kita ngobrol di luar saja, kalau begitu.” ajakku pada Lusi.

Ketika kami hendak beranjak pergi, tangan Lusi ditarik Rina.

“Kamu tak terganggu kalau kami ngobrol di sini, Rin?” tanya Lusi seperti mengerti maksud Rina. Rina mengangguk.

“Sepertinya kita ngobrol di sini saja.” kata Lusi selanjutnya.

Lusi duduk di pinggir ranjang, dekat kaki Rina. dan aku mengambil kursi, duduk dekat meja yang hampir berdempet dengan ranjang. Kami ngobrol banyak siang itu. Rina tak banyak bicara, kalau pun bicara suaranya lemah sekali. Sedang aku dan Lusi bergantian bicara.

Menurut diagnosa dokter, Rina sedang menderita kanker usus. Usianya baru dua puluh tahun. Dia seorang mahasiswa. Empat hari yang lalu ia keluar dari Rumah Sakit. Dokter angkat tangan terhadap penyakitnya. Saat ini, Rina sedang menunggu orang tuanya yang akan menjemputnya pulang ke Sumatra, kampung halamannya. Sekitar pukul sebelas siang, akhirnya aku pamit.

“Jadi, besok kamu belum turun?” tanyaku pada Lusi.

“Sepertinya belum. Karena besok tanteku baru tiba. Tak mungkin aku meninggalkan mereka.” jawab Lusi.

“Aku akan sempatkan mampir lagi,”kataku.

“Lho, kamu bilang ndak suka maem pir.” balas Lusi.

“Oh, ya. Kalau begitu sediakan bakso untukku besok, ya?!” kataku tak mau kalah.

Sepanjang perjalanan pulang aku pun berfikir bahwa masih banyak orang yang sebetulnya mendapat cobaan lebih berat dariku. Masa, aku yang hanya dihina karena tompel besar ini, harus murung? Marah pada Tuhan? Habis kesabaran? Ah, sempit sekali pikiranku selama ini.

Terngiang ucapan Lusi tadi, “Pastilah Tuhan memberiku kebaikan dengan cacat di tanganku ini. Tapi aku belum menyadarinya saat ini. Begitu pun Rani, diberi sakit berat. Allah sedang menguji kesabarannya. Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka Allah akan mengujinya.” 

Lusi pun bercerita bahwa ia pernah mendengar ceramah seorang Ustadzah yang mengisi taklim hari Minggu di Mushola Khadijah, dikisahkan tentang seorang pemuda yang buta, dia menyesali nasibnya yang dilahirkan sebagai orang buta. Hingga suatu saat ia tertangkap pasukan raja kanibal yang mecari pemuda di setiap desa untuk dijadikan santapannya. Saat eksekusi tiba, Raja memeriksa kesehatan setiap pemuda yang akan menjadi korbannya. Akhirnya raja kanibal itu melepaskan pemuda buta itu karena dianggap cacat. Maka selamatlah ia, dan akhirnya pemuda itu pun berbalik mensyukuri kebutaannya. Karena buta, ia terhindar dari raja kanibal. (BERSAMBUNG)

Kamis, 03 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 3) : Merindukan Lusi

Sudah tiga hari aku pulang sekolah tanpa Lusi. Entah kemana anak itu, kok tiba-tiba saja hilang tak ada kabarnya. Ingin rasanya aku bertanya pada salah seorang temannya, namun aku enggan melakukannya.

 LUSI. Tiba-tiba saja aku merindukannya.

Seharian aku memikirkannya, kenapa Lusi tak masuk sekolah? Hari itu hari Rabu, kebetulan kami pulang lebih awal karena ada rapat guru. Aku berencana ke rumah Lusi hari ini.

Rupanya tak terlalu sulit mencari rumah Lusi. Karena, begitu aku tanya pada seorang anak kecil hampir semua orang berebut memberitahuku. Rumah Lusi terlihat teduh. Dindingnya bercat kuning gading, dengan kusen warna coklat tua, tanpa halaman, dengan teras yang hampir rapat dengan jalan umum. Sampai di depan pintu rumahnya kuucap salam. Dari dalam terdengar suara Lusi membalas salamku.

“Akhirnya kamu kesini juga, Her.” sambut Lusi begitu membuka pintu dan melihatku. “Ayo masuk,” lanjutnya.

Di rumah pun Lusi masih mengenakan jilbab panjang sesikunya. dengan baju kurung panjang model sederhana.

“Kenapa kamu nggak sekolah, Lus?” tanyaku setelah kami duduk di ruang tamu.

“Biar kamu mampir,”jawabnya asal.

“Ah, aku ndak suka maem pir, apa lagi baut, paku… aku lebih suka maem bakso, Lus.” jawabku bercanda.
Lusi tertawa.

“Rupanya kamu bisa melucu juga, Her. Kukira kamu itu pemurung,”katanya.

“Begitukah? Kalau begitu tunggu saja, aku akan melamar jadi anggota pelawak.” jawabku.

