Rabu, 26 November 2014

Nylon Strap Watch

Nylon Strap Watch: Nylon strap watch by Zalora, this nylon watch has a cute color, baby pink combined with gold crown-guard, perfect watch for everyday use. Casual watch that will steal everyone eyes. air this watch with white shirt, blue jeans and a sneakers for a normcore style.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LG5n7

Rabu, 05 November 2014

Sakaratul Maut


Cerpen Hilda W
Joe ditahan, ada borgol mengikat kedua tangannya. Dia jadi tersangka pembunuhan Mary. Sedang aku, menjadi saksi. Aku tahu, Joe mungkin tak bersalah. Mungkin dia hanya sebagai jalan bagi kematian Mary. Ah, entahlah bagaimana aku harus menjelaskannya.
Aku, Joe dan Mary telah lama bersahabat. Kami biasa jalan bertiga, ke mall atau diskotik. Kadang nonton ke bioskop. Selama ini kami hanya bersahabat, saling traktir bergantian, tak ada hubungan special semacam cinta-cintaan. Joe bukan tipe cowok yang diinginkan Mary, apalagi aku.
Joe bertubuh kurus kerempeng, wajahnya lumayan, bisa dikategorikan cakep. Tapi sayang, Joe bukan cowok pintar, sangat cenderung pada bodoh bahkan. Mungkin disebabkan kecanduannya pada morphine. Joe pelupa, suka tulalit, yang tulalitnya itu justru membuat ia jadi kocak. Kami berdua tahu, Joe cinta berat sama Mary.
Mary adalah temanku sejak masih di Junior High School. Wajahnya jauh lebih cantik dariku. Orang tuanya cukup kaya, dialah yang sering mentraktir kami. Dia cewek periang, nyaris tak pernah kulihat ia sedih. Kami tinggal satu kamar kost.
Hari itu Joe datang ke kost kami. Dia punya ‘barang’ dan ingin mentraktir kami. Mary dengan senang hati menerima. Maka pergilah kami bertiga, menuju hotel yang telah dipesan oleh Joe.
Di dalam kamar Hotel malam itu, aku dalam keadaan mabok berat, terbaring di ranjang. Joe duduk di tepi ranjang. Dia dan Mary hendak turun ke diskotik melanjutkan pesta, malam itu. Mary menelan ineks sebelumnya.
Tak lama setelah itu, entah datang dari mana tiba-tiba sebuah makhluk yang maha mengerikan berdiri di depan Mary. Mary histeris, aku pun ketakutan melihatnya. Aku juga ingin teriak, tapi aku tak sanggup, aku hanya menunjuk makhluk itu. Makhluk itu mendekati Mary, teriakan Mary makin kencang. Aku tak menyalahkannya sebab aku juga sangat ketakutan melihatnya.
Mungkin Mary meminta tolong pada Joe. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya teriakan yang makin lama makin keras dengan matanya yang melotot ketakutan. Joe mengira Mary sakaw. Joe benar-benar panik.
Joe membuka lemari es, semula ia mengambil air mineral dan memaksa Mary meminumnya. Tapi Mary tetap teriak, lalu ia mengambil susu dan lagi-lagi memaksa Mary meminumnya hingga tertumpah-tumpah.
Joe melihat ke arahku yang tentu tak ada harapan bisa membantunya untuk menenangkan Mary. Joe menyuruh Mary diam sebab ia tak ingin teriakan itu mengundang petugas hotel masuk ke kamar kami.
Ia mencoba membungkam mulut Mary, aku melihat makhluk itu makin dekat ke wajah Mary yang semakin histeris. Joe membanting tubuh Mary dan jatuh dekat kakiku, lalu menyambar bantal disampingku, untuk meredam suara Mary. Lamat-lamat aku melihat makhluk itu menghilang seiring surutnya teriakan Mary. Tak lama kemudian aku melihat petugas keamanan mendobrak pintu kamar kami. Lalu aku tak ingat apa-apa lagi.
Pagi ini aku melihat Joe tengah diperiksa oleh petugas. Mukanya kuyuh, ada penyesalan atau entah. Ketika mata kami beradu, ia pun menunduk. Aku tahu Joe tak bersalah, Joe tak bermaksud membunuh Mary sebab Joe mencintai Mery. Kematian Mary malam itu adalah takdir. Mungkin makhluk mengerikan itu malaikat maut. Tapi, siapa yang percaya pada omonganku? Orang yang mabuk berat?

