Sabtu, 28 Oktober 2017

Ketika Allah Inginkan Saya untuk Mengusir Rasa Mangkel

Suatu hari, usai maghrib waktu itu, seorang ibu dengan tiga anaknya datang ke rumah. Agak kaget juga saya. Sebab sebelumnya saya punya masalah dengannya. Ucapannya terhadap lembaga tempat saya mengajar cukup menyakitkan.

“Maaf, bu... Mengganggu.” Begitu dia memulai percakapan.

“Ndak papa, ada apa ya bu?” tanya saya berusaha ramah.

Ternyata si ibu ingin saya mengajar dirinya dan anaknya mengaji. Ketika saya ajak untuk ikut sekalian di TPA, dia menolak. Alasannya anaknya tidak pernah bisa hadir tepat waktu di TPA. Lagi pula dia juga ingin agar saya tak hanya bersedia mengajar anak-anaknya namun juga bersedia menyimak bacaan si ibu.

Agak berat memang, mengingat waktu saya bersama dua krucil saya bakalan semakin sempit. Akhirnya saya tawarkan teman yang lain yang sekiranya memiliki waktu lebih luang untuk ibu beranak ini. Dengan halus dia menolak. Katanya, maunya sama saya saja. Dan entah, saya pun mengiyakan. Namun dengan syarat pertemuan itu hanya empat kali sepekan. Dia pun setuju.

Bayangkan, beberapa bulan yang lalu dia menjelekkan dan mencurigai lembaga tempat saya mengajar. Kini dia datang meminta saya untuk mengajar anak-anaknya. Ucapannya saja belum hilang dari ingatan. Ini orang, kok ya tidak merasa bersalah. Akhirnya saya pun mulai mengajarnya walau masih dengan rasa mangkel.

Saya pun berpikir, nggak mungkinlah saya menanam dosa terus menerus. Sambil mengajar sambil menggerutu. Apalagi setelah beberapa kali pertemuan kedua anaknya belum juga bergeser dari halaman yang ia pelajari. Keduanya bahkan. Dan saya selalu merasa gagal jika murid saya tak juga mengerti apa yang saya ajarkan. Serta biasanya saya akan mencari metode lain agar anak ini bisa menangkap apa yang saya ajarkan.

Saya pun banyak-banyak istighfar. Menyadari, bahwa selama ini sebetulnya penyebab anak ini tidak dapat menerima apa yang saya sampaikan adalah perasaan mangkel saya.
Jujur, susah sekali ngilangin mangkel ini. Namun begitulah. Alloh ingin saya membuang rasa mangkel ini. Saya pun memaksakan diri dengan mengajak anak-anak tak berdosa ini bercakap-cakap dan bercanda sesekali. Alhamdulillah, keakraban pun mulai terbangun.


Alhamdulillah, tiada yang berhak mendapat pujian selain Allah. Sebab pada akhirnya Allohlah yang mampu membuat saya menundukkan mangkel di hati ini.

Kamis, 26 Oktober 2017

Menyikapi Penyakit yang Diderita


Sejak beberapa tahun belakangan, (sekitar 3 tahunan) saya menderita pembengkakan kelenjar di leher. Orang bilang struma. Pembengkakan kelenjar tiroid.

Bahaya? Bisa jadi bahaya. Sebab almarhumah ibu saya meninggal karena penyakit ini dan terakhir pemeriksaan dokter ternyata adalah tumor dan telah menjalar sampai ke paru-paru. Namun tentu semua sudah menjadi suratan takdir dan memang rejeki usia ibu tak sampai 43 tahun.

Ketika mendapati bahwa saya juga menderita penyakit ini, memang mengubah gaya hidup saya. Sakit ini, semoga lebih menjadi sebuah nikmat yang Allooh berikan pada saya. Karena dengan penyakit ini, saya merasa usia saya tentu tak akan lebih lama dari jumlah usia yang telah saya lalui. Justru dengan penyakit ini, mungkin Allooh ingin agar saya belajar menerima setiap ketentuan yang telah diberikan untuk saya. Allooh ingin, agar saya hanya bergantung kepadanya. Karena Allooh yang membuat sakit dan Allooh-lah kelak yang akan menyembuhkan. Dengan cara bagaimana? Itu terserah Allooh. Mungkin akan menutup penyakit ini dengan menghilangkan segala penderitaan di dunia, meninggal seumpama. Saya sudah pasrah.

