Rabu, 31 Agustus 2016

Cinta Lama

Dia mengeluarkan motor dari rumahnya. Pintu dibiarkan terbuka. Dia menyalakan motor untuk memanaskan mesin. Nampak anak sekolah berlewatan di depan rumahnya.
Pikirannya masih gundah setelah menemukan sebuah nama di grup WA alumni sekolahnya. Nama yang memaksa dirinya untuk bertempur. Tapi bukan melawan musuh. Dan bukan pertempuran bersenjata. Tapi bertempur melawan rasa yang ada di dada. Rasa yang bangkit kembali setelah 20 tahun mati. Rupanya rasa itu tak mati. Hanya bersembunyi di sela-sela putaran roda kehidupan.
Hatinya sibuk menghadang rasa itu. Tapi dia tak mampu. Pertempuran berjalan seimbang.
Istrinya keluar bersama dua anaknya yang siap berangkat sekolah. Satu bercelana panjang merah, satu lagi bercelana panjang biru.
Suara anaknya menyadarkan lamunannya. Keduanya naik ke jok belakang motor. Istrinya yang cantik dan semampai, anggun dengan jilbab lebarnya, melepas di depan pintu.
Dia memasukkan motornya ke rumah. Kedua anaknya yang berusia 3 dan 4 tahun sudah rapi dan wangi, bermain di teras rumah. Masuk ke rumah, dia mencium aroma sarapan yang membuat perut lapar.
Cantik, solehah, dan pandai masak. Kombinasi idaman bagi lelaki yang mencari istri.
Dia segera menuju meja makan. Ditemani oleh istrinya tanpa jilbab lebarnya.
Duduk di meja makan sambil tersenyum.
Istrinya cantik, solehah dan pandai masak. Pandai mengatur rumah.
Tapi mengapa rasa yang telah terkubur tetap memaksa bangkit?
Ataukah memang ini fitrah lelaki yang bisa menampung lebih dari satu cinta dalam hatinya?
Apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi seperti ini?
-------------------
Rasa itu masih menggoda hatinya. Mengetuk pintu rumah hatinya yang sudah berpenghuni.
Tapi dia ingat, bahwa rumah hatinya tidak hanya bisa dihuni sendirian. Masih bisa dihuni oleh cinta yang lain. Hatinya bukan kamar apartemen studio yang hanya bisa dihuni oleh 1 penghuni.
Dia tersenyum lebar. Kegundahan hatinya akan segera hilang. Sebagaimana malam hilang saat matahari terbit. Seperti banjir bandang yang surut.
Bagaimana tidak hilang gundahnya, dan berganti dengan rasa gembira yang luar biasa. Karena rumah hatinya akan memiliki penghuni baru.
Dia membayangkan indahnya hidup bersama dua bidadari dunia, yang akan membuat hidupnya lebih berwarna. Hidup menjadi indah dengan satu bidadari. Apalagi ditambah satu lagi.
Tapi kegembiraan itu tak berumur panjang. Dia mengerutkan dahinya kembali. Duduk terkulai lemas di kursi. Dan gundahnya datang kembali.
Karena ternyata si dia sudah bersuami.
-------------------------------
Saat itulah setan datang menggoda. Agar dia tetap mengejar cintanya meski si dia sudah bersuami.
Setan tahu bahwa si dia punya WA juga. Maka setan menggodanya untuk tetap merebutnya dengan berbagai cara.
Si dia juga punya WA, punya FB, berarti kesempatan untuk merebut masih ada. Begitu setan menggodanya.
Setan tak hanya memotivasi agar tetap mengejar. Seolah hanya dia saja perempuan di jagad ini. Padahal dia sudah punya bidadari. Tapi memang dasar setan, memang tugasnya menggoda dan mengganggu. Tugasnya mengajak agar manusia terjerumus kepada maksiat.
Lihat FB nya, pertama kasih like dulu di statusnya. Lalu perhatikan statusnya, pasti ada yang mengandung curhat. Kalo sudah curhat, tandanya kamu bisa masuk. Begitu kata setan.
Kasih perhatian lebih, siapa tahu dia kurang perhatian. Batu yang keras akan kalah oleh tetesan air yang terus menerus. Teruslah dan jangan menyerah. Dia layak untuk dikejar, demi cinta yang memburu di dada. Agar gundahmu segera hilang, diganti dengan bahagia dengan dua bidadari. Setan terus membisikkan gangguannya.
Tapi setan menggoda orang yang salah. Dia tidak segera mengikuti godaan setan. Dia masih bisa berpikir. Allah masih menjaganya.
Dia teringat dosa, dia tidak mau menambah gundahnya. Karena dosa juga membuat gundah. Bisa dua kali lipat gundahnya.
Dia teringat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang melarang takhbib, yaitu merusak hubungan rumah tangga orang, mempengaruhi istri agar cerai dari suami.
Dia tidak mau menambah dosa.
Tak mengapa dia menanggung gundah daripada menanggung dosa takhbib.
Kasihan si suami merana jika istrinya minta cerai gara-gara dia. Kasihan rumah tangganya. Kasihan anak-anaknya.
Dan yang pasti, Allah nanti akan murka. Jika Allah murka bisa jadi nanti semuanya bubar.
Biarlah gundah ini dia rasakan sendiri. Dia lawan sendiri. Lebih baik bergulat dengan gundah, daripada bergelimang dosa.
Tapi sampai kapan harus bergulat melawan gundah?
Berapa lama lagi ..?

