Nylon Strap Watch: Nylon strap watch by Zalora, this nylon watch has a cute color, baby pink combined with gold crown-guard, perfect watch for everyday use. Casual watch that will steal everyone eyes. air this watch with white shirt, blue jeans and a sneakers for a normcore style.
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LG5n7
Jangan mempertanyakan hal-hal yang menjadi rahasia ALLOH, jangan lukai perasaan orang-orang yang sedang bersabar dan ridho dengan ketentuan ALLOH, yang telah lebih dulu menikah, bukan berarti Anda hebat mencari pasangan, semua itu karena telah sampai jodoh Anda. yang telah mendapat anak setelah menikah, bukan berarti Anda hebat dalam hal suami isteri, namun karena rezeki telah ditetapkan ALLOH. ALLOH MAHA MENGATUR DALAM KEHIDUPAN
Rabu, 26 November 2014
Rabu, 05 November 2014
Sakaratul Maut
Cerpen Hilda W
Joe
ditahan, ada borgol mengikat kedua tangannya. Dia jadi tersangka pembunuhan
Mary. Sedang aku, menjadi saksi. Aku tahu, Joe mungkin tak bersalah. Mungkin
dia hanya sebagai jalan bagi kematian Mary. Ah, entahlah bagaimana aku harus
menjelaskannya.
Aku,
Joe dan Mary telah lama bersahabat. Kami biasa jalan bertiga, ke mall atau
diskotik. Kadang nonton ke bioskop. Selama ini kami hanya bersahabat, saling
traktir bergantian, tak ada hubungan special semacam cinta-cintaan. Joe bukan
tipe cowok yang diinginkan Mary, apalagi aku.
Joe
bertubuh kurus kerempeng, wajahnya lumayan, bisa dikategorikan cakep. Tapi sayang,
Joe bukan cowok pintar, sangat cenderung pada bodoh bahkan. Mungkin disebabkan kecanduannya
pada morphine. Joe pelupa, suka tulalit, yang tulalitnya itu justru membuat ia
jadi kocak. Kami berdua tahu, Joe cinta berat sama Mary.
Mary
adalah temanku sejak masih di Junior High School. Wajahnya jauh lebih cantik
dariku. Orang tuanya cukup kaya, dialah yang sering mentraktir kami. Dia cewek
periang, nyaris tak pernah kulihat ia sedih. Kami tinggal satu kamar kost.
Hari
itu Joe datang ke kost kami. Dia punya ‘barang’ dan ingin mentraktir kami. Mary
dengan senang hati menerima. Maka pergilah kami bertiga, menuju hotel yang
telah dipesan oleh Joe.
Di
dalam kamar Hotel malam itu, aku dalam keadaan mabok berat, terbaring di
ranjang. Joe duduk di tepi ranjang. Dia dan Mary hendak turun ke diskotik melanjutkan
pesta, malam itu. Mary menelan ineks sebelumnya.
Tak
lama setelah itu, entah datang dari mana tiba-tiba sebuah makhluk yang maha
mengerikan berdiri di depan Mary. Mary histeris, aku pun ketakutan melihatnya.
Aku juga ingin teriak, tapi aku tak sanggup, aku hanya menunjuk makhluk itu.
Makhluk itu mendekati Mary, teriakan Mary makin kencang. Aku tak menyalahkannya
sebab aku juga sangat ketakutan melihatnya.
Mungkin
Mary meminta tolong pada Joe. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya teriakan
yang makin lama makin keras dengan matanya yang melotot ketakutan. Joe mengira Mary
sakaw. Joe benar-benar panik.
Joe
membuka lemari es, semula ia mengambil air mineral dan memaksa Mary meminumnya.
Tapi Mary tetap teriak, lalu ia mengambil susu dan lagi-lagi memaksa Mary
meminumnya hingga tertumpah-tumpah.
Joe
melihat ke arahku yang tentu tak ada harapan bisa
membantunya untuk menenangkan Mary. Joe menyuruh Mary diam sebab ia tak ingin
teriakan itu mengundang petugas hotel masuk ke kamar kami.
Ia mencoba membungkam mulut Mary, aku melihat makhluk itu makin
dekat ke wajah Mary yang semakin histeris. Joe membanting tubuh Mary dan jatuh
dekat kakiku, lalu menyambar bantal disampingku, untuk meredam suara Mary.
Lamat-lamat aku melihat makhluk itu menghilang seiring surutnya teriakan Mary. Tak
lama kemudian aku melihat petugas keamanan mendobrak pintu kamar kami. Lalu aku
tak ingat apa-apa lagi.
Pagi ini aku melihat Joe tengah diperiksa oleh petugas. Mukanya
kuyuh, ada penyesalan atau entah. Ketika mata kami beradu, ia pun menunduk. Aku
tahu Joe tak bersalah, Joe tak bermaksud membunuh Mary sebab Joe mencintai Mery.
Kematian Mary malam itu adalah takdir. Mungkin makhluk mengerikan itu malaikat
maut. Tapi, siapa yang percaya pada omonganku? Orang yang mabuk berat?
Senin, 27 Oktober 2014
Ungkapan Sederhana untuk Istri Tercinta
M. Fauzil Adhim
Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap,
Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.
Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.
Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda
melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita rnenjerit karena cubitannva yanq bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar.
Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.
Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang
harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.
Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa
banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?"
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si
mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah.
Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari
kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku."
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. "Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah," kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk
selalu berbuat baik."
Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya, apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat rnenggerogoti wajahnya, jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya?
Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri ? Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri.
Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya.
Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.
Cinta
Cinta adalah yang kau rindu saat tiada.
Maka jangan kau siksa jika kau tak cinta
Katakan sejujurnya
Agar ia tak makin kecewa
Dan kau tak hanya memberi harapan belaka
Maka jangan kau siksa jika kau tak cinta
Katakan sejujurnya
Agar ia tak makin kecewa
Dan kau tak hanya memberi harapan belaka
Tujuan, Prjalanan dan Tempat
Ketika tujuan bergeser, arah perjalanan pun bergeser juga. Ketika tujuan sudah keliru, maka perjalanan akan sampai ke tempat yang salah.
Minggu, 26 Oktober 2014
Ke Taman Alun-Alun Kota Malang
bermain Bola, Adik udah ambil bola masih mau ambil ulat yang jatuh....
"Lempar, nih..." bilang adek
"Ayo dek... lempar jauh-jauh... " bilang abang
"Ummi, Sabtu depan ke mana lagi?"
Sego Padang
Wektu iku mbah kakung kenek stroke, opname nduk RS. Wong lek
loro stroke, mestine akeh pantangane masiyo wes waras.
Jare mbah kakung, "aku engkok, lek wis waras te mangan sego
padang."
Jare mbah putri, "ngawur ae sampeyan iki, paaa...k. Lek stroke
maneh marakno molo ae."
"Ora oraaa... Wong mek sego padang ae, kok."
"Delok en ae, lek sek tambeng. Engkok lek kumat tak tinggal
minggat."
"Ojo ta buk..., yo wes engkok tak mangan sego putih ndek
isor lampu, lak dadi sego padang a. Dadi, aku lak sek iso mangan sego padang,
yo?"
Sabtu, 25 Oktober 2014
Kamis, 16 Oktober 2014
Juadah
dulu, setiap sore aku menunggunya pulang
bersama sepiring juadah bikinanku
yang kusimpankankan sebelum anak-anak habiskan
kini, setiap sore aku cukup membeli juadah pada pedagang gorengan
atau sebungkus roti marie
dan memakan habis bersama orang-orang yang ditakdirkan Tuhan
untuk menemaniku menanti senja di dekat pematang
namun, masih ada entah sesak atau sesal
sebab jantungku masih tertinggal dua detaknya...
Malang, 250914
atau sebungkus roti marie
dan memakan habis bersama orang-orang yang ditakdirkan Tuhan
untuk menemaniku menanti senja di dekat pematang
namun, masih ada entah sesak atau sesal
sebab jantungku masih tertinggal dua detaknya...
Malang, 250914
Hantu
siapa kau, kau siapa
hadirmu guncangkan jiwa
melecut benci dan tak suka
siapa kau, kau siapa
kurapal doa doa
agar kau menjauh sejauh jauhnya
siapa kau, kau siapa
sungguh aku tak suka
sebab aku sudah ada yang punya
hadirmu guncangkan jiwa
melecut benci dan tak suka
siapa kau, kau siapa
kurapal doa doa
agar kau menjauh sejauh jauhnya
siapa kau, kau siapa
sungguh aku tak suka
sebab aku sudah ada yang punya
Rabu, 08 Oktober 2014
Dia, Orang-Orang yang Dekat di Hatinya dan Tuhan
dia mengeluhkan padaku:
bahwasanya ia selalu kesulitan
untuk mengungkapkan secara lisan
setiap keinginan
kecuali kepada mereka yang dekat di hatinya.
namun,
dia juga selalu merasa kesulitan
mengungkap kemarahan secara lisan
kepada orang-orang yang dekat di hatinya
::saya mendengar dia begitu lancar saat mengucap doa doa kepada TUHANnya::
16 September 2014
bahwasanya ia selalu kesulitan
untuk mengungkapkan secara lisan
setiap keinginan
kecuali kepada mereka yang dekat di hatinya.
namun,
dia juga selalu merasa kesulitan
mengungkap kemarahan secara lisan
kepada orang-orang yang dekat di hatinya
::saya mendengar dia begitu lancar saat mengucap doa doa kepada TUHANnya::
16 September 2014
jerawat
jerawat....
yang cuma numpang lewat
sebab lupa merawat
akibat pikiran yg agak sarat
tapi jerawat...
kok ya nangkringnya di jidat?
bikin setiap mata melihat
gawat...
22 agustus 2014
yang cuma numpang lewat
sebab lupa merawat
akibat pikiran yg agak sarat
tapi jerawat...
kok ya nangkringnya di jidat?
bikin setiap mata melihat
gawat...
22 agustus 2014
Rinduku
mereka pernah tinggal dalam rahimku,
tak sebentar...
aku melahirkannya,
dengan rasa yang luar biasa...
aku menyusui mereka,
yang membuatku sangat dekat padanya...
aku mengenal perasaan mereka,
dari gerakannya
dari suaranya
dari diamnya
tak sebentar...
aku melahirkannya,
dengan rasa yang luar biasa...
aku menyusui mereka,
yang membuatku sangat dekat padanya...
aku mengenal perasaan mereka,
dari gerakannya
dari suaranya
dari diamnya
::aku seorang ibu
merindu pilu pada dua anakku::
merindu pilu pada dua anakku::
Selasa, 01 Juli 2014
Pilkada. Dudu Pil Kada, Pak!
![]() |
| adikku |
Sak wijining dino, adekku prei ora kerjo mergo ono pilkada nang Suroboyo.