Kadang, penyakit ini juga menjadi semacam rem saat saya bernafsu terhadap sesuatu juga sebagai penyemangat. Namun, begitulah... syetan tak akan pernah tinggal diam.

Saat kambuh, saya hanya berharap agar Alloh mengampuni dosa-dosa saya. Sebab katanya, pada setiap rasa sakit sesungguhnya Allooh tengah menggugurkan dosa-dosa kita. Agar kelak kita mendapat keringanan di hari pembalasan (Aamiin...)

Jadi, Kepada saudara-saudaraku yang tengah menderita sakit yang sewaktu-waktu bisa jadi akan merenggut kebahagiaan dunia. Semoga, penyakit itu adalah salah satu jalan Alloh memberi hidayah dan mengampuni dosa-dosa kita.

Tetap semangat dan tetap berprasangka baik kepada Allooh...

Ketika Sakit


Baru saja Allooh memberi cobaan sakit. Yang sakitnya mungkin saja sedikit dari sekian rasa sakit yang paling sakit. Saya sudah kebingungan, gak tahan dengan rasa sakitnya dan juga ingin segera beraktifitas seperti biasa.

Segala obat diiyain.Yang tadinya gak mau banget buat minum sari lidah buaya yang bau bawang putihnya sangat menyengat akhirnya diminum juga. Dibikinkan ramua jamu oleh anak-anak yang awalnya ragu untuk minum, bukan karena apa... karena gak yakin sama kehigienisannya (hehe) namun karena yakin, ketulusan mereka saat membuat dan yakin bahwan doa doa yang mereka panjatkan ketika membuat ramuan itu mungkin dan bisa jadi lebih didengar oleh Allah yang Maha Memberi Kesembuhan, akhirnya diminum juga.

Namu rasa sakit dan keterbatasan gerak tetap menguji kesabaran. Besoknya suami datang menawarkan terapi setrum yang selama ini sangat jarang saya lakukan. Suami saya tahu, kalo sampai saya mau menerima tawaran terapi setrum, itu artinya saya sudah gak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Akhirnya terapi setrum dilakukan, sebelumnya sudah coba terapi totok punggung. Namun belum juga ada perubahan.

Setelah diterapi setrum, saya minta dibekam. Maka dibekamlah. Biasanya saya minta gelas bekam yang berdiameter kecil saja, kali ini saya tak menolak ketika suami mengeluarkan dengan gelas bekam yang diameternya sebesar cangkir minum. (okeylah agak kecil dikit)

Sekarang, Alloh telah memberi keringanan dari rasa sakit. Juga mengusir sedikit rasa khawatir... Hmm baru sadar. Bukankah Alloh akan mengguggurkan dosa pada setiap rasa sakit yang diderita oleh hambaNya?



Astaghfirullah wa atuubuh ilaih


Minggu, 22 Oktober 2017

Ketika dalam Ujian

Belum lama sembuh dari DB, kini sulung saya sakit lagi. Hasil tes darah menunjukkan kalo sel darah putihnya berlebihan sedang sel darah merah kurang.
Keluhannya sebentar demam sebentar normal. Suhu badannya naik turun. Setiap kali makan atau minum, setiap kali itu pula muntah.
Gak bisa tidur. "Kakak, khawatir mik..." keluhnya. "Khawatir kalau harus bermalam lagi di rumah sakit. Sangat nggak enak."

Sejak kecil, sepertinya sulung saya ini anak yang paling sering sakit. Pernah menderita ISPA, sering mimisan, alergi...

Keresahan saya, tadi malam saya limpahkan semua pada suami. Dan saya bermaksud membawanya kembali untuk tinggal bersama-sama lagi.
"Sudah, biar saja gak usah sekolah jauh-jauh dulu. Biarkan dia pulang, sampai benar-benar sehat. Kalau Allah ijinkan dia sampai ke Madinah, sekolah di mana pun ia akan sampai ke Madinah."

