Sejak itu, aku makin akrab dengan Lusi. Hampir setiap pulang sekolah aku
mampir ke rumahnya. Aku pun selalu setia menantinya di depan pagar
sekolah, jika dia belum keluar kelas.
Suatu hari sepulang dari majelis taklim Lusi berkata, “Her, kamu cantik dengan kerudungmu.”
“Ah, gombal.” kataku. “Kamu malah, lebih cantik kalau ndak pakai jilbab.” Lusi tak bereaksi.
“Sejak kapan kamu berjilbab, Lus?” tanyaku kemudian.
“Sejak kecil aku biasa pakai jilbab, tapi kalau pergi jalan saja. Namun
saat aku mendapat haid pertamaku, ayahku menyuruhku memakai jilbab
sebagaimana seorang wanita yang sudah saatnya menutup aurat.” jawabnya.
“Nanti, ah! Kalau sudah lulus aku pakai jilbab juga,”kataku kemudian.
“Kenapa menunggu lulus?” tanya Lusi lagi.
“Belum banyak jilbabku, Lus. Belum banyak pula baju panjangku.” Lusi tersenyum mendengar alasanku.
“Kalau begitu, berhentilah kamu membeli baju dan celana yang tidak
mendukung jilbabmu.” katanya lagi. Aku cuma tersenyum kecut. Bagikku,
masih sulit untuk menghentikan keinginanku mengikuti mode-mode di
televisi.
“Emang, kamu ndak pernah nonton TiVi, Lus? Kamu nggak pengen bergaya seperti anak-anak muda jaman sekarang?” tanyaku ingin tahu.
“Kamu tahu di rumahku tidak ada televisi, kan?” tanya Lusi seolah mengingatkanku.
Aku memanggutkan kepala. “Memangnya kamu nggak kesepian, Lus?” tanyaku lagi. Lusi menggeleng.
“Aku sudah terbiasa tanpa tivi sejak kecil.” katanya.
“Sama sekali kamu tidak pernah menonton film?” tanyaku ingin tahu.
“Pernah,” jawabnya. “Waktu itu, aku kelas tiga SMP. Aku nonton film
Barat. Mungkin karena merasa bersalah, habis nonton aku bermimpi ketemu
ibuku. Dalam mimpi itu, ibuku menangis sedih. Akhirnya aku pun terbangun
dan terus menangis sampai pagi. Sejak itu aku tak pernah lagi.”
Jangan mempertanyakan hal-hal yang menjadi rahasia ALLOH, jangan lukai perasaan orang-orang yang sedang bersabar dan ridho dengan ketentuan ALLOH, yang telah lebih dulu menikah, bukan berarti Anda hebat mencari pasangan, semua itu karena telah sampai jodoh Anda. yang telah mendapat anak setelah menikah, bukan berarti Anda hebat dalam hal suami isteri, namun karena rezeki telah ditetapkan ALLOH. ALLOH MAHA MENGATUR DALAM KEHIDUPAN
Sabtu, 05 Oktober 2013
Jumat, 04 Oktober 2013
Pintu Hidayah (Bagian 4) : Allah Menguji Kesabaran Setiap Manusia
“Siapa dia, Lus?” tanyaku berbisik.
Lusi tak menjawabku, malah ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.
“Rin, kenalkan. Ini ada Hera, temanku.”kata Lusi padanya.
Perempuan yang dipanggil Rin itu menggerakkan bola matanya ke arahku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumya.
“Maaf, Her. Rina tak bisa banyak bicara. Tubuhnya terlalu lemah.” Lusi menjelaskan.
“Ya,” jawabku mengerti.
Kulihat sekali lagi Rina tersenyum. Sekali lagi aku pun mengangguk ramah.
“Kita ngobrol di luar saja, kalau begitu.” ajakku pada Lusi.
Ketika kami hendak beranjak pergi, tangan Lusi ditarik Rina.
“Kamu tak terganggu kalau kami ngobrol di sini, Rin?” tanya Lusi seperti mengerti maksud Rina. Rina mengangguk.
“Sepertinya kita ngobrol di sini saja.” kata Lusi selanjutnya.
Lusi duduk di pinggir ranjang, dekat kaki Rina. dan aku mengambil kursi, duduk dekat meja yang hampir berdempet dengan ranjang. Kami ngobrol banyak siang itu. Rina tak banyak bicara, kalau pun bicara suaranya lemah sekali. Sedang aku dan Lusi bergantian bicara.