Senin, 27 Oktober 2014

Ungkapan Sederhana untuk Istri Tercinta


M. Fauzil Adhim

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap,
Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi. 

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.


Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.


Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda
melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita rnenjerit karena cubitannva yanq bikin sakit.


Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. 

Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan. 

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang
harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.


Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa
banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.


Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?"


Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si
mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah.


Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari
kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku."


Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. 


Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. "Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah," kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk
selalu berbuat baik."


Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya, apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat rnenggerogoti wajahnya, jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya?
Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri ? Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri.


Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya.


Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.

Cinta

Cinta adalah yang kau rindu saat tiada.
Maka jangan kau siksa jika kau tak cinta
Katakan sejujurnya
Agar ia tak makin kecewa
Dan kau tak hanya memberi harapan belaka

Tujuan, Prjalanan dan Tempat

Ketika tujuan bergeser, arah perjalanan pun bergeser juga. Ketika tujuan sudah keliru, maka perjalanan akan sampai ke tempat yang salah.

Minggu, 26 Oktober 2014

Ke Taman Alun-Alun Kota Malang

bermain Bola, Adik udah ambil bola masih mau ambil ulat yang jatuh....



"Lempar, nih..." bilang adek


"Ayo dek... lempar jauh-jauh... " bilang abang

"Ummi, Sabtu depan ke mana lagi?" 


Sego Padang




Wektu iku mbah kakung kenek stroke, opname nduk RS. Wong lek loro stroke, mestine akeh pantangane masiyo wes waras.
Jare mbah kakung, "aku engkok, lek wis waras te mangan sego padang."
Jare mbah putri, "ngawur ae sampeyan iki, paaa...k. Lek stroke maneh marakno molo ae."
"Ora oraaa... Wong mek sego padang ae, kok."
"Delok en ae, lek sek tambeng. Engkok lek kumat tak tinggal minggat."
"Ojo ta buk..., yo wes engkok tak mangan sego putih ndek isor lampu, lak dadi sego padang a. Dadi, aku lak sek iso mangan sego padang, yo?"

Sabtu, 25 Oktober 2014

Kamis, 16 Oktober 2014

Juadah


dulu, setiap sore aku menunggunya pulang
bersama sepiring juadah bikinanku
yang kusimpankankan sebelum anak-anak habiskan
kini, setiap sore aku cukup membeli juadah pada pedagang gorengan
atau sebungkus roti marie
dan memakan habis bersama orang-orang yang ditakdirkan Tuhan
untuk menemaniku menanti senja di dekat pematang
namun, masih ada entah sesak atau sesal
sebab jantungku masih tertinggal dua detaknya...

Malang, 250914



 

Hantu

siapa kau, kau siapa
hadirmu guncangkan jiwa
melecut benci dan tak suka
siapa kau, kau siapa

kurapal doa doa
agar kau menjauh sejauh jauhnya
siapa kau, kau siapa
sungguh aku tak suka
sebab aku sudah ada yang punya

Rabu, 08 Oktober 2014

Dia, Orang-Orang yang Dekat di Hatinya dan Tuhan

dia mengeluhkan padaku:
bahwasanya ia selalu kesulitan
untuk mengungkapkan secara lisan
setiap keinginan
kecuali kepada mereka yang dekat di hatinya.

namun,
dia juga selalu merasa kesulitan
mengungkap kemarahan secara lisan
kepada orang-orang yang dekat di hatinya

::saya mendengar dia begitu lancar saat mengucap doa doa kepada TUHANnya::

16 September 2014

jerawat

jerawat....
yang cuma numpang lewat
sebab lupa merawat
akibat pikiran yg agak sarat
tapi jerawat...
kok ya nangkringnya di jidat?
bikin setiap mata melihat
gawat...


22 agustus 2014

Rinduku

mereka pernah tinggal dalam rahimku,
tak sebentar...
aku melahirkannya,
dengan rasa yang luar biasa...
aku menyusui mereka,
yang membuatku sangat dekat padanya...
aku mengenal perasaan mereka,
dari gerakannya
dari suaranya
dari diamnya

::aku seorang ibu
merindu pilu pada dua anakku::

Selasa, 01 Juli 2014

Pilkada. Dudu Pil Kada, Pak!