Tiba-tiba, jawaban balik suami ini bikin saya tak berkutik. Menyesal telah banyak berkata-kata seolah tak percaya bahwa Alloh yang mengurus semua.
"Coba ummi ingat, kakak itu lebih banyak sakitnya atau lebih banyak sehatnya? Memang dia sering sakit, tapi bukankah dia lebih sering sehat?"
Saya terdiam.
"Masalahnya, karena kakak sakit dan jauh dari kita. Tapi, bukankan ini yang seharusnya membuat kita lebih mendekatkan diri pada yang memberi sakit dan yang memberi sehat?"

Sambil diterapi suami malam itu, karena saya sendiri sedang terganggu kesehatan, saya beristighfar banyak banyak. Mungkin, sakit ini adalah salah satu peringatan dari Allah akibat kurang bersyukurnya saya.
Sungguh, bersyukur ketika dalam kelapangan itu mungkin lebih mudah dari pada bersyukur ketika dalam kesempitan.
Astaghfirullooh wa atuubuh ilaih

Rabu, 31 Agustus 2016

Cinta Lama

Dia mengeluarkan motor dari rumahnya. Pintu dibiarkan terbuka. Dia menyalakan motor untuk memanaskan mesin. Nampak anak sekolah berlewatan di depan rumahnya.
Pikirannya masih gundah setelah menemukan sebuah nama di grup WA alumni sekolahnya. Nama yang memaksa dirinya untuk bertempur. Tapi bukan melawan musuh. Dan bukan pertempuran bersenjata. Tapi bertempur melawan rasa yang ada di dada. Rasa yang bangkit kembali setelah 20 tahun mati. Rupanya rasa itu tak mati. Hanya bersembunyi di sela-sela putaran roda kehidupan.
Hatinya sibuk menghadang rasa itu. Tapi dia tak mampu. Pertempuran berjalan seimbang.
Istrinya keluar bersama dua anaknya yang siap berangkat sekolah. Satu bercelana panjang merah, satu lagi bercelana panjang biru.
Suara anaknya menyadarkan lamunannya. Keduanya naik ke jok belakang motor. Istrinya yang cantik dan semampai, anggun dengan jilbab lebarnya, melepas di depan pintu.
Dia memasukkan motornya ke rumah. Kedua anaknya yang berusia 3 dan 4 tahun sudah rapi dan wangi, bermain di teras rumah. Masuk ke rumah, dia mencium aroma sarapan yang membuat perut lapar.
Cantik, solehah, dan pandai masak. Kombinasi idaman bagi lelaki yang mencari istri.
Dia segera menuju meja makan. Ditemani oleh istrinya tanpa jilbab lebarnya.
Duduk di meja makan sambil tersenyum.
Istrinya cantik, solehah dan pandai masak. Pandai mengatur rumah.
Tapi mengapa rasa yang telah terkubur tetap memaksa bangkit?
Ataukah memang ini fitrah lelaki yang bisa menampung lebih dari satu cinta dalam hatinya?
Apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi seperti ini?
-------------------
Rasa itu masih menggoda hatinya. Mengetuk pintu rumah hatinya yang sudah berpenghuni.
Tapi dia ingat, bahwa rumah hatinya tidak hanya bisa dihuni sendirian. Masih bisa dihuni oleh cinta yang lain. Hatinya bukan kamar apartemen studio yang hanya bisa dihuni oleh 1 penghuni.
Dia tersenyum lebar. Kegundahan hatinya akan segera hilang. Sebagaimana malam hilang saat matahari terbit. Seperti banjir bandang yang surut.
Bagaimana tidak hilang gundahnya, dan berganti dengan rasa gembira yang luar biasa. Karena rumah hatinya akan memiliki penghuni baru.
Dia membayangkan indahnya hidup bersama dua bidadari dunia, yang akan membuat hidupnya lebih berwarna. Hidup menjadi indah dengan satu bidadari. Apalagi ditambah satu lagi.
Tapi kegembiraan itu tak berumur panjang. Dia mengerutkan dahinya kembali. Duduk terkulai lemas di kursi. Dan gundahnya datang kembali.
Karena ternyata si dia sudah bersuami.
-------------------------------
Saat itulah setan datang menggoda. Agar dia tetap mengejar cintanya meski si dia sudah bersuami.
Setan tahu bahwa si dia punya WA juga. Maka setan menggodanya untuk tetap merebutnya dengan berbagai cara.
Si dia juga punya WA, punya FB, berarti kesempatan untuk merebut masih ada. Begitu setan menggodanya.
Setan tak hanya memotivasi agar tetap mengejar. Seolah hanya dia saja perempuan di jagad ini. Padahal dia sudah punya bidadari. Tapi memang dasar setan, memang tugasnya menggoda dan mengganggu. Tugasnya mengajak agar manusia terjerumus kepada maksiat.
Lihat FB nya, pertama kasih like dulu di statusnya. Lalu perhatikan statusnya, pasti ada yang mengandung curhat. Kalo sudah curhat, tandanya kamu bisa masuk. Begitu kata setan.
Kasih perhatian lebih, siapa tahu dia kurang perhatian. Batu yang keras akan kalah oleh tetesan air yang terus menerus. Teruslah dan jangan menyerah. Dia layak untuk dikejar, demi cinta yang memburu di dada. Agar gundahmu segera hilang, diganti dengan bahagia dengan dua bidadari. Setan terus membisikkan gangguannya.
Tapi setan menggoda orang yang salah. Dia tidak segera mengikuti godaan setan. Dia masih bisa berpikir. Allah masih menjaganya.
Dia teringat dosa, dia tidak mau menambah gundahnya. Karena dosa juga membuat gundah. Bisa dua kali lipat gundahnya.
Dia teringat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang melarang takhbib, yaitu merusak hubungan rumah tangga orang, mempengaruhi istri agar cerai dari suami.
Dia tidak mau menambah dosa.
Tak mengapa dia menanggung gundah daripada menanggung dosa takhbib.
Kasihan si suami merana jika istrinya minta cerai gara-gara dia. Kasihan rumah tangganya. Kasihan anak-anaknya.
Dan yang pasti, Allah nanti akan murka. Jika Allah murka bisa jadi nanti semuanya bubar.
Biarlah gundah ini dia rasakan sendiri. Dia lawan sendiri. Lebih baik bergulat dengan gundah, daripada bergelimang dosa.
Tapi sampai kapan harus bergulat melawan gundah?
Berapa lama lagi ..?