Menurut diagnosa dokter, Rina sedang menderita kanker usus. Usianya baru dua puluh tahun. Dia seorang mahasiswa. Empat hari yang lalu ia keluar dari Rumah Sakit. Dokter angkat tangan terhadap penyakitnya. Saat ini, Rina sedang menunggu orang tuanya yang akan menjemputnya pulang ke Sumatra, kampung halamannya. Sekitar pukul sebelas siang, akhirnya aku pamit.
“Jadi, besok kamu belum turun?” tanyaku pada Lusi.
“Sepertinya belum. Karena besok tanteku baru tiba. Tak mungkin aku meninggalkan mereka.” jawab Lusi.
“Aku akan sempatkan mampir lagi,”kataku.
“Lho, kamu bilang ndak suka maem pir.” balas Lusi.
“Oh, ya. Kalau begitu sediakan bakso untukku besok, ya?!” kataku tak mau kalah.
Sepanjang perjalanan pulang aku pun berfikir bahwa masih banyak orang yang sebetulnya mendapat cobaan lebih berat dariku. Masa, aku yang hanya dihina karena tompel besar ini, harus murung? Marah pada Tuhan? Habis kesabaran? Ah, sempit sekali pikiranku selama ini.
Terngiang ucapan Lusi tadi, “Pastilah Tuhan memberiku kebaikan dengan cacat di tanganku ini. Tapi aku belum menyadarinya saat ini. Begitu pun Rani, diberi sakit berat. Allah sedang menguji kesabarannya. Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka Allah akan mengujinya.”
Lusi pun bercerita bahwa ia pernah mendengar ceramah seorang Ustadzah yang mengisi taklim hari Minggu di Mushola Khadijah, dikisahkan tentang seorang pemuda yang buta, dia menyesali nasibnya yang dilahirkan sebagai orang buta. Hingga suatu saat ia tertangkap pasukan raja kanibal yang mecari pemuda di setiap desa untuk dijadikan santapannya. Saat eksekusi tiba, Raja memeriksa kesehatan setiap pemuda yang akan menjadi korbannya. Akhirnya raja kanibal itu melepaskan pemuda buta itu karena dianggap cacat. Maka selamatlah ia, dan akhirnya pemuda itu pun berbalik mensyukuri kebutaannya. Karena buta, ia terhindar dari raja kanibal. (BERSAMBUNG)
Kamis, 03 Oktober 2013
Pintu Hidayah (Bagian 3) : Merindukan Lusi
Sudah tiga hari aku pulang sekolah tanpa Lusi. Entah kemana
anak itu, kok tiba-tiba saja hilang tak ada kabarnya. Ingin rasanya aku
bertanya pada salah seorang temannya, namun aku enggan melakukannya.
LUSI. Tiba-tiba saja aku merindukannya.
LUSI. Tiba-tiba saja aku merindukannya.
Seharian aku memikirkannya, kenapa Lusi tak masuk sekolah? Hari itu hari Rabu, kebetulan kami pulang lebih awal karena ada rapat guru. Aku berencana ke rumah Lusi hari ini.
Rupanya tak terlalu sulit mencari rumah Lusi. Karena, begitu aku tanya pada seorang anak kecil hampir semua orang berebut memberitahuku. Rumah Lusi terlihat teduh. Dindingnya bercat kuning gading, dengan kusen warna coklat tua, tanpa halaman, dengan teras yang hampir rapat dengan jalan umum. Sampai di depan pintu rumahnya kuucap salam. Dari dalam terdengar suara Lusi membalas salamku.
“Akhirnya kamu kesini juga, Her.” sambut Lusi begitu membuka pintu dan melihatku. “Ayo masuk,” lanjutnya.
Di rumah pun Lusi masih mengenakan jilbab panjang sesikunya. dengan baju kurung panjang model sederhana.
“Kenapa kamu nggak sekolah, Lus?” tanyaku setelah kami duduk di ruang tamu.
“Biar kamu mampir,”jawabnya asal.
“Ah, aku ndak suka maem pir, apa lagi baut, paku… aku lebih suka maem bakso, Lus.” jawabku bercanda.
Lusi tertawa.