Secuil kisah di siang hari pada 30 Agustus 2016

Siang itu, saatnya anak-anak mengambil wudhu untuk sholat dhuhur. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Berharap anak-anak berteduh di area tempat wudhu mesjid hingga hujan reda. 
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja mereka berlarian dibawah hujan deras. Suara teriakan saya meminta mereka berteduh tak terdengar, tak mampu bersaing dengan gemuruh suara hujan. Dan anak-anak dengan bebas sebebas-bebasnya berlari melompat menghadang hujan. Dan, seketika mereka pun basah kuyub sambil tertawa bebas.

Saya langsung lunglai, gak mungkin anak-anak sholat dhuhur dengan baju basah kuyub sedemikian. Malah bikin kotor masjid, itu pasti.
Geram, tapi apa mau dikata. Naluri anak-anak melihat hujan ya langsung main hujan. Yang kami khawatirkan bias jadi diantara mereka tidak tahan dingin yang malah membuat mereka masuk angin. Akhirnya, saya kirim pesan pada orang tua murid satu per satu agar segera menjemput putra putrinya. 


Dengan sabar saya menunggu satu per satu murid dijemput sambil memohon maaf pada orang tua atas kejadian yang tak sanggup saya cegah hari itu. Alhamdulillah, semua orang tua memaklumi keadaan ini.


Dua krucil saya terlihat keluar dari mesjid, Alhamdulillah mereka tidak main hujan seperti yang lain. Setelah seluruh murid pulang, saya pun beranjak pulang. Saat melalui parit kecil yang memisahkan antara sekolah dan kebun, kepala saya langsung cenut-cenut. Dua krucil saya memang tak sedang bermain hujan sebab hujan pun telah reda, mereka berdua sedang berendam di parit penuh lumpur itu.


Sudah tak ada tenaga saya lagi untuk ngomel. Saya hanya member isyarat agar mereka segera naik, lalu memandikannya. Masih dengan diam saya menyiapkan tempat tidur mereka, tanpa disuruh pun kedua krucil seperti mengerti apa yang saya inginkan. Tidur.


Terimakasih telah membaca cerita saya
salam senyum

Selasa, 30 Agustus 2016

Kita Semua Pernah Melakukan Kesalahan

Tadi, anak-anak saya di sekolah saling tuduh siapa yang salah dan siapa yang benar. Ya, tentu mereka masing-masing menganggap dirinya benar, dan temannya salah.

Lalu saya nanya: "Siapa yang tidak pernah berbuat salah."