“Aku senang kamu datang, Her. Aku merasa, kamulah sahabatku yang terbaik.” katanya, sejenak setelah ia berhenti tertawa.

“Orang lain selalu memandang kasihan terhadapku, karena tanganku yang cacat sejak lahir ini. Setiap aku akrab dengan seseorang, biasanya orang itu merasa lebih sempurna dariku sehingga meremehkan kemampuanku. Atau merasa kasihan dengan cacat tubuhku, dan itu membuatku merasa tak berguna.Kamu lain, Her. Kamu kadang tak peduli dengan keadaanku. Tapi, kamu juga menghawatirkan aku. Seperti saat ini, setelah tiga hari aku tak pergi sekolah, kau datang memastikan keberadaanku. Padahal kau belum pernah ke rumahku.” Ucapnya.

“Aku kehilangan kamu, Lus. Habis seminggu ini ndak ada tukang jemputku.” kataku, seketika cubitan kecil mendarat di lenganku.

“Serius, Lus. Kenapa kamu bolos sekolah?” tanyaku serius.
Lusi tersenyum.

“Ada sepupuku, dia datang empat hari yang lalu. Ayo, kukenalkan.” kata lusi sambil mengajakku masuk ke sebuah kamar.

Aku merasa yakin, bahwa ini adalah kamar Lusi. Di dinding kamar itu ada foto Lusi seukuran A3. Kamar yang rapi, ada sebuah meja belajar di pojok tepat di bawah jendela kamar, ada lap top yang sedang menyala diatasnya. Sebelah kiri meja belajar terdapat sebuah tempat tidur, di atasnya seorang wanita bersandar lemah diatas tumpukan bantal. Wanita itu, tubuhnya sangat kurus tertutup selimut, kulitnya pucat, kepalanya ditutup kerudung, matanya cekung. Mirip sebuah tengkorak hidup. Astaghfirullah.

“Siapa dia, Lus?” tanyaku berbisik.

Lusi tak menjawabku, malah ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.
(BERSAMBUNG)


Rabu, 02 Oktober 2013

Pintu Hidayah (Bagian 2) :Lusi

Begitulah hari-hariku, hingga ketika menjelang berakhirnya masa sekolahku di SMA, aku bertemu Lusi. Dia bukan gadis beruntung, dia cacat sejak lahir. Jari-jari tangan kirinya nyaris tidak ada. Dia sekolah di sebuah sekolah swasta bersebelahan dengan sekolahku. Tadinya aku tak mengetahui kalau tangannya cacat. Karena ia selalu sembunyikan di balik kerudung panjangnya.

Pertama kali kami berbincang, berawal saat dia mengejarku, mengambilkan bolpoinku yang terjatuh. Sejak itu kami biasa pulang sama-sama. Kebetulan jalan pulang ke rumah kami searah. Saat pulang sekolah dia selalu menantiku di depan pagar sekolah. Kalau aku pulang duluan, tak pernah aku menunggunya. Kadang keesokan harinya dia akan protes, seperti saat itu.
 

 “Assalamualaikum, Her!” sapanya begitu melihatku.
 

"Wa’alaikum salam,” aku menjawab salamnya.
 

Lusi selalu mengawali dan mengakhiri pertemuan kami dengan mengucap salam. Saat kutanya, kenapa. Dia bilang bahwa salam itu do’a. Kalau dua orang bertemu, yang pertama mengucap assalamu’alaikum, artinya dia berdo’a dengan tulus agar orang yang diberi salam itu selalu dalam keadaan selamat. Begitu pula orang yang menjawab wa’alaikumsalam, artinya dia pun berdo’a agar yang memberinya salam itu selalu dalam keadaan selamat juga.
 

“Kamu kalau pulang duluan ndak pernah nungguin aku, lho.”tegurnya begitu kami berjalan beriringan.
 

Aku tersenyum. “Maaf! Aku harus buru-buru,” alasanku.
 

“Kamu selalu rindu rumah, ya?” candanya.
 

“He-eh,” kataku pula.
 

“Kalau hari Minggu kamu sibuk, Her?” tanyanya.
 

“Kadang-kadang,” kataku.
 

“Kalau tidak sibuk, maukah kau ikut pengajian pagi di Mushola Khadijah?” tanyanya lagi.
 

“Lihat saja nanti,” jawabku tak tertarik.
 

Kulihat Lusi menundukkan kepalanya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya.
 

“Her, maukah kau mampir ke rumahku?” tanyanya lagi.
 

“Kayaknya, lain kali aja deh!” lagi-lagi aku menolak.
 

“Kuharap, lain kali kamu benar-benar akan ke rumahku.” katanya saat hampir sampai gang kecil jalan masuk ke rumah Lusi.
 

“Assalamu’alaikum,” pamitnya
 

“Wa’alaikum salam,” jawabku. 

Sebentar kuhentikan langkah, biasanya sebelum berbelok dia akan membalik badan dan melambaikan tangannya dan kubalas dengan lambaian pula. Begitulah kami hampir setiap hari.
*** 

(BERSAMBUNG)

Translate