Secuil kisah di siang hari pada 30 Agustus 2016

Siang itu, saatnya anak-anak mengambil wudhu untuk sholat dhuhur. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Berharap anak-anak berteduh di area tempat wudhu mesjid hingga hujan reda. 
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja mereka berlarian dibawah hujan deras. Suara teriakan saya meminta mereka berteduh tak terdengar, tak mampu bersaing dengan gemuruh suara hujan. Dan anak-anak dengan bebas sebebas-bebasnya berlari melompat menghadang hujan. Dan, seketika mereka pun basah kuyub sambil tertawa bebas.

Saya langsung lunglai, gak mungkin anak-anak sholat dhuhur dengan baju basah kuyub sedemikian. Malah bikin kotor masjid, itu pasti.
Geram, tapi apa mau dikata. Naluri anak-anak melihat hujan ya langsung main hujan. Yang kami khawatirkan bias jadi diantara mereka tidak tahan dingin yang malah membuat mereka masuk angin. Akhirnya, saya kirim pesan pada orang tua murid satu per satu agar segera menjemput putra putrinya. 


Dengan sabar saya menunggu satu per satu murid dijemput sambil memohon maaf pada orang tua atas kejadian yang tak sanggup saya cegah hari itu. Alhamdulillah, semua orang tua memaklumi keadaan ini.


Dua krucil saya terlihat keluar dari mesjid, Alhamdulillah mereka tidak main hujan seperti yang lain. Setelah seluruh murid pulang, saya pun beranjak pulang. Saat melalui parit kecil yang memisahkan antara sekolah dan kebun, kepala saya langsung cenut-cenut. Dua krucil saya memang tak sedang bermain hujan sebab hujan pun telah reda, mereka berdua sedang berendam di parit penuh lumpur itu.