"Lho, koen gak kerjo ta?" bapakku takok
"Gak, pak. onok pilkada" jawabe adekku
"Gawe opo pilkada iku?" bapakku iseh takok
"Kanggo kesel-kesel," jare adekku
"Apan anu, tukokno aku siji yo," jare bapak
Gak let suwe, bapakku dolan nang lapangan Bima Sakti (lapangan basket). Ngobrol karo kanca-kancane. Pas mulih muring-muring karo adekku.
"Jaremu pilkada iku obat kesel2. Wong tibakne pemilian wali kota. Kurang ajar koen iki ancene"
Adekku ngakak
(suamiku) kenalilah bahwasanya, aku akan selalu bengkok

Tempat yang paling baik untuk menimba ilmu bagi wanita adalah seorang suami yang shalih, penuntut ilmu dan bertaqwa kepada Allah. Oleh karena itu, bagi orang tua hendaknya berupaya memilihkan suami terbaik bagi anaknya.
Kenapa dikatakan bahwa tempat yang paling baik untuk menimba ilmu bagi wanita adalah seorang suami yang shalih, penuntut ilmu dan bertaqwa kepada Allah?
Di antara alasannya adalah, mengingat karakter seorang istri. Mereka tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, yang secara fitrah akan tetap bengkok.
Seorang istri, sebaik apapun sifatnya, tetap saja dia adalah seorang wanita yang secara fitrah sulit untuk diluruskan karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, sehingga dia tidak bisa terus-menerus dalam keadaan lurus jalan hidupnya." [HR. Muslim (no. 1468)]
Oleh karena itu, seorang wanita sangat membutuhkan BIMBINGAN dan PENGARAHAN dari seorang laki-laki (suami) yang memiliki AKAL, KEKUATAN, KESABARAN, dan KETEGUHAN PENDIRIAN yang melebihi wanita.
Kepada engkau yang telah menjadi suamiku, teruslah menasihatiku, ambillah simpati, banyak-banyaklah memaafkanku dan bersabar akan kebengkokanku.
Sebab hidup senang bersama seorang istri tidak mungkin bisa dicapai kecuali harus dengan bersabar atas kekurangannya.
Semoga kebaikan akan meliputi kita, Insya Allah.
Perempuan Bersuami Sepi Jatuh Cinta pada Lelaki Penyendiri
Aku perempuan bersuami sepi yang selalu sendiri menyapa pagi dan malam. Berjumpa lelaki penyendiri melalui lambang-lambang.
Waktu bertaruh, dengan siapa aku banyak menghabiskan senggang. Lalu cinta menyusup dari lambang-lambang pada ingatan, ke dada, ke jantung menghujam.
Perempuan juga bisa berpaling, meski kaki dan tangan terbelenggu oleh ikatan atas nama adat, atas nama Tuhan.
Aku perempuan bersuami sepi, mencandui rayuan lambang-lambang lalu jatuh cinta pada lelaki penyendiri.
Waktu bertaruh, dengan siapa aku banyak menghabiskan senggang. Lalu cinta menyusup dari lambang-lambang pada ingatan, ke dada, ke jantung menghujam.
Perempuan juga bisa berpaling, meski kaki dan tangan terbelenggu oleh ikatan atas nama adat, atas nama Tuhan.
Aku perempuan bersuami sepi, mencandui rayuan lambang-lambang lalu jatuh cinta pada lelaki penyendiri.
Jumat, 30 Mei 2014
rindu ibu
ibu,
aku bermimpi menjadi kanak-kanak lagi
memanggil ibu dengan sepenuh rindu
merindu rayumu, saat meluluhkan marahku
merindu bujukmu, saat mengusir sedihku
ibu,
aku ingin bercerita
tentang yang menggores lukaluka
pisau yang sejatinya pelindung jiwa
kinii tengah membuat luka
ibu,
jangan bangunan aku dari mimpi ini
sebab teduh hadirmu, tentraman hati
gunung tembak mei 14
aku bermimpi menjadi kanak-kanak lagi
memanggil ibu dengan sepenuh rindu
merindu rayumu, saat meluluhkan marahku
merindu bujukmu, saat mengusir sedihku
ibu,
aku ingin bercerita
tentang yang menggores lukaluka
pisau yang sejatinya pelindung jiwa
kinii tengah membuat luka
ibu,
jangan bangunan aku dari mimpi ini
sebab teduh hadirmu, tentraman hati
gunung tembak mei 14
Sabtu, 24 Mei 2014
:kau kepadaku
kau kepadaku
seperti
tukang kayu
mengukir papan
terlalu dalam
dan tajam
tanpa mengatakan
maksudnya
seperti
tukang kayu
mengukir papan
terlalu dalam
dan tajam
tanpa mengatakan
maksudnya
Selasa, 13 Mei 2014
terpasung
tanpa menyangkal
aku mencintaimu
sebab kau yang terbaik
yang pernah hadir dalam hidupku
kau kenalkan aku pada cahaya
walau kau tinggalkan setelahnya
kau dampingkan aku padanya
dengan begitu anggun
hingga mengundang decak kagum
lalu pamitmu menyengat kami
entah menghukum atau menguji
membuatku nyaris beranjak
namun dia terlampau bijak
menambatkanku kembali