adikku
Waktu iku, adekku sing ragil kerjo nduk suroboyo. Lha bapakku, ancen rodo pikun mergo wis tuwo.
Sak wijining dino, adekku prei ora kerjo mergo ono pilkada nang Suroboyo.
"Lho, koen gak kerjo ta?" bapakku takok
"Gak, pak. onok pilkada" jawabe adekku
"Gawe opo pilkada iku?" bapakku iseh takok
"Kanggo kesel-kesel," jare adekku
"Apan anu, tukokno aku siji yo," jare bapak
Gak let suwe, bapakku dolan nang lapangan Bima Sakti (lapangan basket). Ngobrol karo kanca-kancane. Pas mulih muring-muring karo adekku.
"Jaremu pilkada iku obat kesel2. Wong tibakne pemilian wali kota. Kurang ajar koen iki ancene"
Adekku ngakak

(suamiku) kenalilah bahwasanya, aku akan selalu bengkok


Tempat yang paling baik untuk menimba ilmu bagi wanita adalah seorang suami yang shalih, penuntut ilmu dan bertaqwa kepada Allah. Oleh karena itu, bagi orang tua hendaknya berupaya memilihkan suami terbaik bagi anaknya.

Kenapa dikatakan bahwa tempat yang paling baik untuk menimba ilmu bagi wanita adalah seorang suami yang shalih, penuntut ilmu dan bertaqwa kepada Allah?

Di antara alasannya adalah, mengingat karakter seorang istri. Mereka tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, yang secara fitrah akan tetap bengkok.

Seorang istri, sebaik apapun sifatnya, tetap saja dia adalah seorang wanita yang secara fitrah sulit untuk diluruskan karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, sehingga dia tidak bisa terus-menerus dalam keadaan lurus jalan hidupnya." [HR. Muslim (no. 1468)]

Oleh karena itu, seorang wanita sangat membutuhkan BIMBINGAN dan PENGARAHAN dari seorang laki-laki (suami) yang memiliki AKAL, KEKUATAN, KESABARAN, dan KETEGUHAN PENDIRIAN yang melebihi wanita.

Kepada engkau yang telah menjadi suamiku, teruslah menasihatiku, ambillah simpati, banyak-banyaklah memaafkanku dan bersabar akan kebengkokanku.

Sebab hidup senang bersama seorang istri tidak mungkin bisa dicapai kecuali harus dengan bersabar atas kekurangannya.

Semoga kebaikan akan meliputi kita, Insya Allah.

Perempuan Bersuami Sepi Jatuh Cinta pada Lelaki Penyendiri

Aku perempuan bersuami sepi yang selalu sendiri menyapa pagi dan malam. Berjumpa lelaki penyendiri melalui lambang-lambang.

Waktu bertaruh, dengan siapa aku banyak menghabiskan senggang. Lalu cinta menyusup dari lambang-lambang pada ingatan, ke dada, ke jantung menghujam.

Perempuan juga bisa berpaling, meski kaki dan tangan terbelenggu oleh ikatan atas nama adat, atas nama Tuhan.

Aku perempuan bersuami sepi, mencandui rayuan lambang-lambang lalu jatuh cinta pada lelaki penyendiri.

Jumat, 30 Mei 2014

rindu ibu

ibu,
aku bermimpi menjadi kanak-kanak lagi
memanggil ibu dengan sepenuh rindu

merindu rayumu, saat meluluhkan marahku
merindu bujukmu, saat mengusir sedihku

ibu,
aku ingin bercerita
tentang yang menggores lukaluka

pisau yang sejatinya pelindung jiwa
kinii tengah membuat luka

ibu,
jangan bangunan aku dari  mimpi ini
sebab teduh hadirmu, tentraman hati

gunung tembak mei 14

Sabtu, 24 Mei 2014

:kau kepadaku

kau kepadaku
seperti
tukang kayu
mengukir papan
terlalu dalam
dan tajam
tanpa mengatakan
maksudnya

Selasa, 13 Mei 2014

terpasung

tanpa menyangkal
aku mencintaimu
sebab kau yang terbaik
yang pernah hadir dalam hidupku

kau kenalkan aku pada cahaya
walau kau tinggalkan setelahnya
kau dampingkan aku padanya
dengan begitu anggun
hingga mengundang decak kagum

lalu pamitmu menyengat kami
entah menghukum atau menguji
membuatku nyaris beranjak
namun dia terlampau bijak
menambatkanku kembali
dengan menanam tegar
aku pun terpasung
dalam penantian

gutem, (Hing: 1/12/13)