Sudah tak ada tenaga saya lagi untuk ngomel. Saya hanya member isyarat agar mereka segera naik, lalu memandikannya. Masih dengan diam saya menyiapkan tempat tidur mereka, tanpa disuruh pun kedua krucil seperti mengerti apa yang saya inginkan. Tidur.


Terimakasih telah membaca cerita saya
salam senyum

Selasa, 30 Agustus 2016

Kita Semua Pernah Melakukan Kesalahan

Tadi, anak-anak saya di sekolah saling tuduh siapa yang salah dan siapa yang benar. Ya, tentu mereka masing-masing menganggap dirinya benar, dan temannya salah.

Lalu saya nanya: "Siapa yang tidak pernah berbuat salah."

Rata-rata mereka semua ngaku dan berebut; "Saya tak pernah berbuat salah!!!."
Lalu saya cerita, Nabi Adam pernah berbuat salah sehingga dikeluarkan dari surga. Nabi Yunus pernah berbuat salah hingga diberi cobaan masuk dalam perut ikan. Nabi Muhammad yang mulia juga pernah melakukan kesalahan sehingga ditegur oleh Alloh melalui surat Abasa.

"Jadi, setiap manusia pernah berbuat salah." kata saya. "Lalu, siapa tadi yang ngaku tidak pernah berbuat salah?" tanya saya lagi.

"Saya, Mi. Saya ga pernah." beberapa dari mereka masih ndak mau ngaku.

Lalu saya memberi isyarat heran. "Jadi, kamu tidak pernah berbuat salah?"

"Tidak, Mi!!!" 
"Aku endak...aku endak...!!!!"

"Jadi, kamu bukan manusia?" tanya saya dengan ekspresi seheran-herannya.

"Eh... enggak Mi. Aku pernah salah sekali saja. Dia nih yang banyak!!" kata salah satu dari mereka sambil menunjuk teman di sebelahnya.

"Bener?!!!" saya coba meyakinkan.

Tiba-tiba ada yang angkat suara, "Iya Mi. Aku sering dimarahin sama mama."

Saya tersenyum pada pemilik suara itu. "Kenapa dimarahin sama Mama?" tanya saya.

"Aku bikin nangis adikku." jawabnya

"jadi, siapa yang berbuat salah?" tanya saya lagi.

"Ya, akulah..." katanya jujur.

"Siapa lagi yang tidak pernah berbuat salah?" tanya saya lagi sambil memperhatikan kesebelas murid saya.

Mereka saling memandang temannya dan saling tersenyum. Kali ini tak terdengar lagi yang mengaku tidak pernah salah.
Kadang, kita harus berepot-repot untuk membuat anak-anak mengerti dan sedikit demi sedikit melepas penyakit merasa benar.
Begitu kisah saya hari ini, Selasa 30 Agustus 2016

Minggu, 28 Agustus 2016

Bismillah itu Bukan Mantra

Sekitar dua minggu yang lalu. Kami diundang makan malam sama tetangga. Menunya coto makasar. Enak memang. Tapi, saya selalu diingatkan dengan usia. Wes luwih tekan petangpuluh. Alhamdulillah sih, belum pernah (dan jangan sampai) yang sakit sampai serius.

Akhirnya saya makan sedikit saja, mengambil sekitar dua potong daging dan bener-bener menghindari jerohan (padahal nikmatnya coto makassar ya pada jerohannya)

Teman saya bilang, : "takut amat, emang punya sejarah asam urat?"

saya, : "Menjaga saja, sih."

Teman saya, : "Bismillah saja, makannya. Insya Alloh gak papa."
Lalu, ada setoples kacang telor. Teman saya itu, ngemil dengan nikmatnya.

"Kacang, juga tak nak?" tanyanya sedikit kocak hingga bikin senyum orang-orang yang mendengarnya. 

"Mau juga, tapi ga banyak." kata saya.

"Hmm... Ga jadi makan deh kalo apa-apa dihindari." lanjutnya.