dengan menanam tegar
aku pun terpasung
dalam penantian
gutem, (Hing: 1/12/13)
aku mencintaimu
sebab kau yang terbaik
yang pernah hadir dalam hidupku
kau kenalkan aku pada cahaya
walau kau tinggalkan setelahnya
kau dampingkan aku padanya
dengan begitu anggun
hingga mengundang decak kagum
lalu pamitmu menyengat kami
entah menghukum atau menguji
membuatku nyaris beranjak
namun dia terlampau bijak
menambatkanku kembali
dengan menanam tegar
aku pun terpasung
dalam penantian
gutem, (Hing: 1/12/13)
Selasa, 29 April 2014
lidah
lidah itu lentur,
hanya daging,
tiada tulang,
mudah digerakkan
tiada bosan
pun tiada letih
lidah itu setiap geraknya
membawa akibat
entah baik atau buruk
maka, pikir masak-masak
untuk satu kata
sebelum kau ucapkan
22/11/11
hanya daging,
tiada tulang,
mudah digerakkan
tiada bosan
pun tiada letih
lidah itu setiap geraknya
membawa akibat
entah baik atau buruk
maka, pikir masak-masak
untuk satu kata
sebelum kau ucapkan
22/11/11
SUAMIKU, SUNGGUH AKU KESAL PADAMU
Bangun pagi, buru-buru aku ke dapur
Tentu, untuk masak nasi dan sayur
Semua selesai, saat kau masih tidur
Kucoba bangunkan, namun kau masih tinglur
Hingga matahari naik sudah
Kau pun bangun dengan tergesa-gesa
Mandi dan siap-siap berangkat kerja
Sarapan di meja telah tersedia
Kau bilang, "lain kali saja"
Duh, suamiku... Kau anggap apa diriku
Susah payah berusaha mengabdi padamu
Namun kau tak mau tahu
Jangan-jangan kau anggap aku ini babu
Saat sore menjelang petang
Aku menanti dirimu pulang
Tentu, dengan senyum mengembang
Kubilang, "makan malam ya, sayang..."
Namun kau bilang, "maaf, aku sudah kenyang"
Sungguh sayang, kau membuatku kesal
Ingin rasanya, kulempar dirimu dengan sandal
Beruntung lagi, aku bukan tukang jagal
Karena aku masih punya akal
^_* 4 Juni 2011 pukul 19:05
Tentu, untuk masak nasi dan sayur
Semua selesai, saat kau masih tidur
Kucoba bangunkan, namun kau masih tinglur
Hingga matahari naik sudah
Kau pun bangun dengan tergesa-gesa
Mandi dan siap-siap berangkat kerja
Sarapan di meja telah tersedia
Kau bilang, "lain kali saja"
Duh, suamiku... Kau anggap apa diriku
Susah payah berusaha mengabdi padamu
Namun kau tak mau tahu
Jangan-jangan kau anggap aku ini babu
Saat sore menjelang petang
Aku menanti dirimu pulang
Tentu, dengan senyum mengembang
Kubilang, "makan malam ya, sayang..."
Namun kau bilang, "maaf, aku sudah kenyang"
Sungguh sayang, kau membuatku kesal
Ingin rasanya, kulempar dirimu dengan sandal
Beruntung lagi, aku bukan tukang jagal
Karena aku masih punya akal
^_* 4 Juni 2011 pukul 19:05
SIAPA CLARA?
Masih terlalu pagi, saat aku membaca sebuah SMS
dari seorang teman di Merauke yang berbunyi: Nisa, telpon aku. Aku lagi
sedih. Pengirimnya adalah Tia, teman sekolahku waktu masih SMA dulu.
Sekitar pukul sepuluh pagi, aku coba
menghubunginya. Kudengar ia mengucap salam sambil menangis. Mungkin dia
betul-betul sedang sedih. Belum sempat aku bertanya perihal kesedihannya, dia
sudah mulai bercerita panjang lebar. Begini ceritanya:
Tia menikah dengan Sony, seorang prajurit Angkatan
Darat. Tia sendiri baru diangkat sebagai seorang guru PNS di Merauke. Tadinya
mereka tinggal di Biak. Menurut Tia, kepindahan mereka ke Merauke sebetulnya
memang sangat diharapkannya. Biak membuat Tia hidup tak bisa tenang. Masalahnya,
mantan pacar suaminya yang juga sudah menikah, sering sekali telpon atau bahkan
terkadang datang ke kediamannya. Meski perempuan ini datang bersama anaknya,
namun tak pernah sekali pun datang bersama suaminya, hal itu cukup membuat Tia
merasa tak nyaman.
Jelas dong Tia merasajcemburu, melihat suaminya
masih bisa bercanda dengan mantan pacarnya. Pernah Tia mencoba menegur suaminya
dengan halus, bahwa dia tak suka mantan pacar suaminya itu datang ke rumah
mereka. Namun suaminya tak terlalu mengacuhkannya. Alasannya, toh perempuan itu
datang bersama anaknya, dan ada juga Tia bersama-sama mereka.
Pada akhirnya harapannya terkabul. Suaminya
dipindahtugaskan ke Merauke enam bulan yang lalu. Hanya empat bulan Tia
merasakan ketenangan di Merauke. Sejak dua bulan yang lalu dia merasakan ada
yang lain dengan suaminya. Kecurigaannya itu pun akhirnya terbukti.