“Rupanya kamu bisa melucu juga, Her. Kukira kamu itu pemurung,”katanya.
“Begitukah? Kalau begitu tunggu saja, aku akan melamar jadi anggota pelawak.” jawabku.
“Aku senang kamu datang, Her. Aku merasa, kamulah sahabatku yang terbaik.” katanya, sejenak setelah ia berhenti tertawa.
“Orang lain selalu memandang kasihan terhadapku, karena tanganku yang cacat sejak lahir ini. Setiap aku akrab dengan seseorang, biasanya orang itu merasa lebih sempurna dariku sehingga meremehkan kemampuanku. Atau merasa kasihan dengan cacat tubuhku, dan itu membuatku merasa tak berguna.Kamu lain, Her. Kamu kadang tak peduli dengan keadaanku. Tapi, kamu juga menghawatirkan aku. Seperti saat ini, setelah tiga hari aku tak pergi sekolah, kau datang memastikan keberadaanku. Padahal kau belum pernah ke rumahku.” Ucapnya.
“Aku kehilangan kamu, Lus. Habis seminggu ini ndak ada tukang jemputku.” kataku, seketika cubitan kecil mendarat di lenganku.
“Serius, Lus. Kenapa kamu bolos sekolah?” tanyaku serius.
Lusi tersenyum.
“Ada sepupuku, dia datang empat hari yang lalu. Ayo, kukenalkan.” kata lusi sambil mengajakku masuk ke sebuah kamar.
Aku merasa yakin, bahwa ini adalah kamar Lusi. Di dinding kamar itu ada foto Lusi seukuran A3. Kamar yang rapi, ada sebuah meja belajar di pojok tepat di bawah jendela kamar, ada lap top yang sedang menyala diatasnya. Sebelah kiri meja belajar terdapat sebuah tempat tidur, di atasnya seorang wanita bersandar lemah diatas tumpukan bantal. Wanita itu, tubuhnya sangat kurus tertutup selimut, kulitnya pucat, kepalanya ditutup kerudung, matanya cekung. Mirip sebuah tengkorak hidup. Astaghfirullah.
“Siapa dia, Lus?” tanyaku berbisik.
Lusi tak menjawabku, malah ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.
Rabu, 02 Oktober 2013
Pintu Hidayah (Bagian 2) :Lusi
Begitulah hari-hariku, hingga ketika menjelang berakhirnya masa sekolahku di
SMA, aku bertemu Lusi. Dia bukan gadis beruntung, dia cacat sejak lahir.
Jari-jari tangan kirinya nyaris tidak ada. Dia sekolah di sebuah sekolah swasta
bersebelahan dengan sekolahku. Tadinya aku tak mengetahui kalau tangannya
cacat. Karena ia selalu sembunyikan di balik kerudung panjangnya.
Pertama kali kami berbincang, berawal saat dia mengejarku, mengambilkan bolpoinku yang terjatuh. Sejak itu kami biasa pulang sama-sama. Kebetulan jalan pulang ke rumah kami searah. Saat pulang sekolah dia selalu menantiku di depan pagar sekolah. Kalau aku pulang duluan, tak pernah aku menunggunya. Kadang keesokan harinya dia akan protes, seperti saat itu.
“Assalamualaikum, Her!” sapanya begitu melihatku.
"Wa’alaikum salam,” aku menjawab salamnya.
Lusi selalu mengawali dan mengakhiri pertemuan kami dengan mengucap salam. Saat kutanya, kenapa. Dia bilang bahwa salam itu do’a. Kalau dua orang bertemu, yang pertama mengucap assalamu’alaikum, artinya dia berdo’a dengan tulus agar orang yang diberi salam itu selalu dalam keadaan selamat. Begitu pula orang yang menjawab wa’alaikumsalam, artinya dia pun berdo’a agar yang memberinya salam itu selalu dalam keadaan selamat juga.
“Kamu kalau pulang duluan ndak pernah nungguin aku, lho.”tegurnya begitu kami berjalan beriringan.
Aku tersenyum. “Maaf! Aku harus buru-buru,” alasanku.
“Kamu selalu rindu rumah, ya?” candanya.
“He-eh,” kataku pula.
“Kalau hari Minggu kamu sibuk, Her?” tanyanya.
“Kadang-kadang,” kataku.
“Kalau tidak sibuk, maukah kau ikut pengajian pagi di Mushola Khadijah?” tanyanya lagi.