Dua hari berikutnya, saya dengar teman saya ini sakit. Kabarnya jari tangannya gak bisa menggenggam dan sulit mengangkat tangan. Rupanya beliau terserang asam urat.
Gak mungkinlah, saya bilang "rasain" ke beliau  yang jelas, saya bersyukur masih bisa mengendalikan diri untuk tidak makan dengan berlebihan. Meski sejujurnya coto makassar itu sungguh menggoda, juga kacang telornya.

Bismillah itu bukan mantra, Bismillah itu untuk mengingatkan bahwa kita melakukan segala hal tidak atas nama hawa nafsu.

Kamis, 04 Agustus 2016

Anakku Tak Tertarik Untuk Sekolah



Suatu hari, saya dikejutkan dengan permintaan putra ke tiga saya. Permintaan itu adalah TAK MAU SEKOLAH.
Kebetulan, kami baru saja pindahan dari Balikpapan ke Samarinda. Saya melihat dia sangat antusias saat kami mulai berkemas. Pindah mendadak, sebab ada sebuah sekolah yang memerlukan tenaga saya di sana. Berita itu hari Jumat saya terima, dan perintahnya, hari Ahad sudah ada di sana sebab Senin sudah mulai tahun ajaran baru.

Sampai di Samarinda, kami mulai mencari sekolah untuk Hilal, putra ke tiga saya. Tiba-tiba dia memohon : 'Ummi, mas tak nak sekolah."
"Lho...?!" saya menanggapinya sambil lalu saja. Saya mengira ia hanya bosan dan masih ingin menikmati libur panjangnya.

Hari berikutnya, abinya mulai membicarakan kembali tentang sekolahnya. Rupanya dia menyimak, tak pergi main seperti biasa.

Suatu malam, dia bilang; "Ummi, mas mau jadi kecil lagi. Biar bisa bobok sama ummi." 
Saya tertawa mendengar ucapannya.
Lalu, "Ummi, mas ndak mau sekolah. Biar mas di rumah saja. untuk belajar membaca Al-Qur'an saja."
"Begitu, ya?" saya bergumam
"Iya." jawabnya
"Mas punya cita-cita?" tanya saya.
"Punya, dong."
"Apa cita-citanya."
"Jadi marbot," jawabnya sambil tersenyum.

Saya terdiam. Cita-cita yang tak memerlukan ijasah tinggi. Saya mulai menghubungkan beberapa kali keinginanannya untuk berhenti sekolah. Mungkin ia serius.

Sebetulnya Hilal anak yang cukup cerdas. Sebab selama ini ia selalu masuk lima besar di kelasnya.
Sepertinya dia sangat menyadari bahwa kemampuannya tak seperti kedua kakaknya. Namun, apakah harus berhenti belajar?

Marbot adalah cita-cita luar biasa. Malam itu, saya pandangi Hilal yang tengah tidur pulas. 
Maa Syaa Allooh... Anak yang baru berusia sepuluh tahun,  tahu pekerjaan yang bisa mendekatkan dirinya dengan Alloh.

Saya bukan ibu yang mewajibkan anaknya untuk belajar ilmu umum atau ilmu fardhu kifayah. Saya hanya ingin anak-anak mempelajari ilmu yang bersifat fardhu 'ain. Ilmu yang lebih diwajibkan untuk dipelajari sebagai bekal di kehidupan mendatang.

***

Suatu sore bersama Hilal, saya memulai pembicaraan lagi tentang cita-citanya.
"Bener, mas ingin jadi marbot?"
"Iya." ucapnya
"Ingin jadi marbot. Bukan berarti mas harus berhenti belajar, bukan?"
"Tapi mas tak suka sekolah." 
"Jadi marbot juga harus tahu hukum Alloh, kan?"
Hilal terdiam
"Bagaimana, Mas?" tanya saya lagi.
"Mas mau ngaji, di TPA. Mas gak mau belajar IPA. Mas cuma suka matematika saja."
"Kalau masuk Rumah Qur'an, bagaimana?"
"Belajar Qur'an saja?" dia balik bertanya
"Insya Alloh." jawab saya.
"Tapi coba dulu ya, Mi? Satu minggu." katanya
"Lho, kalo mau coba ya harus satu tahun." saya mencandainya.
"Kalau gak tahan, bagaimana?"
"Ya, ditahan." jawab saya

Senin tanggal 1 Agustus, Hilal diantar ke Rumah Qur'an di M Yamin Samarinda. Untuk menjempun cita-citanya sebagai marbot.