Pada suatu pagi, saat suaminya sedang mandi, ada
miscall di HP sang suami. Di situ terbaca, “bapak”. Merasa mertuanya yang
menelpon, dan kebetulan ia juga sedang ‘ada’ yang ingin dibicarakan dengan
mertua, ia pun telpon balik ke nomor itu. Di luar dugaan, yang menjawab
bukannya mertua, melainkan sebuah suara yang telah dikenalnya, mantan kekasih
sang suami.
Mendidih darah Tia. Dengan gemetar ia menahan cemburu,
segera ditekannya ‘END’ untuk mengahiri. Namun ia sempat mencatat nomor yang
tertera dibalik nama ‘bapak’. Ketika di cocokkan dengan nomor di HPnya sendiri,
nomor itu memang bukan nomor mertuanya. Tia kecewa terhadap suaminya. Marah dan
benci bergumpal dalam dadanya karena telah dibohongi.
Saat suaminya selesai mandi, Tia pura-pura tak
terjadi apa-apa. Tiba-tiba telpon berbunyi kembali. Karena posisi Tia yang
lebih dekat dengan HP itu, maka ia berusaha menjangkaunya. Dilihatnya kata
‘bapak’ lagi yang terbaca pada layar.
“Bapak, Mas!” ucap Tia pura-pura tak pernah terjadi
apa-apa.
“Oh, ya. Mana!” Sony setengah terburu-buru
menyambar HPnya.
“Halo! Ya… baru selesai mandi. Oh, ya?! Lalu?….Ndak
apa, jadi jam berapa?” suara suaminya menjawab telepon. Tia sebetulnya berusaha
menguping, namun suaminya malah menjauh.
“Aku nanti gak bisa jemput Doni, Tia!” kata
suaminya setelah menerima telpon.
“Kenapa?” tanya Tia.
“Bapak minta diantar ke rumah Pak Sukiyar, masalah
watas tanah.” jawab Sony.
“O, ya sudah. Kalau gitu biar aku saja yang
jemput.”jawab Tia.
Hari itu, Tia ijin tidak mengajar. Ia betul-betul
ingin membuntuti suaminya. Singkat cerita, suaminya memang berbohong. Tia
melihat dengan mata kepalanya sendiri, mobil suaminya menuju terminal kota.
Bahkan ia melihat, suaminya membukakan pintu mobil untuk mantan kekasihnya.
Berderai-derai air mata Tia di balik helm standart
yang dipakainya. Ia bermaksud ingin terus membuntuti mobil suaminya, Tia ingin
tahu akan dibawa ke mana perempuan itu. Namun air matanya membuat pandangannya
kabur, dan ia sadar saatnya Doni pulang sekolah.
Begitulah, Tia mengahiri ceritanya dengan
mengatakan bahwa ia hendak minta cerai dari suaminya.
“Aku tak tahan lagi, Nisa!” ucapnya sambil terisak.
Aku cuma bisa mendengar tanpa memberi komentar apa
pun. Aku ikut menangis, merasakan kehancuran hatinya. Aku memintanya
memikirikan kembali akibat dari keputusannya dan mencari jalan yang lebih baik.
“Perceraian itu halal, tapi hal yang paling dibenci
oleh Allah.” kira-kira itu yang sempat kuucapkan padanya.
Setelah itu, aku sendiri tak ingat, apa yang
membuatnya mengahiri pembicaraan kami yang hampir satu jam itu. Ia berjanji
akan mengabariku perkembangan selanjutnya.
***
Aku sedang menjemur baju pagi itu. Tiba-tiba
kulihat Ria, gadis manis itu setengah berlari dengan berurai air mata
menghapiriku.
“Umi…., umi…, tolong lihat Mama!” pinta gadis
remaja itu sambil menangis.
“Kenapa Mamamu, Ri?” tanyaku khawatir.
“Ndak tahu, cepat mi… cepat! Umi ke rumah
sekarang…” pintanya memelas.
Tanpa berpikir panjang kukenakan kaus kaki dan
melapisi kerudungku dengan kerudung yang lebih panjang. Kemudian aku bergegas
pergi ke rumah Ria yang tak terlalu jauh dari rumahku.
Kulihat Pak Yanto, ayah Ria, di depan pintu
menghisap rokoknya dalam-dalam. Saat melihatku, seketika dibuangnya puntung
rokok yang tadi dihisapnya.
“Assalamualaikum, Pak Yanto!” aku mengucapkan salam
padanya.
“Wa alaikum salam, Bu Nisa!” jawabnya. “Ada perlu
apa, Bu?” tanyanya seperti tak menyukai kehadiranku.
“Maaf, Pak. Barusan Ria ke rumah…” belum selesai
aku bicara, ayah Ria sepertinya mengerti maksud kedatanganku.
“Iya! Maaf, Bu Nisa. Silahkan masuk. Mamanya Ria
ada di dalam. Maaf, saya harus segera pergi kerja!” tanpa mengucap salam, entah
lupa atau marah, Pak Yanto pun pergi diiringi suara motornya.
Ketika aku masuk, ruang tamu tanpa kursi itu
berhambur. Buku-buku berserakan seperti habis dilemparkan. Di ruang tengah,
Isti, adik Ria tengah merapikan mainannya. Kudengar Mama Ria tengah terisak di
kamarnya. Setelah kuucap salam, aku masuk mendekatinya. Aku duduk disamping
Mama Ria yang tengah menangis sambil memeluk kedua lututnya. Tak ada yang
kuucapkan. Hanya duduk membisu di dekatnya. Tangisnya begitu sedih,
sampai-sampai tanpa bisa ku tahan, air mataku pun ikut terjatuh. Ku peluk Mama
Ria, mencoba menenangkannya. Akhirnya dengan terbata dia pun mulai bercerita.