Selasa, 29 April 2014

lidah

lidah itu lentur,
hanya daging,
tiada tulang,
mudah digerakkan
tiada bosan
pun tiada letih

lidah itu setiap geraknya
membawa akibat
entah baik atau buruk
maka, pikir masak-masak
untuk satu kata
sebelum kau ucapkan

22/11/11

SUAMIKU, SUNGGUH AKU KESAL PADAMU


Bangun pagi, buru-buru aku ke dapur
Tentu, untuk masak nasi dan sayur
Semua selesai, saat kau masih tidur
Kucoba bangunkan, namun kau masih tinglur

Hingga matahari naik sudah
Kau pun bangun dengan tergesa-gesa
Mandi dan siap-siap berangkat kerja
Sarapan di meja telah tersedia
Kau bilang, "lain kali saja"

Duh, suamiku... Kau anggap apa diriku
Susah payah berusaha mengabdi padamu
Namun kau tak mau tahu
Jangan-jangan kau anggap aku ini babu

Saat sore menjelang petang
Aku menanti dirimu pulang
Tentu, dengan senyum mengembang
Kubilang, "makan malam ya, sayang..."
Namun kau bilang, "maaf, aku sudah kenyang"

Sungguh sayang, kau membuatku kesal
Ingin rasanya, kulempar dirimu dengan sandal
Beruntung lagi, aku bukan tukang jagal
Karena aku masih punya akal

^_* 4 Juni 2011 pukul 19:05

SIAPA CLARA?