Rata-rata mereka semua ngaku dan berebut; "Saya tak pernah berbuat salah!!!."
Lalu saya cerita, Nabi Adam pernah berbuat salah sehingga dikeluarkan dari surga. Nabi Yunus pernah berbuat salah hingga diberi cobaan masuk dalam perut ikan. Nabi Muhammad yang mulia juga pernah melakukan kesalahan sehingga ditegur oleh Alloh melalui surat Abasa.

"Jadi, setiap manusia pernah berbuat salah." kata saya. "Lalu, siapa tadi yang ngaku tidak pernah berbuat salah?" tanya saya lagi.

"Saya, Mi. Saya ga pernah." beberapa dari mereka masih ndak mau ngaku.

Lalu saya memberi isyarat heran. "Jadi, kamu tidak pernah berbuat salah?"

"Tidak, Mi!!!" 
"Aku endak...aku endak...!!!!"

"Jadi, kamu bukan manusia?" tanya saya dengan ekspresi seheran-herannya.

"Eh... enggak Mi. Aku pernah salah sekali saja. Dia nih yang banyak!!" kata salah satu dari mereka sambil menunjuk teman di sebelahnya.

"Bener?!!!" saya coba meyakinkan.

Tiba-tiba ada yang angkat suara, "Iya Mi. Aku sering dimarahin sama mama."

Saya tersenyum pada pemilik suara itu. "Kenapa dimarahin sama Mama?" tanya saya.

"Aku bikin nangis adikku." jawabnya

"jadi, siapa yang berbuat salah?" tanya saya lagi.

"Ya, akulah..." katanya jujur.

"Siapa lagi yang tidak pernah berbuat salah?" tanya saya lagi sambil memperhatikan kesebelas murid saya.

Mereka saling memandang temannya dan saling tersenyum. Kali ini tak terdengar lagi yang mengaku tidak pernah salah.
Kadang, kita harus berepot-repot untuk membuat anak-anak mengerti dan sedikit demi sedikit melepas penyakit merasa benar.
Begitu kisah saya hari ini, Selasa 30 Agustus 2016

Minggu, 28 Agustus 2016

Bismillah itu Bukan Mantra

Sekitar dua minggu yang lalu. Kami diundang makan malam sama tetangga. Menunya coto makasar. Enak memang. Tapi, saya selalu diingatkan dengan usia. Wes luwih tekan petangpuluh. Alhamdulillah sih, belum pernah (dan jangan sampai) yang sakit sampai serius.

Akhirnya saya makan sedikit saja, mengambil sekitar dua potong daging dan bener-bener menghindari jerohan (padahal nikmatnya coto makassar ya pada jerohannya)

Teman saya bilang, : "takut amat, emang punya sejarah asam urat?"

saya, : "Menjaga saja, sih."

Teman saya, : "Bismillah saja, makannya. Insya Alloh gak papa."
Lalu, ada setoples kacang telor. Teman saya itu, ngemil dengan nikmatnya.

"Kacang, juga tak nak?" tanyanya sedikit kocak hingga bikin senyum orang-orang yang mendengarnya. 

"Mau juga, tapi ga banyak." kata saya.

"Hmm... Ga jadi makan deh kalo apa-apa dihindari." lanjutnya.

Dua hari berikutnya, saya dengar teman saya ini sakit. Kabarnya jari tangannya gak bisa menggenggam dan sulit mengangkat tangan. Rupanya beliau terserang asam urat.
Gak mungkinlah, saya bilang "rasain" ke beliau  yang jelas, saya bersyukur masih bisa mengendalikan diri untuk tidak makan dengan berlebihan. Meski sejujurnya coto makassar itu sungguh menggoda, juga kacang telornya.

Bismillah itu bukan mantra, Bismillah itu untuk mengingatkan bahwa kita melakukan segala hal tidak atas nama hawa nafsu.