Ceritanya hampir sama dengan cerita Tia. Bahkan
Mama Ria hendak nekat membunuh dirinya karena merasa dihianati suaminya.
Astagfirullah! Tak ada yang kukatakan pada Mama Ria. Aku hanya mendengar,
berempati dengan perasaannya. Setelah kurasa dia mulai tenang, aku pun pamit
pulang.
Sampai di rumah, kulihat jemuran telah tersusun
rapi, mungkin Ria yang melakukannya. Ketika ku buka pintu, sambil mengucap salam,
Ria tengah membaca Al-Qur’an.
“Bagaimana Mama, Mi?” tanya Ria khawatir.
Aku tersenyum,
“Kamu sering membaca Al-Qur’an di rumah?” tanyaku
kembali.
Kulihat kepala Ria tertunduk sambil menggeleng.
“Sekarang, kamu pulang. Ajak mamamu membacanya
bersama-sama, sambil kau baca juga maknanya.” kataku pada Ria.
“Al-Qur’an ini obat penyejuk hati bisa dibaca kapan
saja.” lanjutku.
Ria mengangguk dan pamit sambil menciun tanganku.
***
Malamnya aku berfikir, apakah setiap pria punya
kecenderungan untuk memiliki hati yang bercabang? Tak puas dengan satu orang
wanita sebagai isteri di hatinya? Baik ayah Ria maupun suami Tia, sepertinya
mereka sekedar mencari selingan diluar rumah. Bagaimana dengan suamiku?
Memang aku tak pernah pacaran sebelum menikah.
Begitu diperkenalkan, seminggu berikutnya, melalui tanteku dia melamar. Dan
lamaran itu disambut baik oleh orangtuaku.
“Apa lagi yang yang mau kamu pertimbangkan? Dia
lama tinggal di pondok pesantren, sarjana teknik, dan punya pekerjaan.” begitu
tante bilang padaku yang langsung disetujui oleh orang tuaku.
Dan ternyata, Mas Hendy, suamiku, adalah orang yang
baik. Hampir-hampir dia tak pernah menyakitiku, walau sedikit pun. Selama tujuh
tahun pernikahan kami, tak pernah ia marah atau terdengar kata-kata kasar atau
menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Dan dia selalu memanggilku dengan
sebutan ‘Sayang’. Hatinya begitu lembut, bahasanya begitu santun. Aku sangat
menghormatinya. Sepertinya tak mungkin dia termasuk dari lelaki yang suka
mencari selingan.
Begitu hati-hatinya dia terhadap perasaanku,
sehingga jika aku sedikit diam atau marah, selalu dia yang lebih dulu meminta
maaf. Beliau adalah suami dan ayah yang sabar dan sholeh. Aku sangat
mempercayainya. Aku yakin dia tak akan membuatku kecewa. Dan aku tak berani
membayangkan apa yang terjadi pada Tia dan Mama Ria itu terjadi padaku. Isya
Allah tak mungkin.
***
Dua hari yang lalu, aku bongkar-bongkat lemari
buku. Susunan bukunya sudah tak beraturan, aku bermaksud merapikannya.
Kebetulan Mas Hendy sedang berada di Bogor dan rencananya pulang sore itu.
Supaya saat dia pulang nanti meja kerjanya rapi, pikirku dalam hati.
Saat menyusun buku-buku itu, aku menemukan sebuah
buku tabungan sebuah Bank Swasta. Tadinya kukira milik Mas Hendy, namun
ternyata nama yang tertera adalah Clara Raditya. Aku tak pernah mendengar nama
ini sebelumnya. Mungkin milik salah satu diantara anak-anak yang belajar setiap
Sabtu-Minggu di rumah ini. Tapi setahuku, diantara mereka tak ada yang bernama
Clara Raditya. O, mungkin milik saudara dari salah satu diantara mereka. Buku
tabungan itu kusimpan kembali dalam lemari, tentunya dengan posisi yang gampang
terlihat dan gampang dicari.
Setelah membersihkan buku-buku, beralih kubersihkan
tas-tas dan map-map yang bertumpuk. Sesekali aku membuka-buka isi tas atau
map-map itu untuk mengetahui isinya agar bisa dikelompokkan nanti jika disusun
dalam rak.
Diantara map-map itu ada satu map yang di dalamya
terdapat sebuah amplop cokelat besar bertuliskan ‘UNTUK YANG KUKAGUMI’. Aku
penasaran, kalau seandainya amplop itu untukku, adalah aku yang berhak
membukanya. Mungkin Mas Hendy akan memberiku sebuah kejutan, namun ketlisut.
Dan sekarang aku sendiri yang menemukannya.
Saat ku buka amplop coklat yang terlipat rapi itu,
di dalamnya ada sebuah foto berwarna ukuran 4X6, bergambar seorang gadis manis.
Masih dalam keadaan penasaran, ku lihat dibalik foto itu ada tulisan ‘Clara
Raditya, ST’. Hawa yang kurang sehat tiba-tiba saja menjalar dalam tubuhku.
Dadaku panas oleh cemburu. Hampir-hampir aku tak percaya, benarkah Mas Hendy
selingkuh?