“Lihat saja nanti,” jawabku tak tertarik.
Kulihat Lusi menundukkan kepalanya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya.
“Her, maukah kau mampir ke rumahku?” tanyanya lagi.
“Kayaknya, lain kali aja deh!” lagi-lagi aku menolak.
“Kuharap, lain kali kamu benar-benar akan ke rumahku.” katanya saat hampir sampai gang kecil jalan masuk ke rumah Lusi.
“Assalamu’alaikum,” pamitnya
“Wa’alaikum salam,” jawabku.
Sebentar kuhentikan langkah, biasanya sebelum berbelok dia akan membalik badan dan melambaikan tangannya dan kubalas dengan lambaian pula. Begitulah kami hampir setiap hari.
***
(BERSAMBUNG)
Pertama kali kami berbincang, berawal saat dia mengejarku, mengambilkan bolpoinku yang terjatuh. Sejak itu kami biasa pulang sama-sama. Kebetulan jalan pulang ke rumah kami searah. Saat pulang sekolah dia selalu menantiku di depan pagar sekolah. Kalau aku pulang duluan, tak pernah aku menunggunya. Kadang keesokan harinya dia akan protes, seperti saat itu.
“Assalamualaikum, Her!” sapanya begitu melihatku.
"Wa’alaikum salam,” aku menjawab salamnya.
Lusi selalu mengawali dan mengakhiri pertemuan kami dengan mengucap salam. Saat kutanya, kenapa. Dia bilang bahwa salam itu do’a. Kalau dua orang bertemu, yang pertama mengucap assalamu’alaikum, artinya dia berdo’a dengan tulus agar orang yang diberi salam itu selalu dalam keadaan selamat. Begitu pula orang yang menjawab wa’alaikumsalam, artinya dia pun berdo’a agar yang memberinya salam itu selalu dalam keadaan selamat juga.
“Kamu kalau pulang duluan ndak pernah nungguin aku, lho.”tegurnya begitu kami berjalan beriringan.
Aku tersenyum. “Maaf! Aku harus buru-buru,” alasanku.
“Kamu selalu rindu rumah, ya?” candanya.
“He-eh,” kataku pula.
“Kalau hari Minggu kamu sibuk, Her?” tanyanya.
“Kadang-kadang,” kataku.
“Kalau tidak sibuk, maukah kau ikut pengajian pagi di Mushola Khadijah?” tanyanya lagi.
“Lihat saja nanti,” jawabku tak tertarik.
Kulihat Lusi menundukkan kepalanya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya.
“Her, maukah kau mampir ke rumahku?” tanyanya lagi.
“Kayaknya, lain kali aja deh!” lagi-lagi aku menolak.
“Kuharap, lain kali kamu benar-benar akan ke rumahku.” katanya saat hampir sampai gang kecil jalan masuk ke rumah Lusi.
“Assalamu’alaikum,” pamitnya
“Wa’alaikum salam,” jawabku.
Sebentar kuhentikan langkah, biasanya sebelum berbelok dia akan membalik badan dan melambaikan tangannya dan kubalas dengan lambaian pula. Begitulah kami hampir setiap hari.
***
(BERSAMBUNG)
Selasa, 01 Oktober 2013
Pintu Hidayah (Bagian 1) :Tompel
Aku percaya, bahwa semua yang diluar kuasa manusia adalah dari Tuhan.
Kita semua tak pernah bisa memilih siapa orang tua kita, sebagai mana
kita tak bisa memilih jasad yang ditempati oleh ruh kita saat ini. Semua
itu dari Allah. Semua adalah takdir.
Begitu pun aku. Aku tak pernah
meminta Tuhan untuk menempatkan ruhku pada jasadku saat ini. Kulit
hitam, rambut keriting, tubuh kurus, ditambah tompel besar warna hitam
selebar kepalan tangan di wajahku. Tepatnya dipipi sebelah kiri.
Waktu kecil, aku tumbuh penuh percaya diri. Aku tak pernah menyadari bahwa tanda di muka ini akan membuatku jadi bahan olok-olok diantara teman-teman sebayaku atau pun setiap orang yang tak senang melihatku.