Kamis, 04 Agustus 2016

Anakku Tak Tertarik Untuk Sekolah



Suatu hari, saya dikejutkan dengan permintaan putra ke tiga saya. Permintaan itu adalah TAK MAU SEKOLAH.
Kebetulan, kami baru saja pindahan dari Balikpapan ke Samarinda. Saya melihat dia sangat antusias saat kami mulai berkemas. Pindah mendadak, sebab ada sebuah sekolah yang memerlukan tenaga saya di sana. Berita itu hari Jumat saya terima, dan perintahnya, hari Ahad sudah ada di sana sebab Senin sudah mulai tahun ajaran baru.

Sampai di Samarinda, kami mulai mencari sekolah untuk Hilal, putra ke tiga saya. Tiba-tiba dia memohon : 'Ummi, mas tak nak sekolah."
"Lho...?!" saya menanggapinya sambil lalu saja. Saya mengira ia hanya bosan dan masih ingin menikmati libur panjangnya.

Hari berikutnya, abinya mulai membicarakan kembali tentang sekolahnya. Rupanya dia menyimak, tak pergi main seperti biasa.

Suatu malam, dia bilang; "Ummi, mas mau jadi kecil lagi. Biar bisa bobok sama ummi." 
Saya tertawa mendengar ucapannya.
Lalu, "Ummi, mas ndak mau sekolah. Biar mas di rumah saja. untuk belajar membaca Al-Qur'an saja."
"Begitu, ya?" saya bergumam
"Iya." jawabnya
"Mas punya cita-cita?" tanya saya.
"Punya, dong."
"Apa cita-citanya."
"Jadi marbot," jawabnya sambil tersenyum.

Saya terdiam. Cita-cita yang tak memerlukan ijasah tinggi. Saya mulai menghubungkan beberapa kali keinginanannya untuk berhenti sekolah. Mungkin ia serius.

Sebetulnya Hilal anak yang cukup cerdas. Sebab selama ini ia selalu masuk lima besar di kelasnya.
Sepertinya dia sangat menyadari bahwa kemampuannya tak seperti kedua kakaknya. Namun, apakah harus berhenti belajar?

Marbot adalah cita-cita luar biasa. Malam itu, saya pandangi Hilal yang tengah tidur pulas. 
Maa Syaa Allooh... Anak yang baru berusia sepuluh tahun,  tahu pekerjaan yang bisa mendekatkan dirinya dengan Alloh.

Saya bukan ibu yang mewajibkan anaknya untuk belajar ilmu umum atau ilmu fardhu kifayah. Saya hanya ingin anak-anak mempelajari ilmu yang bersifat fardhu 'ain. Ilmu yang lebih diwajibkan untuk dipelajari sebagai bekal di kehidupan mendatang.

***

Suatu sore bersama Hilal, saya memulai pembicaraan lagi tentang cita-citanya.
"Bener, mas ingin jadi marbot?"
"Iya." ucapnya
"Ingin jadi marbot. Bukan berarti mas harus berhenti belajar, bukan?"
"Tapi mas tak suka sekolah." 
"Jadi marbot juga harus tahu hukum Alloh, kan?"
Hilal terdiam
"Bagaimana, Mas?" tanya saya lagi.
"Mas mau ngaji, di TPA. Mas gak mau belajar IPA. Mas cuma suka matematika saja."
"Kalau masuk Rumah Qur'an, bagaimana?"
"Belajar Qur'an saja?" dia balik bertanya
"Insya Alloh." jawab saya.
"Tapi coba dulu ya, Mi? Satu minggu." katanya
"Lho, kalo mau coba ya harus satu tahun." saya mencandainya.
"Kalau gak tahan, bagaimana?"
"Ya, ditahan." jawab saya

Senin tanggal 1 Agustus, Hilal diantar ke Rumah Qur'an di M Yamin Samarinda. Untuk menjempun cita-citanya sebagai marbot.