Rabu, 26 November 2014

Nylon Strap Watch

Nylon Strap Watch: Nylon strap watch by Zalora, this nylon watch has a cute color, baby pink combined with gold crown-guard, perfect watch for everyday use. Casual watch that will steal everyone eyes. air this watch with white shirt, blue jeans and a sneakers for a normcore style.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LG5n7

Rabu, 05 November 2014

Sakaratul Maut


Cerpen Hilda W
Joe ditahan, ada borgol mengikat kedua tangannya. Dia jadi tersangka pembunuhan Mary. Sedang aku, menjadi saksi. Aku tahu, Joe mungkin tak bersalah. Mungkin dia hanya sebagai jalan bagi kematian Mary. Ah, entahlah bagaimana aku harus menjelaskannya.
Aku, Joe dan Mary telah lama bersahabat. Kami biasa jalan bertiga, ke mall atau diskotik. Kadang nonton ke bioskop. Selama ini kami hanya bersahabat, saling traktir bergantian, tak ada hubungan special semacam cinta-cintaan. Joe bukan tipe cowok yang diinginkan Mary, apalagi aku.
Joe bertubuh kurus kerempeng, wajahnya lumayan, bisa dikategorikan cakep. Tapi sayang, Joe bukan cowok pintar, sangat cenderung pada bodoh bahkan. Mungkin disebabkan kecanduannya pada morphine. Joe pelupa, suka tulalit, yang tulalitnya itu justru membuat ia jadi kocak. Kami berdua tahu, Joe cinta berat sama Mary.
Mary adalah temanku sejak masih di Junior High School. Wajahnya jauh lebih cantik dariku. Orang tuanya cukup kaya, dialah yang sering mentraktir kami. Dia cewek periang, nyaris tak pernah kulihat ia sedih. Kami tinggal satu kamar kost.
Hari itu Joe datang ke kost kami. Dia punya ‘barang’ dan ingin mentraktir kami. Mary dengan senang hati menerima. Maka pergilah kami bertiga, menuju hotel yang telah dipesan oleh Joe.
Di dalam kamar Hotel malam itu, aku dalam keadaan mabok berat, terbaring di ranjang. Joe duduk di tepi ranjang. Dia dan Mary hendak turun ke diskotik melanjutkan pesta, malam itu. Mary menelan ineks sebelumnya.
Tak lama setelah itu, entah datang dari mana tiba-tiba sebuah makhluk yang maha mengerikan berdiri di depan Mary. Mary histeris, aku pun ketakutan melihatnya. Aku juga ingin teriak, tapi aku tak sanggup, aku hanya menunjuk makhluk itu. Makhluk itu mendekati Mary, teriakan Mary makin kencang. Aku tak menyalahkannya sebab aku juga sangat ketakutan melihatnya.
Mungkin Mary meminta tolong pada Joe. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya teriakan yang makin lama makin keras dengan matanya yang melotot ketakutan. Joe mengira Mary sakaw. Joe benar-benar panik.
Joe membuka lemari es, semula ia mengambil air mineral dan memaksa Mary meminumnya. Tapi Mary tetap teriak, lalu ia mengambil susu dan lagi-lagi memaksa Mary meminumnya hingga tertumpah-tumpah.
Joe melihat ke arahku yang tentu tak ada harapan bisa membantunya untuk menenangkan Mary. Joe menyuruh Mary diam sebab ia tak ingin teriakan itu mengundang petugas hotel masuk ke kamar kami.
Ia mencoba membungkam mulut Mary, aku melihat makhluk itu makin dekat ke wajah Mary yang semakin histeris. Joe membanting tubuh Mary dan jatuh dekat kakiku, lalu menyambar bantal disampingku, untuk meredam suara Mary. Lamat-lamat aku melihat makhluk itu menghilang seiring surutnya teriakan Mary. Tak lama kemudian aku melihat petugas keamanan mendobrak pintu kamar kami. Lalu aku tak ingat apa-apa lagi.
Pagi ini aku melihat Joe tengah diperiksa oleh petugas. Mukanya kuyuh, ada penyesalan atau entah. Ketika mata kami beradu, ia pun menunduk. Aku tahu Joe tak bersalah, Joe tak bermaksud membunuh Mary sebab Joe mencintai Mery. Kematian Mary malam itu adalah takdir. Mungkin makhluk mengerikan itu malaikat maut. Tapi, siapa yang percaya pada omonganku? Orang yang mabuk berat?