Masih terlalu pagi, saat aku membaca sebuah SMS dari seorang teman di Merauke yang berbunyi: Nisa, telpon aku. Aku lagi sedih. Pengirimnya adalah Tia, teman sekolahku waktu masih SMA dulu.
Sekitar pukul sepuluh pagi, aku coba menghubunginya. Kudengar ia mengucap salam sambil menangis. Mungkin dia betul-betul sedang sedih. Belum sempat aku bertanya perihal kesedihannya, dia sudah mulai bercerita panjang lebar. Begini ceritanya:
Tia menikah dengan Sony, seorang prajurit Angkatan Darat. Tia sendiri baru diangkat sebagai seorang guru PNS di Merauke. Tadinya mereka tinggal di Biak. Menurut Tia, kepindahan mereka ke Merauke sebetulnya memang sangat diharapkannya. Biak membuat Tia hidup tak bisa tenang. Masalahnya, mantan pacar suaminya yang juga sudah menikah, sering sekali telpon atau bahkan terkadang datang ke kediamannya. Meski perempuan ini datang bersama anaknya, namun tak pernah sekali pun datang bersama suaminya, hal itu cukup membuat Tia merasa tak nyaman.
Jelas dong Tia merasajcemburu, melihat suaminya masih bisa bercanda dengan mantan pacarnya. Pernah Tia mencoba menegur suaminya dengan halus, bahwa dia tak suka mantan pacar suaminya itu datang ke rumah mereka. Namun suaminya tak terlalu mengacuhkannya. Alasannya, toh perempuan itu datang bersama anaknya, dan ada juga Tia bersama-sama mereka.
Pada akhirnya harapannya terkabul. Suaminya dipindahtugaskan ke Merauke enam bulan yang lalu. Hanya empat bulan Tia merasakan ketenangan di Merauke. Sejak dua bulan yang lalu dia merasakan ada yang lain dengan suaminya. Kecurigaannya itu pun akhirnya terbukti.
Pada suatu pagi, saat suaminya sedang mandi, ada miscall di HP sang suami. Di situ terbaca, “bapak”. Merasa mertuanya yang menelpon, dan kebetulan ia juga sedang ‘ada’ yang ingin dibicarakan dengan mertua, ia pun telpon balik ke nomor itu. Di luar dugaan, yang menjawab bukannya mertua, melainkan sebuah suara yang telah dikenalnya, mantan kekasih sang suami.
Mendidih darah Tia. Dengan gemetar ia menahan cemburu, segera ditekannya ‘END’ untuk mengahiri. Namun ia sempat mencatat nomor yang tertera dibalik nama ‘bapak’. Ketika di cocokkan dengan nomor di HPnya sendiri, nomor itu memang bukan nomor mertuanya. Tia kecewa terhadap suaminya. Marah dan benci bergumpal dalam dadanya karena telah dibohongi.
Saat suaminya selesai mandi, Tia pura-pura tak terjadi apa-apa. Tiba-tiba telpon berbunyi kembali. Karena posisi Tia yang lebih dekat dengan HP itu, maka ia berusaha menjangkaunya. Dilihatnya kata ‘bapak’ lagi yang terbaca pada layar.
“Bapak, Mas!” ucap Tia pura-pura tak pernah terjadi apa-apa.
“Oh, ya. Mana!” Sony setengah terburu-buru menyambar HPnya.
“Halo! Ya… baru selesai mandi. Oh, ya?! Lalu?….Ndak apa, jadi jam berapa?” suara suaminya menjawab telepon. Tia sebetulnya berusaha menguping, namun suaminya malah menjauh.
“Aku nanti gak bisa jemput Doni, Tia!” kata suaminya setelah menerima telpon.
“Kenapa?” tanya Tia.
“Bapak minta diantar ke rumah Pak Sukiyar, masalah watas tanah.” jawab Sony.
“O, ya sudah. Kalau gitu biar aku saja yang jemput.”jawab Tia.
Hari itu, Tia ijin tidak mengajar. Ia betul-betul ingin membuntuti suaminya. Singkat cerita, suaminya memang berbohong. Tia melihat dengan mata kepalanya sendiri, mobil suaminya menuju terminal kota. Bahkan ia melihat, suaminya membukakan pintu mobil untuk mantan kekasihnya.
Berderai-derai air mata Tia di balik helm standart yang dipakainya. Ia bermaksud ingin terus membuntuti mobil suaminya, Tia ingin tahu akan dibawa ke mana perempuan itu. Namun air matanya membuat pandangannya kabur, dan ia sadar saatnya Doni pulang sekolah.
Begitulah, Tia mengahiri ceritanya dengan mengatakan bahwa ia hendak minta cerai dari suaminya.
“Aku tak tahan lagi, Nisa!” ucapnya sambil terisak.
Aku cuma bisa mendengar tanpa memberi komentar apa pun. Aku ikut menangis, merasakan kehancuran hatinya. Aku memintanya memikirikan kembali akibat dari keputusannya dan mencari jalan yang lebih baik.
“Perceraian itu halal, tapi hal yang paling dibenci oleh Allah.” kira-kira itu yang sempat kuucapkan padanya.
Setelah itu, aku sendiri tak ingat, apa yang membuatnya mengahiri pembicaraan kami yang hampir satu jam itu. Ia berjanji akan mengabariku perkembangan selanjutnya.
***
Aku sedang menjemur baju pagi itu. Tiba-tiba kulihat Ria, gadis manis itu setengah berlari dengan berurai air mata menghapiriku.
“Umi…., umi…, tolong lihat Mama!” pinta gadis remaja itu sambil menangis.
“Kenapa Mamamu, Ri?” tanyaku khawatir.
“Ndak tahu, cepat mi… cepat! Umi ke rumah sekarang…” pintanya memelas.