Apa artinya sebuah foto dengan amplop bertuliskan
‘untuk yang kukagumi’ dan sebuah buku tabungan dengan nama yang sama? Gadis ini
belum pernah kulihat selama ini. Masih muda, mungkin baru lulus kuliah. Kutepis
kecurigaanku, mungkin ini saudaranya. Belum tentu benar prasangka ini. Ah,
Nisa! Kau telah menuduh sembarangan. Prasangka itu dosa! Teriak sebagian dari
batinku. Dan aku mencoba untuk meyakinkan diriku bahwa aku telah berprasangka
buruk. Betapa menyedihkannya jika tiba-tiba saja aku tuduhkan semua ini kepada
Mas Hendy dan ternyata tidak benar. Betapa malunya aku.
***
Sore itu, Mas Hendy datang sesuai rencana. Tak ada
delay pesawat. Syukur Alhamdulillah. Aku sambut dia dengan mencium tangannya,
dan dia memeluk sambil mencium keningku seperti biasa. Ahmad, anak kami yang
masih berumur tiga tahun berlari riang menyambut kedatangan abinya, yang
langsung disambut dengan gendongan dan ciuman. Tiba-tiba HP Mas Hendy berbunyi.
Diturunkannya Ahmad dari gendongannya, begitu melihat layar di HPnya mas Hendy
mengangkat telpon sambil keluar rumah, aku memperhatikannya dengan penuh
kehawatiran, curiga dan cemburu menari-nari didalam dadaku.
“Baru saja sampai di rumah,” jawabnya pada si
penelpon. “Iya.. ya. terima kasih,” lanjutnya.
“Jarwo, Yang. Dia tanya, abi sudah sampai rumah apa
belum.” ia memberitahuku siapa yang barusan menelpon.
Aku melihar ada sinar lain di matanya. Dalam hati
aku pun mulai meragukan ucapannya barusan, dia bohong!. Apa urusannya Jarwo
menghawatirkan perjalanan Mas Hendy? Apa urusannya Mas Hendy sudah sampai rumah
atau belum? Apa urusannya? Cuma dua kekasih saja yang bertingkah laku seperti
itu. Memangnya mereka berdua itu homo?
Tapi aku tak mau gegabah. Diam-diam, foto itu ku
amankan. Paginya, saat aku menyeterika seragam kerja Mas Hendy, kumasukkan foto
itu ke dalam kantong saku celana yang akan di pakainya. Buku tabungan kuambil
dan kuselipkan dalam laptop yang telah kurapikan ke dalam tasnya. Mas Hendy tak
menyadari itu. Dia pergi seperti biasa, tetap hangat sikapnya.
Siang hari, saat istirahat makan siang, biasanya
dia menelponku. Tapi ini sudah lewat jam tiga sore, satu sms atau miscall pun
tak ada. Apakah dia marah? Harusnya aku yang marah. Aku pun tak mau mengambil
inisiatif menelponya lebih dulu, meskipun aku ingin.
Sorenya, Mas Hendy pulang lebih awal. Saat itulah
baru kulihat perubahan sikapnya. Sikap serba salah, dan terlihat dia berusaha
sangat hati-hati agar tak terjadi kesalahan yang membuat kami jadi ribut.
Sebetulnya aku kasihan juga, tapi mungkin ini pelajaran baik untuknya. Aku pun
lebih banyak diam. Ya Allah, bantu kami keluar dari masalah ini.
Malam hari, dia baring di tempat tidur lebih dulu.
Tak ada cerita. Kuingat-ingat sejak dia pulang kantor sampai menjelang tidur
tak banyak kata yang diucapkannya. Sekarangpun dia asyik dengan sebuah buku di
tangannya. Entah, dia benar-benar membaca atau pura-pura.
Setelah menidurkan Ahmad, aku pun menyusul
berbaring di samping Mas Hendy. Cukup lama kami saling diam. Dan akhirnya aku
tak tahan untuk bertanya.
“Siapa Clara?” tanyaku.
“Kenapa, Yang?” tanyanya seolah tak mendengar apa
yang kukatakan.
“Siapa Clara? Clara Raditya!” ulangku dengan suara
gemetar menahan cemburu dan marah..
Mas Hendy meletakkan buku yang sedari tadi
dipegangnya. Kulirik dia seperti berusaha menenangkan diri. Kemudian
membalikkan badannya menghadap ke arahku. Aku menunggu penjelasannya, dalam
keadaan tak menentu.
Tiba-tiba, kurasakan badanku didekapnya erat sambil
menciumku. Aku berusaha meronta, namun tangisku malah pecah. Dia tetap memelukku,
mendekapku dalam dadanya, seolah hendak meredakan tangisku. Malam itu tak ada
yang kudengar sebagai penjelasannya atas Clara Raditya, foto, dan buku
tabungan. Kecuali ucapan maaf, dekapan erat dan ciuman hangat. Tak ada aku
mendengar. Betul-betul. TAK ADA.
Rabu, 23 April 2014
Jangan Tahan Rejeki Mereka
Rejeki yang kita peroleh
setiap hari, tentunya tak lepas dari do’a-do’a orang yang sedang menjadi
tanggungan kita. Maka ketika kita telah memperolehnya, kenapa harus
kita tahan saat mereka (orang-orang yang menjadi tanggungan kita) itu
memerlukan?
Haruskah kita memberikan dengan pertimbangan mendahulukan yang mana yang lebih ‘sreg’ dengan hati kita, memilih mana yang lebih kita sayang? Yang lebih menyenangkan hati kita? Bukankah dengan demikian akan mengakibatkan mereka saling cemburu atau bahkan bisa juga membencimu?