Rabu, 26 November 2014

Nylon Strap Watch

Nylon Strap Watch: Nylon strap watch by Zalora, this nylon watch has a cute color, baby pink combined with gold crown-guard, perfect watch for everyday use. Casual watch that will steal everyone eyes. air this watch with white shirt, blue jeans and a sneakers for a normcore style.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LG5n7

Rabu, 05 November 2014

Sakaratul Maut


Cerpen Hilda W
Joe ditahan, ada borgol mengikat kedua tangannya. Dia jadi tersangka pembunuhan Mary. Sedang aku, menjadi saksi. Aku tahu, Joe mungkin tak bersalah. Mungkin dia hanya sebagai jalan bagi kematian Mary. Ah, entahlah bagaimana aku harus menjelaskannya.
Aku, Joe dan Mary telah lama bersahabat. Kami biasa jalan bertiga, ke mall atau diskotik. Kadang nonton ke bioskop. Selama ini kami hanya bersahabat, saling traktir bergantian, tak ada hubungan special semacam cinta-cintaan. Joe bukan tipe cowok yang diinginkan Mary, apalagi aku.
Joe bertubuh kurus kerempeng, wajahnya lumayan, bisa dikategorikan cakep. Tapi sayang, Joe bukan cowok pintar, sangat cenderung pada bodoh bahkan. Mungkin disebabkan kecanduannya pada morphine. Joe pelupa, suka tulalit, yang tulalitnya itu justru membuat ia jadi kocak. Kami berdua tahu, Joe cinta berat sama Mary.
Mary adalah temanku sejak masih di Junior High School. Wajahnya jauh lebih cantik dariku. Orang tuanya cukup kaya, dialah yang sering mentraktir kami. Dia cewek periang, nyaris tak pernah kulihat ia sedih. Kami tinggal satu kamar kost.
Hari itu Joe datang ke kost kami. Dia punya ‘barang’ dan ingin mentraktir kami. Mary dengan senang hati menerima. Maka pergilah kami bertiga, menuju hotel yang telah dipesan oleh Joe.
Di dalam kamar Hotel malam itu, aku dalam keadaan mabok berat, terbaring di ranjang. Joe duduk di tepi ranjang. Dia dan Mary hendak turun ke diskotik melanjutkan pesta, malam itu. Mary menelan ineks sebelumnya.
Tak lama setelah itu, entah datang dari mana tiba-tiba sebuah makhluk yang maha mengerikan berdiri di depan Mary. Mary histeris, aku pun ketakutan melihatnya. Aku juga ingin teriak, tapi aku tak sanggup, aku hanya menunjuk makhluk itu. Makhluk itu mendekati Mary, teriakan Mary makin kencang. Aku tak menyalahkannya sebab aku juga sangat ketakutan melihatnya.
Mungkin Mary meminta tolong pada Joe. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya teriakan yang makin lama makin keras dengan matanya yang melotot ketakutan. Joe mengira Mary sakaw. Joe benar-benar panik.
Joe membuka lemari es, semula ia mengambil air mineral dan memaksa Mary meminumnya. Tapi Mary tetap teriak, lalu ia mengambil susu dan lagi-lagi memaksa Mary meminumnya hingga tertumpah-tumpah.
Joe melihat ke arahku yang tentu tak ada harapan bisa membantunya untuk menenangkan Mary. Joe menyuruh Mary diam sebab ia tak ingin teriakan itu mengundang petugas hotel masuk ke kamar kami.
Ia mencoba membungkam mulut Mary, aku melihat makhluk itu makin dekat ke wajah Mary yang semakin histeris. Joe membanting tubuh Mary dan jatuh dekat kakiku, lalu menyambar bantal disampingku, untuk meredam suara Mary. Lamat-lamat aku melihat makhluk itu menghilang seiring surutnya teriakan Mary. Tak lama kemudian aku melihat petugas keamanan mendobrak pintu kamar kami. Lalu aku tak ingat apa-apa lagi.
Pagi ini aku melihat Joe tengah diperiksa oleh petugas. Mukanya kuyuh, ada penyesalan atau entah. Ketika mata kami beradu, ia pun menunduk. Aku tahu Joe tak bersalah, Joe tak bermaksud membunuh Mary sebab Joe mencintai Mery. Kematian Mary malam itu adalah takdir. Mungkin makhluk mengerikan itu malaikat maut. Tapi, siapa yang percaya pada omonganku? Orang yang mabuk berat?

Translate