Tanpa berpikir panjang kukenakan kaus kaki dan melapisi kerudungku dengan kerudung yang lebih panjang. Kemudian aku bergegas pergi ke rumah Ria yang tak terlalu jauh dari rumahku.
Kulihat Pak Yanto, ayah Ria, di depan pintu menghisap rokoknya dalam-dalam. Saat melihatku, seketika dibuangnya puntung rokok yang tadi dihisapnya.
“Assalamualaikum, Pak Yanto!” aku mengucapkan salam padanya.
“Wa alaikum salam, Bu Nisa!” jawabnya. “Ada perlu apa, Bu?” tanyanya seperti tak menyukai kehadiranku.
“Maaf, Pak. Barusan Ria ke rumah…” belum selesai aku bicara, ayah Ria sepertinya mengerti maksud kedatanganku.
“Iya! Maaf, Bu Nisa. Silahkan masuk. Mamanya Ria ada di dalam. Maaf, saya harus segera pergi kerja!” tanpa mengucap salam, entah lupa atau marah, Pak Yanto pun pergi diiringi suara motornya.
Ketika aku masuk, ruang tamu tanpa kursi itu berhambur. Buku-buku berserakan seperti habis dilemparkan. Di ruang tengah, Isti, adik Ria tengah merapikan mainannya. Kudengar Mama Ria tengah terisak di kamarnya. Setelah kuucap salam, aku masuk mendekatinya. Aku duduk disamping Mama Ria yang tengah menangis sambil memeluk kedua lututnya. Tak ada yang kuucapkan. Hanya duduk membisu di dekatnya. Tangisnya begitu sedih, sampai-sampai tanpa bisa ku tahan, air mataku pun ikut terjatuh. Ku peluk Mama Ria, mencoba menenangkannya. Akhirnya dengan terbata dia pun mulai bercerita.
Ceritanya hampir sama dengan cerita Tia. Bahkan Mama Ria hendak nekat membunuh dirinya karena merasa dihianati suaminya. Astagfirullah! Tak ada yang kukatakan pada Mama Ria. Aku hanya mendengar, berempati dengan perasaannya. Setelah kurasa dia mulai tenang, aku pun pamit pulang.
Sampai di rumah, kulihat jemuran telah tersusun rapi, mungkin Ria yang melakukannya. Ketika ku buka pintu, sambil mengucap salam, Ria tengah membaca Al-Qur’an.
“Bagaimana Mama, Mi?” tanya Ria khawatir.
Aku tersenyum,
“Kamu sering membaca Al-Qur’an di rumah?” tanyaku kembali.
Kulihat kepala Ria tertunduk sambil menggeleng.
“Sekarang, kamu pulang. Ajak mamamu membacanya bersama-sama, sambil kau baca juga maknanya.” kataku pada Ria.
“Al-Qur’an ini obat penyejuk hati bisa dibaca kapan saja.” lanjutku.
Ria mengangguk dan pamit sambil menciun tanganku.
***
Malamnya aku berfikir, apakah setiap pria punya kecenderungan untuk memiliki hati yang bercabang? Tak puas dengan satu orang wanita sebagai isteri di hatinya? Baik ayah Ria maupun suami Tia, sepertinya mereka sekedar mencari selingan diluar rumah. Bagaimana dengan suamiku?
Memang aku tak pernah pacaran sebelum menikah. Begitu diperkenalkan, seminggu berikutnya, melalui tanteku dia melamar. Dan lamaran itu disambut baik oleh orangtuaku.
“Apa lagi yang yang mau kamu pertimbangkan? Dia lama tinggal di pondok pesantren, sarjana teknik, dan punya pekerjaan.” begitu tante bilang padaku yang langsung disetujui oleh orang tuaku.
Dan ternyata, Mas Hendy, suamiku, adalah orang yang baik. Hampir-hampir dia tak pernah menyakitiku, walau sedikit pun. Selama tujuh tahun pernikahan kami, tak pernah ia marah atau terdengar kata-kata kasar atau menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Dan dia selalu memanggilku dengan sebutan ‘Sayang’. Hatinya begitu lembut, bahasanya begitu santun. Aku sangat menghormatinya. Sepertinya tak mungkin dia termasuk dari lelaki yang suka mencari selingan.
Begitu hati-hatinya dia terhadap perasaanku, sehingga jika aku sedikit diam atau marah, selalu dia yang lebih dulu meminta maaf. Beliau adalah suami dan ayah yang sabar dan sholeh. Aku sangat mempercayainya. Aku yakin dia tak akan membuatku kecewa. Dan aku tak berani membayangkan apa yang terjadi pada Tia dan Mama Ria itu terjadi padaku. Isya Allah tak mungkin.
***
Dua hari yang lalu, aku bongkar-bongkat lemari buku. Susunan bukunya sudah tak beraturan, aku bermaksud merapikannya. Kebetulan Mas Hendy sedang berada di Bogor dan rencananya pulang sore itu. Supaya saat dia pulang nanti meja kerjanya rapi, pikirku dalam hati.
Saat menyusun buku-buku itu, aku menemukan sebuah buku tabungan sebuah Bank Swasta. Tadinya kukira milik Mas Hendy, namun ternyata nama yang tertera adalah Clara Raditya. Aku tak pernah mendengar nama ini sebelumnya. Mungkin milik salah satu diantara anak-anak yang belajar setiap Sabtu-Minggu di rumah ini. Tapi setahuku, diantara mereka tak ada yang bernama Clara Raditya. O, mungkin milik saudara dari salah satu diantara mereka. Buku tabungan itu kusimpan kembali dalam lemari, tentunya dengan posisi yang gampang terlihat dan gampang dicari.
Setelah membersihkan buku-buku, beralih kubersihkan tas-tas dan map-map yang bertumpuk. Sesekali aku membuka-buka isi tas atau map-map itu untuk mengetahui isinya agar bisa dikelompokkan nanti jika disusun dalam rak.