Bagaimana jika yang lebih berhak atas rejeki itu tak ridho ketika kita telanjur mendahulukan orang yang lebih kita sayang?
Ingatlah, doa orang-orang yang terdholimi itu lebih cepat sampai pada Tuhan-nya. Mungkin tak sekarang, namun dampaknya akan lebih besar dan tak pernah kita duga.
Maka, berbuatlah adil. Tidak berlebihan pun tidak terlalu ketat menahan. Saat yang kita miliki habis, yakinlah itu artinya kita akan mendapatkan gantinya yang lebih baik. Semua rejeki itu telah diatur oleh Tuhan, dan akan berhenti saat kita bertemu ajal.
Salam,
Hing
Haruskah kita memberikan dengan pertimbangan mendahulukan yang mana yang lebih ‘sreg’ dengan hati kita, memilih mana yang lebih kita sayang? Yang lebih menyenangkan hati kita? Bukankah dengan demikian akan mengakibatkan mereka saling cemburu atau bahkan bisa juga membencimu?
Bagaimana jika yang lebih berhak atas rejeki itu tak ridho ketika kita telanjur mendahulukan orang yang lebih kita sayang?
Ingatlah, doa orang-orang yang terdholimi itu lebih cepat sampai pada Tuhan-nya. Mungkin tak sekarang, namun dampaknya akan lebih besar dan tak pernah kita duga.
Maka, berbuatlah adil. Tidak berlebihan pun tidak terlalu ketat menahan. Saat yang kita miliki habis, yakinlah itu artinya kita akan mendapatkan gantinya yang lebih baik. Semua rejeki itu telah diatur oleh Tuhan, dan akan berhenti saat kita bertemu ajal.
Salam,
Hing
Ada Saatnya Kita Perlu Membantah Atasan
Kadang kita akan bertemu orang yang suka mempersulit diri kita.
Awalnya saya tak mengerti cara berfikirnya. Namun setelah merasakan bahwa orang ini spesies yang suka membantah, sombong, tidak memahami kondisi saya, mau menang terus dalam setiap pembicaraan, suka memaksakan orang menjadi seperti yang dia inginkan, memaksa orang melakukan cara yang dia mau meski banyak cara yang seribu atau bahkan sejuta kali jauh lebih mudah untuk dilaksanakan, asal tidak seperti yang dia inginkan ia tetap membantah memaksa.
Kalau saja dia berfikir bahwa dunia ini penuh warna. Setiap individu pasti berbeda entah dalam selera maupun cara. Setiap orang punya ukurannya sendiri. Ada yang besar ada yang kecil. Ada yang super mini dan super jumbo.
Tak bisa dibayangkan, kalo Boss Anda di kantor menganjurkan Anda memakai seragam yang tak cuma sama dalam warna dan motif tapi juga ukuran. Alangkah lucunya, dan sangat menggelikan jika saya yang bertubuh kecil memakai baju ukuran super jumbo, atau teman saya yang Gendut pakai seragam seukuran saya. Mungkin baru masuk lengan, jahitan sudah lepas atau kainnya malah robek.
Seperti itulah yang sedang saya hadapi saat ini. Kalau saya ikuti kemauannya, ya saya yang kerepotan. Kesalahan saya mungkin cukup menghiyakan perintahnya, dan saya menyelesaikan dengan cara termudah dan teringkas menurut saya. Tapi dia tetap tak setuju, saya harus mengikuti instruksinya.
Tindakan saya? Saya tak mau repot. Toh dengan cara saya pun dia tak akan dirugikan. bahkan mungkin malah diuntungkan. Jadi sesekali, orang seperti ini perlu dibantah. :)
Awalnya saya tak mengerti cara berfikirnya. Namun setelah merasakan bahwa orang ini spesies yang suka membantah, sombong, tidak memahami kondisi saya, mau menang terus dalam setiap pembicaraan, suka memaksakan orang menjadi seperti yang dia inginkan, memaksa orang melakukan cara yang dia mau meski banyak cara yang seribu atau bahkan sejuta kali jauh lebih mudah untuk dilaksanakan, asal tidak seperti yang dia inginkan ia tetap membantah memaksa.
Kalau saja dia berfikir bahwa dunia ini penuh warna. Setiap individu pasti berbeda entah dalam selera maupun cara. Setiap orang punya ukurannya sendiri. Ada yang besar ada yang kecil. Ada yang super mini dan super jumbo.
Tak bisa dibayangkan, kalo Boss Anda di kantor menganjurkan Anda memakai seragam yang tak cuma sama dalam warna dan motif tapi juga ukuran. Alangkah lucunya, dan sangat menggelikan jika saya yang bertubuh kecil memakai baju ukuran super jumbo, atau teman saya yang Gendut pakai seragam seukuran saya. Mungkin baru masuk lengan, jahitan sudah lepas atau kainnya malah robek.
Seperti itulah yang sedang saya hadapi saat ini. Kalau saya ikuti kemauannya, ya saya yang kerepotan. Kesalahan saya mungkin cukup menghiyakan perintahnya, dan saya menyelesaikan dengan cara termudah dan teringkas menurut saya. Tapi dia tetap tak setuju, saya harus mengikuti instruksinya.
Tindakan saya? Saya tak mau repot. Toh dengan cara saya pun dia tak akan dirugikan. bahkan mungkin malah diuntungkan. Jadi sesekali, orang seperti ini perlu dibantah. :)
Langganan:
Komentar (Atom)