Sebelumnya semua orang tak terlalu memperhatikan tompel dimukaku ini. Namun, saat aku masuk SMP, seorang teman bernama Tina, entah apa masalahnya denganku, hampir setiap bertemu dibuatnya aku malu. Kalau memang dia bermaksud bercanda, pastilah dia melihat reaksiku saat dia mencandai aku. Aku tidak suka. Tapi rupanya, dia mendapat kesenangan tersendiri saat melihat reaksiku menyembunyikan kemarahan.
Jika di sekolah ada Tina, maka di kampung tempat tinggalku ada Yayu. Gadis ini cantik, sangat cantik bahkan. Mudah bergaul, banyak sekali temannya. Namun suatu kebiasaanya jika ia sedang berkumpul dengan teman-temannya, ia akan menjadikan salah seorang sebagai bulan-bulanan. Termasuk aku salah satu yang paling sering menjadi korbannya.
Aku pun mulai menarik diri dari pergaulan. Agar aku tak terlalu banyak sakit hati dengan tingkah laku teman-temanku itu. Pergi ke sekolah, aku sengaja berlambat-lambat, agar aku tiba tepat saat jam pelajaran di mulai. Waktu istirahat, aku lebih banyak bersembunyi di perpustakaan. Saat pulang sekolah, aku berusaha sesegera mungkin sampai ke rumah. (BERSAMBUNG)
Begitu pun aku. Aku tak pernah
meminta Tuhan untuk menempatkan ruhku pada jasadku saat ini. Kulit
hitam, rambut keriting, tubuh kurus, ditambah tompel besar warna hitam
selebar kepalan tangan di wajahku. Tepatnya dipipi sebelah kiri. Waktu kecil, aku tumbuh penuh percaya diri. Aku tak pernah menyadari bahwa tanda di muka ini akan membuatku jadi bahan olok-olok diantara teman-teman sebayaku atau pun setiap orang yang tak senang melihatku.
Sebelumnya semua orang tak terlalu memperhatikan tompel dimukaku ini. Namun, saat aku masuk SMP, seorang teman bernama Tina, entah apa masalahnya denganku, hampir setiap bertemu dibuatnya aku malu. Kalau memang dia bermaksud bercanda, pastilah dia melihat reaksiku saat dia mencandai aku. Aku tidak suka. Tapi rupanya, dia mendapat kesenangan tersendiri saat melihat reaksiku menyembunyikan kemarahan.
Jika di sekolah ada Tina, maka di kampung tempat tinggalku ada Yayu. Gadis ini cantik, sangat cantik bahkan. Mudah bergaul, banyak sekali temannya. Namun suatu kebiasaanya jika ia sedang berkumpul dengan teman-temannya, ia akan menjadikan salah seorang sebagai bulan-bulanan. Termasuk aku salah satu yang paling sering menjadi korbannya.
Aku pun mulai menarik diri dari pergaulan. Agar aku tak terlalu banyak sakit hati dengan tingkah laku teman-temanku itu. Pergi ke sekolah, aku sengaja berlambat-lambat, agar aku tiba tepat saat jam pelajaran di mulai. Waktu istirahat, aku lebih banyak bersembunyi di perpustakaan. Saat pulang sekolah, aku berusaha sesegera mungkin sampai ke rumah. (BERSAMBUNG)
Zombie
seonggok tubuh
dan setitik penyakit dalam batinnya,
mengumbar perkataan fatamorgana,
habiskan waktu berjam-jam tiada guna,
menebar virus yang tengah diidapnya,
mendidih lava menyembur ke segala arah,
dadanya menyempit penuh bongkahan sampah,
ada dengki,
ada iri,
ada amarah,
ada makian,
ada celaan
dengan kekuasaannya ...
ia membunuh,
merampas,
merusak,
menindas,
menghancurkan,
dengan lidahnya...
ia mencabik-cabik daging siapa saja
seonggok tubuh
dengan setitik penyakit dalam batinnya
menjadi bencana bagi kaum sekelilingnya
seonggok tubuh
dengan setitik penyakit dalam batinnya
bertobatlah.
Sabtu, 28 September 2013
Rindu Ibu
dengan suara lembut bibirmu
lesung di pipi,
gelitik di jiwa,
perisai dingin,
dalam pelukan rindu
gelitik di jiwa,
perisai dingin,
dalam pelukan rindu
mengenang 20 tahun almarhumah ibuku
Langganan:
Komentar (Atom)