Diantara map-map itu ada satu map yang di dalamya terdapat sebuah amplop cokelat besar bertuliskan ‘UNTUK YANG KUKAGUMI’. Aku penasaran, kalau seandainya amplop itu untukku, adalah aku yang berhak membukanya. Mungkin Mas Hendy akan memberiku sebuah kejutan, namun ketlisut. Dan sekarang aku sendiri yang menemukannya.
Saat ku buka amplop coklat yang terlipat rapi itu, di dalamnya ada sebuah foto berwarna ukuran 4X6, bergambar seorang gadis manis. Masih dalam keadaan penasaran, ku lihat dibalik foto itu ada tulisan ‘Clara Raditya, ST’. Hawa yang kurang sehat tiba-tiba saja menjalar dalam tubuhku. Dadaku panas oleh cemburu. Hampir-hampir aku tak percaya, benarkah Mas Hendy selingkuh?
Apa artinya sebuah foto dengan amplop bertuliskan ‘untuk yang kukagumi’ dan sebuah buku tabungan dengan nama yang sama? Gadis ini belum pernah kulihat selama ini. Masih muda, mungkin baru lulus kuliah. Kutepis kecurigaanku, mungkin ini saudaranya. Belum tentu benar prasangka ini. Ah, Nisa! Kau telah menuduh sembarangan. Prasangka itu dosa! Teriak sebagian dari batinku. Dan aku mencoba untuk meyakinkan diriku bahwa aku telah berprasangka buruk. Betapa menyedihkannya jika tiba-tiba saja aku tuduhkan semua ini kepada Mas Hendy dan ternyata tidak benar. Betapa malunya aku.
***
Sore itu, Mas Hendy datang sesuai rencana. Tak ada delay pesawat. Syukur Alhamdulillah. Aku sambut dia dengan mencium tangannya, dan dia memeluk sambil mencium keningku seperti biasa. Ahmad, anak kami yang masih berumur tiga tahun berlari riang menyambut kedatangan abinya, yang langsung disambut dengan gendongan dan ciuman. Tiba-tiba HP Mas Hendy berbunyi. Diturunkannya Ahmad dari gendongannya, begitu melihat layar di HPnya mas Hendy mengangkat telpon sambil keluar rumah, aku memperhatikannya dengan penuh kehawatiran, curiga dan cemburu menari-nari didalam dadaku.
“Baru saja sampai di rumah,” jawabnya pada si penelpon. “Iya.. ya. terima kasih,” lanjutnya.
“Jarwo, Yang. Dia tanya, abi sudah sampai rumah apa belum.” ia memberitahuku siapa yang barusan menelpon.
Aku melihar ada sinar lain di matanya. Dalam hati aku pun mulai meragukan ucapannya barusan, dia bohong!. Apa urusannya Jarwo menghawatirkan perjalanan Mas Hendy? Apa urusannya Mas Hendy sudah sampai rumah atau belum? Apa urusannya? Cuma dua kekasih saja yang bertingkah laku seperti itu. Memangnya mereka berdua itu homo?
Tapi aku tak mau gegabah. Diam-diam, foto itu ku amankan. Paginya, saat aku menyeterika seragam kerja Mas Hendy, kumasukkan foto itu ke dalam kantong saku celana yang akan di pakainya. Buku tabungan kuambil dan kuselipkan dalam laptop yang telah kurapikan ke dalam tasnya. Mas Hendy tak menyadari itu. Dia pergi seperti biasa, tetap hangat sikapnya.
Siang hari, saat istirahat makan siang, biasanya dia menelponku. Tapi ini sudah lewat jam tiga sore, satu sms atau miscall pun tak ada. Apakah dia marah? Harusnya aku yang marah. Aku pun tak mau mengambil inisiatif menelponya lebih dulu, meskipun aku ingin.
Sorenya, Mas Hendy pulang lebih awal. Saat itulah baru kulihat perubahan sikapnya. Sikap serba salah, dan terlihat dia berusaha sangat hati-hati agar tak terjadi kesalahan yang membuat kami jadi ribut. Sebetulnya aku kasihan juga, tapi mungkin ini pelajaran baik untuknya. Aku pun lebih banyak diam. Ya Allah, bantu kami keluar dari masalah ini.
Malam hari, dia baring di tempat tidur lebih dulu. Tak ada cerita. Kuingat-ingat sejak dia pulang kantor sampai menjelang tidur tak banyak kata yang diucapkannya. Sekarangpun dia asyik dengan sebuah buku di tangannya. Entah, dia benar-benar membaca atau pura-pura.
Setelah menidurkan Ahmad, aku pun menyusul berbaring di samping Mas Hendy. Cukup lama kami saling diam. Dan akhirnya aku tak tahan untuk bertanya.
“Siapa Clara?” tanyaku.
“Kenapa, Yang?” tanyanya seolah tak mendengar apa yang kukatakan.
“Siapa Clara? Clara Raditya!” ulangku dengan suara gemetar menahan cemburu dan marah..
Mas Hendy meletakkan buku yang sedari tadi dipegangnya. Kulirik dia seperti berusaha menenangkan diri. Kemudian membalikkan badannya menghadap ke arahku. Aku menunggu penjelasannya, dalam keadaan tak menentu.
Tiba-tiba, kurasakan badanku didekapnya erat sambil menciumku. Aku berusaha meronta, namun tangisku malah pecah. Dia tetap memelukku, mendekapku dalam dadanya, seolah hendak meredakan tangisku. Malam itu tak ada yang kudengar sebagai penjelasannya atas Clara Raditya, foto, dan buku tabungan. Kecuali ucapan maaf, dekapan erat dan ciuman hangat. Tak ada aku mendengar. Betul-betul. TAK ADA.