Senin, 27 Oktober 2014

Ungkapan Sederhana untuk Istri Tercinta


M. Fauzil Adhim

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap,
Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi. 

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.


Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.


Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda
melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita rnenjerit karena cubitannva yanq bikin sakit.


Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. 

Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan. 

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang
harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.


Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa
banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.


Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?"


Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si
mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah.


Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari
kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku."


Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. 


Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. "Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah," kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk
selalu berbuat baik."


Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya, apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat rnenggerogoti wajahnya, jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya?
Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri ? Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri.


Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya.


Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.

Cinta

Cinta adalah yang kau rindu saat tiada.
Maka jangan kau siksa jika kau tak cinta
Katakan sejujurnya
Agar ia tak makin kecewa
Dan kau tak hanya memberi harapan belaka

Tujuan, Prjalanan dan Tempat

Ketika tujuan bergeser, arah perjalanan pun bergeser juga. Ketika tujuan sudah keliru, maka perjalanan akan sampai ke tempat yang salah.

Minggu, 26 Oktober 2014

Ke Taman Alun-Alun Kota Malang

bermain Bola, Adik udah ambil bola masih mau ambil ulat yang jatuh....



"Lempar, nih..." bilang adek


"Ayo dek... lempar jauh-jauh... " bilang abang

"Ummi, Sabtu depan ke mana lagi?" 


Sego Padang




Wektu iku mbah kakung kenek stroke, opname nduk RS. Wong lek loro stroke, mestine akeh pantangane masiyo wes waras.
Jare mbah kakung, "aku engkok, lek wis waras te mangan sego padang."
Jare mbah putri, "ngawur ae sampeyan iki, paaa...k. Lek stroke maneh marakno molo ae."
"Ora oraaa... Wong mek sego padang ae, kok."
"Delok en ae, lek sek tambeng. Engkok lek kumat tak tinggal minggat."
"Ojo ta buk..., yo wes engkok tak mangan sego putih ndek isor lampu, lak dadi sego padang a. Dadi, aku lak sek iso mangan sego padang, yo?"

Sabtu, 25 Oktober 2014

Kamis, 16 Oktober 2014

Juadah


dulu, setiap sore aku menunggunya pulang
bersama sepiring juadah bikinanku
yang kusimpankankan sebelum anak-anak habiskan
kini, setiap sore aku cukup membeli juadah pada pedagang gorengan
atau sebungkus roti marie
dan memakan habis bersama orang-orang yang ditakdirkan Tuhan
untuk menemaniku menanti senja di dekat pematang
namun, masih ada entah sesak atau sesal
sebab jantungku masih tertinggal dua detaknya...

Malang, 250914



 

Hantu

siapa kau, kau siapa
hadirmu guncangkan jiwa
melecut benci dan tak suka
siapa kau, kau siapa

kurapal doa doa
agar kau menjauh sejauh jauhnya
siapa kau, kau siapa
sungguh aku tak suka
sebab aku sudah ada yang punya

Rabu, 08 Oktober 2014

Dia, Orang-Orang yang Dekat di Hatinya dan Tuhan

dia mengeluhkan padaku:
bahwasanya ia selalu kesulitan
untuk mengungkapkan secara lisan
setiap keinginan
kecuali kepada mereka yang dekat di hatinya.

namun,
dia juga selalu merasa kesulitan
mengungkap kemarahan secara lisan
kepada orang-orang yang dekat di hatinya

::saya mendengar dia begitu lancar saat mengucap doa doa kepada TUHANnya::

16 September 2014

Translate