Rabu, 23 April 2014

Jangan Tahan Rejeki Mereka

Rejeki yang kita peroleh setiap hari, tentunya tak lepas dari do’a-do’a orang yang sedang menjadi tanggungan kita. Maka ketika kita telah memperolehnya, kenapa harus kita tahan saat mereka (orang-orang  yang menjadi tanggungan kita) itu memerlukan?

Haruskah kita memberikan dengan pertimbangan mendahulukan yang mana yang lebih ‘sreg’ dengan hati kita, memilih mana yang lebih kita sayang? Yang lebih menyenangkan hati kita? Bukankah dengan demikian akan mengakibatkan mereka saling cemburu atau bahkan bisa juga membencimu?

Bagaimana jika yang lebih berhak atas rejeki itu tak ridho ketika kita telanjur mendahulukan orang yang lebih kita sayang?

Ingatlah, doa orang-orang yang terdholimi itu lebih cepat sampai pada Tuhan-nya. Mungkin tak sekarang, namun dampaknya akan lebih besar dan tak pernah kita duga.

Maka, berbuatlah adil. Tidak berlebihan pun tidak terlalu ketat menahan. Saat yang kita miliki habis, yakinlah itu artinya kita akan mendapatkan gantinya yang lebih baik. Semua rejeki itu telah diatur oleh Tuhan, dan akan berhenti saat kita bertemu ajal.

Salam,
Hing

Ada Saatnya Kita Perlu Membantah Atasan

Kadang kita akan bertemu orang yang suka mempersulit diri kita.
Awalnya saya tak mengerti cara berfikirnya. Namun setelah merasakan bahwa orang ini spesies yang  suka membantah, sombong, tidak memahami kondisi saya, mau menang terus dalam setiap pembicaraan, suka memaksakan orang menjadi seperti yang dia inginkan, memaksa orang melakukan cara yang dia mau meski banyak cara yang seribu atau bahkan sejuta kali jauh lebih mudah untuk dilaksanakan, asal tidak seperti yang dia inginkan ia tetap membantah memaksa.

Kalau saja dia berfikir bahwa dunia ini penuh warna. Setiap individu pasti berbeda entah dalam selera maupun cara. Setiap orang punya ukurannya sendiri. Ada yang besar ada yang kecil. Ada yang super mini dan super jumbo.

Tak bisa dibayangkan, kalo Boss Anda di kantor menganjurkan Anda memakai seragam yang tak cuma sama dalam warna dan motif tapi juga ukuran. Alangkah lucunya, dan sangat menggelikan jika saya yang bertubuh kecil memakai baju ukuran super jumbo, atau teman saya yang Gendut pakai seragam seukuran saya. Mungkin baru  masuk lengan, jahitan sudah lepas atau kainnya malah robek.

Seperti itulah yang sedang saya hadapi saat ini. Kalau saya ikuti kemauannya, ya saya yang kerepotan. Kesalahan saya mungkin cukup menghiyakan perintahnya, dan saya menyelesaikan dengan cara  termudah dan teringkas menurut saya. Tapi dia tetap tak setuju, saya harus mengikuti instruksinya.

Tindakan saya? Saya tak mau repot. Toh dengan cara saya pun dia tak akan dirugikan. bahkan mungkin malah diuntungkan. Jadi sesekali, orang seperti ini perlu dibantah. :)

Translate